
“Yuk ah, Kita coba aja selidiki ke rumah Si Bela.“
“Bela apa Dela?“
“Bela lah yang masih hidup.“
Bergegas mereka menuju ke arah rumah yang di maksud. Sampai akhirnya tiba di sungai dekat rumah mereka itu. Sejenak bakalan menyeberang.
“Yuk cepat.“
“Sebentar, sungai ini kenapa indah yah?“
“Iyalah sungai.“
Terlihat air dari gemericik nya begitu mempesona. Seakan tak terusik dengan kejadian-kejadian mengerikan di atas sana. Bahkan yang pernah menghiasi di sekitarnya. Sungai itu tetap tenang. Dan membiarkan airnya terus mengalir. Dan apa yang berlindung di bawah air tetap saja di biarkan hingga tanpa ada yang berusaha mengusik nya. Atau tetap begitu sepanjang tak di rusak keberadaan nya oleh tangan-tangan yang cenderung membuka keburukan bagi kelangsungan si sungai yang tenang ini.
“Bagaimana kalau kita mancing lagi. Mungkin di bawah jembatan gantung bakalan banyak ikan.“
“Mana ada, ramai orang nanti.“
Mereka mengambil pancingan yang kemarin masih ada yang tertinggal karena keburu tak di bawa. Terlanjur melihat mayat yang menggantung.
“Kita ke rumah seberang kapan?“
“Entar malam saja. Juga mahluk itu bisa jadi bakalan muncul kalau malam hari. Siang siang begini tak akan nampak dia.“
“Oke.“
“Biar tenang.“
Mereka melanjutkan rencana nya. Mancing. Dan bukan nya melacak kasus aneh. Yang bisa jadi bakalan semakin kabur kalau tak cepat-cepat. Tapi kali ini waktu yang asik untuk memancing.
__ADS_1
“Hati-hati.“ Mereka menuju ke tempat yang banyak air nya. Dengan ikan yang terkadang nampak diantara jernihnya air sungai. Dengan sisik bagian bawah yang demikian berkilau saat tertimpa cahaya.
“Sini saja.“
“Awas, banyak ikan nya.“
“Itu yang dicari.“
Dilemparkan kail dengan umpan yang menggantung. Baru sekali lempar langsung di sambar. Ikan nya kecil. Namun habis itu juga, makanan nya langsung ikut lenyap.
“Lalu kita nyari umpan.“
“Umpan terus.“
“Habis ini.“
Di cari di dekat situ saja. Kalau tidak cacing, maka udang kecil atau buah lunak bisa di pakai hanya sekedar pengisi ujung kail saja. Dapat atau tidak tak jadi soal. Namun kalau yang nyangkut besar juga bisa jadi rejeki yang bagus. Karena itu harapan nya.
“Eh ubi.“
“Tuh banyak.“
Di dekat mereka, pada tepian sungai, nampak ada banyak tanaman ubi yang sengaja di tanam di pekarangan itu oleh para peladang. Sehingga akan cepat tumbuh. Andai kekeringan, maka air tinggal mengambil dari sungai. Namun hanya pada bagian lunak dari tanah itu saja. Sebab pada bagian tepian sungai, kebanyakan tanah berbatu sebagai pembatas antara tebing dengan bibir sungai. Dimana di bagian atasnya masih ada tanah, sedangkan pada sungai itu sudah langsung ke air. Apalagi di beberapa kelokan, bakalan langsung bertemu dengan tebing batu yang keras.
“Masa makan pakai ubi.“
“Kita makan dong.“ Walau terkadang, kalau sudah di rebus, ubi kayu juga bisa di minati ikan. Jadi tinggal mengaitkan saja pada ujung pancing. Nanti ikan kelaparan akan datang dengan sendirinya. Cuma barangkali yang dapat hanya kecil saja. Untuk lele atau gabus akan sulit. Sebab mereka predator yang suka daging.
“Coba cabut.“
Kintoko mengerahkan segenap kekuatan dahsyat nya untuk mengetahui apa yang ada di balik pokok besar tersebut.
__ADS_1
“Ini ada, tapi dikit.“ Setelah tercabut, hanya ada tiba buah yang sedang saja. Dengan beberapa lain nya masih kecil, bahkan hanya akar kayu saja. Sehingga percabangan yang banyak itu tak sepenuhnya berisi buah.
“Entar gua bilang yang punya.“
“Terus.“
“Makan lah.“
Memang biasanya kalau sedang lapar-laparnya, singkong itu langsung di makan juga sudah bisa. Hanya keras dan kurang enak biasanya. Makanya lebih baik di rebus atau di goreng. Akan merasa jika sudah memasak nya. Serta membiarkan perut lebih nyaman kala menerima nya.
“Kita bakar.“
“Oke.“
Mereka mencari kayu sekedarnya saja. Di kebun banyak kayu-kayu demikian. Termasuk batang singkong itu juga. Juga terkadang ada ranting yang hanyut di sungai. Tinggal mengambil lalu masukkan ke api. Hanya sedikit sulit, karena air masih membasahinya. Bagaimanapun lama-lama jadi kayu bakar juga setelah airnya hilang.
“Sambil lauk ikan.“
“Dapat aja belum.“
“Ini.“ Dimasukkan ubi itu ke api. Ikan juga. Hanya karena sayang jika gosong makanya di tusuk pakai kayu, baru sebentar-sebentar di angkat. Serta di bolak balik.
“Yah kecil, amis lagi.“
“Makanya kita panggang saja.“
Setelah matang, lalu di makan. Menunggu dingin sedikit. Dengan ubi yang sebagian menghitam. Kalau panas begitu sedikit sulit membuka nya. Karena tangan tak kuat. Mestinya pakai kain untuk pegangan. Atau di masukkan air. Maka akan sedikit dingin. Tapi pakai kain tak ada, menggunakan baju, sayang, nanti kotor. Atau kalau di masukkan air, nanti jadi tak bagus. Bisa-bisa kena air jadi rasanya lain. Makanya mending di angin-anginkan saja dulu. Untuk sebentar kemudian bisa melanjutkan dengan membuka sedikit demi sedikit. Dan dinikmati sembari lauk ikan bakar.
“Asik yah.“
“Hehe, tanpa bumbu.“
__ADS_1
“Besok kita bawa dari rumah. Kalau perlu bawa sambal yang sudah jadi dalam tempat botol dan praktis. Atau kita bikin sambal sendiri pakai lombok mentah dicampur terasi.“
Mereka terus memakan hasil kebun sembari memperhatikan aliran sungai. Siapa tahu kail yang di tebar di makan ikan.