
“Tuh lihat yang nggak punya kemampuan di larang ke kota,“ tunjuk Jasmine pada sebuah baner kain yang dipasang memanjang di tepi jalan. Disitu jelas tertulis kata-kata yang baru saja dia ucap kan. Hal ini mungkin karena memang banyak kasus yang membuat mereka, para pencari rejeki ini sedikit terhambat, baik kebutuhannya maupun keseharian nya. Sehingga masalah sosial tak jarang menjadi buntut dari awal yang sudah tak baik itu. Sebab orang-orang desa juga menginginkan kehidupan mapan seperti yang tergambar dari berbagai media tentang kehidupan di tempat ramai begitu yang kelihatan nya lebih mapan serta perekonomian yang sangat maju. Juga nampak dari mereka-mereka yang setelah pulang dari kota langsung mengenakan pakaian yang demikian mewah bagi mereka dan masyarakat pada umum nya, karena di situ tak ada. Dan hal inilah yang kemudian membuat mereka tergiur untuk mengikuti gaya hidup demikian. Juga tak selamanya setiap manusia menyadari apa kebutuhan mereka. Kalau miskin pakai kaos, sedangkan jika kaya pakai jas. Tak bisa begitu pengertian dasar dari apa yang menjadi keinginan mereka. Maka pengertian kalau mempunyai rejeki yang berlimpah akan merasa makmur, akan lebih bisa di terima oleh akal mereka sebagai orang kekurangan.
“Wah, padahal gua baru datang.“ Seperti kebanyakan orang di daerah nya, maka belum mau pulang jika belum mendapatkan hasil. Kalau pun belum makmur dan mendapat penghasilan banyak, setidaknya sudah ada hasil lebih dari saat keberangkatan nya dulu.
“Makanya punya kemampuan, pengalaman, apa lu?“
__ADS_1
“Waduh apa ya? Paling pengalaman menduda.“
“Yah, nggak membantu itu.“
“Habisnya, masa baru sampai suruh pulang.“
__ADS_1
“Terus kalau sampai rumah, mobil siapa lagi yang aku jual,“ ujar Kintoko kebingungan. Dia di situ juga hasil beli mobil satu satunya yang biasa dia pergunakan kalau hendak bepergian agak jauh. Kalau Cuma dekat sih jalan kaki atau naik angkutan juga banyak. Meskipun di daerah, namanya transportasi begitu kan sudah menyebar. Karena sekarang justru yang di daerah-daerah itu yang tengah laku. Akibat tergesernya berbagai angkutan umum oleh alat transportasi lain yang lebih modern dengan pengaturan administrasi yang lebih tertata juga. Misalkan kereta, sekarang kalau beli bisa langsung menggunakan kartu. Sehingga akan dianggap berlangganan. Itu akan memudahkan buat yang sehari-hari naik alat transportasi itu. Namun juga tak merugikan si pemilik angkutan. Karena sudah ada pemasukan. Yang bakalan habis dalam waktu tertentu, dipakai atau tidak, semua sudah seharga itu. Jadi untuk mesin yang sudah lama dan layak buang bakalan di manfaatkan untuk kepentingan di luar kota yang tengah membutuhkan alat itu namun biayanya masih terjangkau. Kalaupun bukan masalah biaya, kalau di tempat yang jalanan nya masih rawan, akan mudah rusak juga barang baru. Makanya anak orang akan senang-senang saja meskipun bukan naik barang baru. Akibat baru atau lama di tempat yang kacau, rasanya sama saja.
“Ya beli dulu lah,“ kan gitu. Kalau tidak punya ya mesti beli. Kan biar punya.
“Masa baru beli langsung di jual, ribet amat pikiran lu.“
__ADS_1
“Tahu lah.”