
Jalan setapak tersebut rupanya hanya memutar saja. Mulai dari sungai tadi hingga akhirnya berakhir di rumah tersebut. Walau percabangannya banyak, itu untung bukan yang diambil. Andai di ambil yang tersebut, mungkin akan menembus jalan atau daerah lain yang bukan seperti saat ini.
Ternyata ujungnya di sini...
Terlalu memang. Mesti mutar-mutar. Berkelok-kelok, menyusuri suatu yang tak pantas. Dalam tanah yang tak rata. Juga rerumputan yang seringkali mengganggu kaki, untuk menjatuhkan nya, yang sayang tak kesampaian. Karena telah waspada dan tak terburu-buru. Untungnya lagi tak menemui apa yang menjadi lawan. Kalau ketemu bukan nya akan lain. Yang tentu saja menjadi halangan serta batu sandungan untuk sampai di sini saja, serta perjalanan yang akan di belokkan ke arah berbeda. Sebab bagian terpenting dalam hidup ternyata memang hanya di tujuan itu saja. Akan jelas dan nyata. Beda kalau belum tahu arah pastinya. Bisa saja akan berbelok pada suatu persimpangan. Di situlah, persimpangan menjadi suatu pilihan. Kalau tepat maka akan menuju akhir yang membahagiakan, namun kalau keliru maka akan mencapai arah yang salah juga. Yang bisa saja ada di lokasi yang menyedihkan. Dengan kondisi jalan yang jauh lebih buruk. Atau pada kebuntuan di mana ujungnya suatu jurang dalam yang membawa petaka, atau pada tebing curam yang jika di teruskan akan membentur sesuatu yang menyakitkan. Kini akhirnya hanya di rumah itu saja.
Huh. Membingungkan saja...
__ADS_1
Kintoko kini tak bingung. Sebab sudah tahu ujungnya. Apa yang sudah ketahuan tentu tak bakalan membingungkan. Itu jika seperti saat ini. Namun proses nya yang membutuhkan kekuatan. Dalam menyelidiki nya. Mesti melewati, mesti juga besar hati. Agar apa yang di tuju di akhir merupakan perjalanan yang nampak mudah saja supaya bisa dengan tegar menjalani nya. Hidup itu demikian, apa yang nampak menakutkan, tak semestinya di biarkan mengganggu bahkan sampai menghalangi. Akan menjadi akhir pada suatu perjalanan yang belum usai. Di sinilah kemantapan hati harus terus di kuat kan. Sehingga bisa mencapai akhir dengan perjalanan yang usai juga.
Lalu Kintoko masuk ke rumah tersebut. Rumah dimana nyonya Mela menyewa. Jangan-jangan orang yang di cari memang berada di tempat tersebut. Maklum jalan nya memang menuju ke lokasi tersebut. Kalau memang sama satu pikiran tentu nya. Tapi jika lewat di percabangan setapak sebelumnya, maka mesti di ari lagi, mesti membalik, serta harus meneliti lagi arah yang berbeda. Dan yang jelas musti mulai dari awal. Dengan suasana yang tak bakalan hilang seperti saat ini. Kengerian dan ketakutan untuk bertemu dengan orang yang mengerikan dengan senata yang bisa saja akan mencelakakan nya. Yang mungkin hanya edera saja namun lebih jauh bisa saja merenggut pada kematian nya yang sangat tak mengenakkan itu.
Dalam rumah tersebut nampak si Jasmine ada di sana. Tengah duduk bengong seorang diri.
“Tidak perlu.“
__ADS_1
“Kenapa?“
“Itu...“
“Hah...“
Nampak si Putri tengah tergantung di tempat yang sama saat pertama kali korban di temukan. Rupanya dia di situ. Dia kembali dari sungai di mana dia menghilang sebelum nya.
__ADS_1