
“Putri.“
“Dia juga bunuh diri.“ Seperti yang dia bilang sebelumnya, kalau semua orang saling bersahabat itu mati dalam kondisi yang dilakukannya sendiri. Maka tak beda juga dengan kondisi korban terakhir. Dia juga melakukannya. Walau ada faktor yang mempengaruhinya, namun itu semua dilakukan akibat dirinya sendiri.
“Lah...“
Kintoko heran. Bukannya dia yang mengejar sampai kebingungan itu. Masih lari-lari. Bermusuhan dengan si Bela. Dan di temukan di rumah ini dengan dia, yang kini biara di hadapan nya. Maka akan nampak suatu peristiwa yang melatar belakangi perbuatan demikian.
“Saat kita kembali, Kau menyusuri jalan yang salah. Aku langsung pulang ke rumah yang di sewa ini. Dan mendapati si Putri tengah merenung di kursi ini,“ terang Jasmine. Namun si Putri tak pernah tahu kalau dia yang melakukan nya. Pikirnya justru si bela yang paling mungkin melakukan nya. Makanya khawatir. Dan menyerang orang tersebut. Terutama saat pertemuan di tepi sungai. Akibat yang masih tersisa hanya dua orang itu. Dan kini akhirnya semua sirna. Getar pertemanan pun jadi tak ada. Memang ada kalanya pertemanan akan jadi satu alasan untuk berbuat yang sama. Tak terkecuali dengan kejahatan yang berusaha saling menutupi. Itulah makanya akan semakin lama peristiwa apa yang tengah mereka rahasiakan sepanjang tak ada yang mengungkapkan dan menceritakan ke pihak lain. Dan kini pertemanan yang keliru itu mesti berakhir dengan hal yang tak wajar.
“Seperti biasa, aku berbicara tentang masa lalunya, yang membuat dia tertegun. Dan bunuh diri,“ kata Jasmine.
__ADS_1
“Lalu....“
“Lalu dia menggantung di sana, sampai kau datang.“ Yang kini nampak, si Putri telah berada persis di mana sebelumnya beberapa orang melakukan nya di tempat tersebut. Suatu papan melintang dengan posisi yang mudah untuk mengaitkan tali. Itu yang jadi tempat banyak orang melakukan nya di situ. Walau tak semuanya. Namun lebih dari satu berada di bagian tersebut. Karena memang bisa buat melakukan nya. “Itu.“
“Apa kau tak takut melakukan itu?“ tanya Kintoko.
“Kenapa?“ ujar Jasmine.
“Karena seperti di luar sana, orang yang mengajak bunuh diri bersama sama dan mengetahui orang bunuh diri namun tak ikut mati, bakalan kena sanksi. Termasuk sebagai kriminal.“
“Itu di luar sana.“
__ADS_1
“Sama saja,“ ujar Kintoko. Baginya hal demikian sama saja. Sama - sama mengetahui. Apalagi penyebabnya bisa jadi memang kata-kata si perempuan ini yang menyeret semua korban melakukan hal mengerikan tadi. Juga demikian banyak yang jadi korban. Satu orang saja jika itu urusan nyawa, maka banyak yang akan memperhatikannya, apalagi ini, banyak. Tentu menjadi suatu berita yang menggemparkan. Apalagi di luar sana banyak orang yang serba ingin tahu. Serta kabar cepat menyebar dengan banyaknya berita yang bisa dilakukan pribadi, tanpa perlu ke suatu media besar yang seperti dulu, kalau menulis membutuhkan waktu panjang dan pengeditan yang rumit juga.
“Makanya kamu diam dong,“ ujar Jasmine tetap tenang. Semua rupanya sudah ada dalam pemikiran nya yang misterius itu. Misterius orangnya yang demikian.
“Bagaimana bisa diam, kalau di suruh mengaku dengan kuku di copot, otak di pindah ke perut, tengkuk di pukul pakai kunci inggris.“
“Ya malah bisa inggris.“
“Meledak lah ini leher,“ kata Kintoko. “Tentu akan mengaku anak orang.“
“Diam dong. “
__ADS_1