Duda Miskin

Duda Miskin
Episode 98


__ADS_3

“Jadi sering ada orang hilang di situ?“


“Ya.“


“Wah bisa begitu yah?“ ujar Kintoko. Kalau barang yang hilang sih tinggal nyari lagi. Atau semisal benda yang di selipkan di salah satu barang bawaan karena ada yang bisa memasukkannya tanpa di curigai, maka akan di selipkan ke situ. Jadi tinggal kebingungan yang kehilangan. Lah ini orang. Bagaimana mau menyembunyikan atau menyelipkan. Pasti akan berteriak dia. Selebihnya bakalan di cari tahu sama pihak keluarga atau kerabat dekat yang punya ahli waris.


“Itulah makanya kita mesti nyari,“ kata Jasmine.


“Oke.“ Kini Kintoko semakin paham akan tugas yang mesti dia lakukan. Harus secepatnya mendapat barang bukti agar bisa secepatnya juga mengetahui bagaimana keadaan mereka yang hilang. Apakah tersembunyi di suatu tempat atau memang sudah jadi mayat yang mengerikan. Ini akan segera di ketahui kalau bergerak secepat yang dia mampu. Sebab kalau hanya diam, apa yang bisa di dapatkan. Layaknya pagar hitam di depan mereka itu, tentu ada yang menghitamkannya. Walau itu bukan pewarna, kotoran yang menempel juga akan bisa membuat seperti itu. Demikian juga kasus ini, tak ada warna jika tak ada yang berusaha mewarnai. Tak ada akibat bila tanpa sebab yang menjadi awal mula.

__ADS_1


“Oke aku akan masuk,“ ujar Kintoko yang jika langsung di tangai maka kisah itu juga akan cepat usai, tanpa pikir panjang lagi tentunya. Beda hal jika hanya berdiam diri terus, dan hanya memperhatikan rumah yang sunyi sepi tanpa ada orang satupun yang melintas.


“Sebentar, perlu hati - hati.“ Jasmine memperingatkan. Setidaknya kalau hal itu yang dilakukan tentu akan mendapat hasil yang maksimal, tanpa perlu menderita sesuatu yang sangat mencelakakan atau lebih jauh lagi sampai membahayakan diri yang akan bertindak ini. Hal demikian yang patut mendapat perhatian. Jadi semuanya berjalan lancar.


“Kenapa?“


“Wah, orangnya mengerikan,“ ujar Kintoko memperhatikan yang datang tersebut. “Itukan si Doni?“


“Tak tahu, kayaknya iya,“ ujar Jasmine. “Atau orang lain. Lihat dari poto yang nampak samping itu adalah Guntur.“ Dia mengeluarkan poto-poto yang tercetak. Aneh sekali. Dia mempunyai banyak poto. Sejumlah orang yang ada di rumah tersebut. Memang hal ini sedikit merepotkan. Karena mesti main cetak. Sementara kalau hanya ingin memandang wajah, bukannya lewat hp atau sosmed bakalan dengan mudah memperhatikannya. Ini barangkali supaya tak kentara serta gambarnya lebih tak mudah hilang. Karena dengan alat canggih, kalau kehabisan baterai, atau jatuh, bisa saja alat itu sudah akan menghapus data yang mestinya nampak. Ini yang sedikit membuat langkah sedikit merepotkan. Karena harus ada kegiatan untuk menghasilkan apa yang kali ini mereka pegang itu.

__ADS_1


“Wah namanya saja mengerikan. Pasti dia biang keladi semua kasus tak mengenakkan ini,“ ujar Kintoko. Tapi biasa, orang kampung begitu dalam memprediksi sering tak benar. Jadi apa yang dia ucapkan terkadang hanya sebagai sesuatu yang dianggap angin lalu. Dan jauh dari yang sesungguhnya. Makanya dia sal mengira berdasarkan bentuk luar dan yang nampak saja dari apa yang di lihat kini.


“Ya belum tentu,“ ujar Jasmine.


“Tapi jalannya sempoyongan begitu.“


“Namanya juga pemabuk ya demikian.“


“Wah, dia terus saja melintas, tanpa memperhatikan kita,“ ujarnya lagi, melihat orang itu masuk lewat pintu berpagar hitam yang nampak kokoh dan misterius tersebut.

__ADS_1


__ADS_2