Duda Miskin

Duda Miskin
Episode 114


__ADS_3

”Nah ke pegang luh,” ujar Kintoko terus berusaha memegang leher lawan supaya bisa di piting dan dibawa menghadap ke depan si cewek.


”Yah lolos kembali,” Guntur terus mengelak, dan berusaha lepas dari pitingan. Soalnya bakalan tak mengenakkan kalau kena. Apalagi peluhnya terus menetes, membuat leher juga licin. Ini yang membuat dia sulit di tangkap.


Kintoko terus saja menerjang Si Guntur.

__ADS_1


Dia memainkan berbagai jurus yang sama sekali kacau. Tak terarah. Serta tak bisa ditelusuri dari perguruan mana orang itu menuntut ilmu. Sebab suatu gerakan jurus, walau terkesan sama, amburadul namun ada sesuatu yang berbeda serta menunjukkan iri khas dari gerakan andalan tersebut. Dengan demikian sebuah khas tersebut akan menambah kepopuleran sebuah perguruan, serta membuat minat masyarakat semakin besar untuk bergabung ke dalamnya. Dengan harapan mereka juga mampu menguasai jurus tersebut. Walau terkadang banyak diantaranya yang ingin ikut karena merasa punya persekutuan, sehingga akan lebih aman jika bergabung ke dalamnya dari keusilan pihak lain yang beda perguruan atau justru orang luar yang sama sekali tak punya ilmu, tetapi sangat nakal dan membuat keresahan di hati para kawula, sehingga rasa resah tersebut akan bisa menjadi hiburan yang menghibur saat open mic. Bukan, keresahan yang sangat mengganggu ketertiban sepertinya. Sehingga rasa itu tak bisa hilang serta merta. Sampai kelompok lawan yang menang akan terus memburunya untuk menghabisi sampai ke akar-akarnya. Dan membuat kegelisahan terus melanda.


Main cakar, lalu gigit, bahkan dorong. Itu yang dilakukan. Biar ada perlawanan serta tak mau mengalah demikian saja. Walau tentu saja akan langsung kena diskualifikasi jika ketahuan dari yang berkepentingan karena tak ada aturan yang jelas. Asal main serang saja, serta keberanian doang yang jadi andalan meskipun sebuah keberanian membuat beberapa persen sebuah kemenangan. Karena dengan berani orang akan melakukan suatu usaha dan usaha inilah yang berikutnya membuat kemenangan akhirnya bisa teraih. Tanpa usaha, sebuah kemenangan tentu hanya akan dianggap sebuah omong kosong, bahkan ada kalanya hal demikian sesuatu yang tak mungkin. Untuk itulah segala upaya dilakukan demi menghasilkan kemenangan yang bakalan teraih setelah melihat hasil akhir nya nanti.


”Namanya orang kampung, kan bebas,” Kintoko terus beralasan. Dia sekarang sudah tak perduli lagi. Yang penting bisa menang saja. Makanya gigitannya semakin dia perkuat. Apa-apa yang bisa di gigit, maka itu yang dilakukan. Baik tangan, kaki, maupun perut, andai kena akan langsung dia lakukan. Melihat hal demikian, si guntur ikut mau menggigit. Namun Kintoko berusaha mengelak. Sebab tak enak rasanya kena gigitan orang mabuk. Bisa-bisa infeksi berat dan terluka parah. Makanya saat mulut Tur mendekat, langsung dia dorong kepala itu sehingga akhirnya terjadi jarak.

__ADS_1


”Enak saja. Gue yang mabuk. Mestinya kan gue yang ngawur,” ujar Guntur merajuk. Dia merasa semestinya lebih kacau. Orang nggak sadar. Tapi mengapa lawan justru yang beralasan aneh. Ini benar-benar d luar dugaan.


”Nyatanya gue bebas.” Kintoko terus saja menyerang tanpa memperdulikan lawannya yang sedang berteriak-teriak. Antara kesal, sakit dan kliyengan.


”Gawat.”

__ADS_1


__ADS_2