Duda Miskin

Duda Miskin
Episode 60


__ADS_3

“Renang,“ ujar Kintoko.


Setelah berada di suatu kedung, pada sebuah sendang dimana airnya menggenang lumayan banyak. Sementara di kedua ujungnya ada aliran air untuk datang dan membuang. Air datang itu berada pada sisi sisi bebatuan keras yang tak terseret arus seakan batu itu tanpa ujung. Jadi menyatu dengan bumi. Jadi tak bisa diangkat, kecuali di hancurkan oleh tangan manusia yang menggunakan pasak atau dengan mesin pengebor serta remuk batu. Jika alam sendiri akan butuh waktu yang sangat lama untuk bisa membentuknya menjadi pecahan kecil. Karena sangat keras serta sudah ada demikian selama ratusan tahun dan begitu terus bentukannya tanpa berubah.`makanya tidak heran jika bentuk yang tak berubah itu menjadi penanda sebuah lokasi. Misalkan batu hiu atau batu gantung. Karena bentuknya semacam ikan mengerikan dan batu yang tergantung di atas sebuah ketinggian yang jika di pandang dari satu sudut nampak menggantung. Walau kalau di selidiki dari dekat bisa saja bentuknya sangat berlainan. Itu karena pandangan manusia akan alam yang sangat terbatas. Dan itu menjadi suatu tempat di kemudian waktu termasuk nama sungai yang melintasi nya karena sangat mudah di hafal. Baik oleh orang sekitar maupun untuk orang jauh yang ingin datang ke tempat tersebut, akan mudah mengingat nya serta menjadi petunjuk lokasi secara jelas.


“Dasar bodoh.“ kata jasmine. Tak menyangka. Kalau di luar sana juga tak paham akan daerah tersebut. Kan di daerah sungai sangat banyak. Tapi untuk hal demikian mungkin sedikit beda. Bisa saja mereka akan langsung main masuk saja, untuk mandi karena air yang berlimpah serta pergantiannya lumayan lambat. Jadi enak saja untuk di pakai segala aktifitas baik mandi, cuci, serta MCK lain nya.

__ADS_1


“Kenapa?“ Kintoko tak paham.


“Cukup pakai gayung.“ Jasmine mencontohkan. Air itu tinggal diambil pakai gayung. Sama saja seperti dalam kolam dalam kamar mandi. Yang memenuhi gayung yang seringkali di bawa nenek-nenek horor. Cuma kali ini bentukan nya dari plastik. Tak ada yang dari batok kelapa. Sudah jarang di temukan. Batok kelapa itu mendingan buat di bakar menjadi arang yang bisa untuk membakar sate. Kalau gayung plastik selain di pasar, di warung, di toko-toko juga sangat banyak. Sangat mudah mengadakannya selain bentuk varian nya juga sangat banyak.


“Nggak renang?“ kalau renang kan enak. Juga bisa sembari menari ikan-ikan yang ceria di dasar nya. Ikan liar yang tanpa pemilik. Tentu sangat nikmat untuk suasana dingin begitu sembari membakar nya dan menjadikan santapan di kemudian waktu sembari memakan ketela goreng.

__ADS_1


“Ya enggak. Ini kali gunung yang sunyi, jadi cuma ambil air saja. Karena sampai dasar tidak terlampau dalam. Serta air nya sangat deras.“


“Kirain rendam.“ Kayak di Kolam renang kan demikian. Bisa main air secara sembarangan. Juga kalau di kali kota yang hitam juga biasanya begitu bebas. Juga bisa salto, terjun dari atas pohon di tepi kali, atau di atas jembatan. Semua bebas. Alirannya lancar. Di sini ternyata beda.


“Kotor kan.“ Akibat kotoran di bawah naik. Makanya di sebut kotor. Termasuk pasir sungai serta tanah yang terseret arus. Walau sedikit akibat tak banyak. Kebanyakan justru batu besar dan beberapa yang lebih kecil namun tak kuat air membawanya. Makanya dasarnya juga jernih.

__ADS_1


__ADS_2