Duda Miskin

Duda Miskin
Episode 37


__ADS_3

“Disini?“ tanya Kontoko sembari memperhatkan kondisi sekitar setelah turun dari angkutan dimana nampak keramaian yang belum pernah dia lewati saat di kota ini maupun beberapa waktu yang lalu ketika bertandang di lokasi ini juga.


“Ya,“ jawab Santuy.


“Lah, banyak buah nih,“ ujar Kintoko. Pasar ini penuh buah. Terutama di lokasi ini. Sedangkan pakaian murah dari konveksi jauh di bagian yang lain dari pasar rakyat yang murah meriah meskipun di tengah kota. Harganya demikian murah, makanya rakyat-rakyat pada suka berbelanja di pasar tersebut. Sampai terkadang di waktu tertentu saling berdesak-desakan, berhimpitan saling membutuhkan. Tentunya melihat-lihat sampai kesulitan. Dan para emak-emak yang gemar memilih sembari membolak balik dagangan sedikit membuat nek buat pembeli lain di belakang nya yang ingin segera melihat dagangan, membeli, lalu membawa pulang, jadi tak kebagian tempat hanya karena mereka ini enggan menyingkir sampai suatu waktu yang lumayan lama.

__ADS_1


“Tiap pasar ya banyak buah lah.“ Hanya saja lokasi nya yang terkadang kesulitan. Karena berdasarkan kebiasaan lokasi penjual ini juga dikelompkkan pada suatu lokasi yang khusus. Agar bau maupun kesegaran nya tak bercampur dengan dagangan lain di beberapa kios yang berbeda. Apalagi jika di campur dengan dagangan berbau menyengat, maka kondisi buah segar tersebut bakalan berbeda dengan apa yang semesti nya terjadi. Belum lagi kalau kecampuran bakteri lain yang lebih memudahkan membusuk. Itu tak bagus dari sisi penjualan. Makanya jika berada pada lokasi yang sama antar buah, maka memilih pun semakin mudah. Dan tak menguras waku jika hanya butuh bagian itu saja.


“Ini murah. Kita mau bisnis buah,“ ujar Santi yang mau menjual buah murah di pasar tersebut sembari mengecer kan ke konsumen sehingga sedikit-sedikit jika habis bakalan dapat banyak untung nanti nya. Sebab di kota yang notabene daerah ramai, maka apapun akan laku. Tak terkecuali engan benda-benda murah pencuci mulut ini. Akan jadi suatu yang menguntungkan nanti nya, serta jika di kumpulkan nanti lama-lama akan jadi bukit.


“Banyak gini, habis lu,“ kata Santi yang keheranan melihat orang - orang habis memakan buah sangat banyak begitu. Sementara kalau di jual kan dapat untung berlimpah yang tak mesti dihabiskan sendiri, demi rasa perut yang nanti menjadi tak nyaman.

__ADS_1


“Ya besok lagi.“ Namanya buah, kadang asem, kadang manis. Juga berbagai masalah yang ada waau sedikit. Tapi namanya alami tentu banyak di butuhkan tubuh pada beberapa bagian yang sangat memerlukan nya. Bagian tubuh pasti membutuhkan apa yang terkandung dalam buah tersebut. Hanya proses selanjut nya dari si buah itu yang terkadang menjadi tak berguna bagi tubuh yang sangat memerlukan andai sudah berbeda cara penanganan nya. Itu yang menjadi masalah berikut nya. Terkadang misalkan rasa asam pada buah akan jadi obat alami buat badan yang tak nyaman, tapi juga jadi berlainan bila at di buat tersebut yang sudah berbeda kondisi nya.


“Udah bawa jangan banyak cerewet!“


“Cerewet ya banyak lah.“

__ADS_1


__ADS_2