
“Gimana?“
“Mahal nih.“
“Sepatu Itu.“
“Hooh. Jauh- jauhkan tempat.“
“Ya kalah kan. Punyamu dekat.“
“Iya.“
Mereka terus menyusuri lorong-lorong di seputaran lantai atas mall tersebut.
“Makan dulu ya kan,“ ujar Jasmine yang merasa sudah lapar lagi. Maklum berputar-putar tempat yang super luas itu tanpa mendapat hasil. Akhirnya kecapaian. Makanan yang sudah masuk sebelumnya dengan segera langsung terasa habis.
“Dimana, di warung tadi?“ tanya Kintoko. Dia ingat tempat yang asik sebelumnya. Dan itu yang juga membuat perutnya cepat merasa lapar lagi. Ingin kembali ke sana.
“Mana bisa, itu lah. Yang dekat tempat nya dari sini tentu nya.“
__ADS_1
“Wah, malu aku,“ ujar Kintoko minder. Nggak biasa duduk di tempat semewah itu. Padahal bagi orang-orang sekitar warung makan itu biasa saja. Hanya mempertahankan kebersihan saja. Lagipula kondisinya terang benderang. Bukan restoran yang sedikit remang-remang dengan nuansa yang dibuat sangat khusus.
“Kenapa?“
“Gini.“ Kintoko memperhatikan pakaian nya yang takutnya sedikit norak.
“Ya nggak papa kan. Itu sudah umum di sini. Karena Cuma perbelanjaan saja. Yang penting nggak memakai baju khusus semisal baju adat atau pakaian yang sangat mencolok. Kita disini sudah biasa demikian.“
“Wah gawat. “
“Ayo!“ Karena tak bergeming itu lah makanya langsung main tarik saja.
“Eh, jangan main cakar dong.“ Kintoko hanya terseret saja. Itu yang membuat kuku panjang si cewek sedikit merobek kulit.
Mereka langsung berdiri dalam antrian yang lumayan panjang. Lagipula untuk hal begituan santai saja mereka. Hampir tak ada yang memperdulikan yang lain nya. Asal antrian mencapai depan sudah beres.
“Dah, makan yang kenyang. “
“Pakai sambal terasi. “
__ADS_1
“Mana ada sambal begituan di rumah makan ayam krispi begini,“ ujar Jasmine. Dia heran dengan selera orang ini. Nyari itu yang ada saja. Ini makanan cepat saji. Bukan yang di food court atau kampung makan yang serba tradisional namun harga nya harga toko. Karena mesti menyesuaikan dengan selera pasar. Makanya restoran begitu juga ingin menyajikan kuliner yang sudah umum di daerah, namun sangat jarang di temukan di pemukiman modern begini.
“Makanya mending di warung tepi jalan tadi saja,“ ujar Kintoko merasa kalau di sana lebih bebas dan tak ada yang memperdulikan cara makan yang tak begitu tertata juga.
Mereka memesan. Lumayan lama antrenya. Mana mangu-mangu lagi. Karena diantara mereka banyak yang berdandan ala-ala orang modern. Jadi sedikit kikuk.
Barulah setelah dapat, duduk di bangku. Dua-dua saling hadapan. Ini biasa di pakai untuk orang yang datang sedikit. Atau cuma sendirian. Makanya duduk nya juga nyaman. Beda kalau berombongan. Makanya bangku-bangku itu di tarik berdempetan supaya muat banyak, seakan tempat tersebut adalah bangku dan meja yang lebar.
Namun tempat yang sedikit itu sudah habis. Makanya mencari seadanya. Hanya ada yang empat bangku. Itu langsung di ambilnya. Daripada tidak duduk. Nanti seperti kondangan saja, makan sambil berdiri.
“Enak juga yah.“ Setelah mencicipi.
“Ya enak lah.“
Akhirnya pesan sambal terasi juga. Meskipun ayam nya sama. dAn itu pilih yang paha atas. Katanya supaya kenyang. Nasinya kalau bisa dua. Tapi karena itu di luar paket dan mesti bayar sendiri, makanya tak jadi.
“Ayo habisin. “
“Hooh, nambah nih.“
__ADS_1
“Nggak bisa, mahal.“
“Wah. “