Duda Miskin

Duda Miskin
Episode 79


__ADS_3

“Habis.“


“Pindah tempat yuk.“ Kintoko segera menarik pancing dengan joran yang sebenarnya tak bagus-bagus amat. Hanya sisa dari para pemancing yang kebetulan saja tak di pakai. Bahkan kemarin sempat tertinggal di sembarang tempat begitu. Membuatnya semakin tak terurus. Namun untung nya masih bisa di gunakan. Sampai nampak seperti yang sekarang ini di gunakan.


“Kemana lagi?“ tanya Jasmine. Walau dia sebenarnya tak suka dengan hal demikian. Makanya sedari tadi hanya duduk saja. Dan membiarkan yang memancing. Kalaupun ada hanya diletakkan saja. Dia lebih nyaman duduk sembari memandang alam yang indah. Kalau jenuh sudah lama menatap sekelilingnya, karena seperti biasa, walau sekitarnya indah, maka akan membuat jenuh juga, dia lalu rebahan untuk memejamkan mata. Sekejap. Walau tak tidur, namun bisa membuat rileks pikiran.


“Nyari yang ada ikan nya dong.“ Bagaimanapun kalau sudah tak mendapat ikan, pinginnya mencari lokasi lain. Meskipun para pemancing terkenal akan ketahanan nya yang begitu sabar dan telaten pada lokasi yang sama demi menunggu ikan. Namun kalau lama tak dapat, atau hanya menghasilkan sedikit, maka biasanya juga akan mencari lokasi enak lain nya supaya bisa mendapat lebih banyak lagi pada satu lokasi yang demikian menjanjikan itu.


“Sini saja sambil bakar ubi.“ Rasanya masih nyaman berada di situ. Walau sudah lumayan lama juga berada di tempat demikian. Maklum segala waktu bisa terlupakan walau hanya di tempat sepi, namun nyaman. Sedikit teduh karena berada di bawah rimbun pohon, juga bebatuan nya sedikit datar, maka enak buat di jadikan tempat duduk atau di pakai untuk rebahan. Makanya untuk meninggalkan tempat itu hanya demi lokasi lain yang belum tentu nikmat akan kesulitan.


“Entar nyari lagi. Macam pisang yang baru di tanam atau buah lain.“ Yang jelas, namanya pemancing mesti mencari lokasi yang banyak ikan nya. Ibarat kata jemput bola. Jadi harus mendekati ikan yang butuh makanan. Bukan nya hanya sekedar menunggu untuk di datangi si ikan. Itu yang kebanyakan para pemancing lakukan agar mendapat hasil tangkapan yang sangat banyak. Kalau tak demikian, hanya berada di lokasi sekedarnya, bisa-bisa semalaman tak akan dapat ikan.


“Ya lah. “

__ADS_1


Tapi...


“Nah lihat!“


Baru saja mereka melangkah meninggalkan tempat yang sebelumnya mereka pakai buat mancing serta membakar hasil kebun. Kini ada hal mengerikan di hadapan mereka. Dua teman yang saling berhadapan.


“Dia malah tengah berantem dengan Putri.“ Benar. Ternyata orang yang rumahnya hendak di datangi nanti kalai ini sudah kelihatan. Serta berada di dekat mereka. Barangkali saja memang sudah lumayan lama mereka di sana. Hanya karena tertutup oleh kelokan sungai serta bebatuan tinggi dan rimbun semak di sekitar sungai yang membuat mereka tak melihatnya. Serta gemericik air membuat suara orang tak demikian kentara.


“Astaga semakin gawat ini.“


“Tak kena. “


Dan putri membalas dengan tembakan.

__ADS_1


“Ih duel yang mengerikan. “


Begitu seru keadaan nya. Andai ini sebuah film. Maka bakalan menjadi tontonan menarik. Tapi ini rekan sendiri. Sesama teman. Mesti di pisah. Agar tak terlampau larut dalam bencana yang sangat menyeramkan begitu. Sehingga keduanya bisa mati. Pantas mati. Ini tak bisa di biarkan.


“Wah Dia melihat Kita.“


Nampak si Bela memandang dua orang itu.


Dengan serta merta, dia mengarahkan panah nya pada Kintoko.


“Awas panah!“ teriak Jasmine.


“Dia malah memanah kita,“ panah itu deras meluncur ke arah kedua orang yang baru datang melihat.

__ADS_1


“Untung tak kena.“


__ADS_2