
“Kemana kita?“ tanya Kintoko setelah kendaraan itu melaju lumayan jauh dengan mobil lain yang saling berseliweran menuju ke lokasi yang tengah mereka inginkan. Tak banyak kendala memang kalau sudah berada di lajurnya. Yang terkadang sulit kala hendak keluar atau saat hendak menaiki tengah jalan yang terkadang sudah di tutup oleh kendaraan lain di belakang nya supaya kalau mengalah juga akan tersingkirkan oleh kendaraan lain yang berebut itu. Makanya supaya lancar terus saja mengikuti bagai ekor ular saja yang tinggal menurut yang di depan.
“Ikut saja jangan cerewet!“ ujar Jasmine yang malas sekali kalau harus menerangkan sama orang kampung begitu duda lagi, bakalan panjang urusan. Tak jelas apa dan mengapa mesti awal urusan kala menerangkan nya. Lagian bakalan sulit untuk langsung paham akan dunia yang semestinya sedikit beda. Namun bagaimana lagi. Tentu akan asik kalau mesti menemani dan ada kawan bicara. Sementara yang diajak bicara lumayan sulit. Ini lumayan gawat juga bagaimana memulai perbincangan kalau sudah dengan pikiran sendiri sendiri yang sudah larut dengan rencana masing masing.
__ADS_1
“Ya kan nanya doang,“ ujar Kintoko seraya enggan untuk terlampau di permasalahkan. Bagaimana tak penasaran kalau tiba-tiba di ajak tanpa pemberitahuan lebih dulu. Sementara dia tengah asik mendapat pekerjaan baru yang asik di warung Nyonya Santuy nanti. Sedangkan kali ini tujuan saja belum tahu. Namun asik juga bisa kembali jalan-jalan melihat kota dengan lumayan tenang. Apalagi kendaraan di buat nyaman. Dengan pendingin mobil yang sangat kuat. Sehingga sedikit menggigil. Mana pakaian dia hanya sekedarnya. Namun dia diam saja tak ingin terlampau mempersalahkan mesin yang memang bisa di setel dari ruang kemudian tersebut. Yang jelas terasa nyaman. Bayangkan kalau mati sebentar saja, maka terasa mobil mewah itu bagaikan kaleng yang di bakar dari luar. Baik oleh matahari, maupun oleh cuaca yang berbaur polisi kendaraan yang terus saja mengeluarkan gas buang yang sangat tak nyaman serta menaikkan suhu lingkungan tersebut. Meskipun sudah banyak pepohonan baik yang di tanam pemkot maupun oleh pihak pribadi pemilik halaman luas, namun karena pengguna yang mengeluarkan benda berbahaya itu melebihi kapasitas, membuat segalanya seakan tiada arti. Dan akhirnya hanya bisa mendiamkannya untuk sampai di malam berikutnya yang sedikit di bersihkan oleh waktu dan suasana seraya membiarkan dingin malam turut membantu agar tak banyak pengguna yang memfungsikannya pada jam-jam pekat itu.
“Orang suruh nemenin, malahan banyak nanya,“ kata Jasmine. Di terus fokus pada jalan yang tak pernah sunyi. Jalan yang sibuk dengan pikiran sendiri-sendiri juga. Menuju lokasi tercepat. Karena berebut cepat itu, makanya membuat malahan tak bisa cepat. Akibat saling membutuhkan lokasi yang tak muat kalau secara berbarengan hendak menggunakan nya untuk berbagai keperluan yang memang sebanyak orang pengguna jalan tersebut. Sehingga terkadang membuat macet yang suit di hindarkan. Dan itu terus berlanjut hingga nanti tiba di lokasi yang di tuju nya.
__ADS_1
Dia hanya diam mengikuti mobil mewah yang membawanya terus menyusuri daerah perkotaan yang padat penduduk dengan gedung gedung mewah. Namun terkadang di desain secara klasik yang nampak seram kalau di lihat dari luar begini.
Itu tak membuat mobil berhenti. Baru henti kala ada lampu merah. Atau pada simpang jalan dimana mesti mengular pada suatu lokasi sunyi.
__ADS_1