
“Nah, kita mampir ke warung itu dulu yuk,“ ujar Kintoko merasa sudah lapar.
Lagi.
__ADS_1
Karena semula dia merasa baru minum. Bahkan baru sedikit sudah di komentari yang enggak-enggak. Makanya mesti makan lagi supaya perut tak bunyi saat duduk berbarengan wanita cantik.
“Mana?“
__ADS_1
“Tuh.“ Dia menunjuk pada suatu warung yang kecil. Biasanya ramai. Tapi di pilih yang nggak biasa. Sepi. Mungkin untuk waktu ke depan bakalan ramai lagi. Masa nya makan. Antara pagi siang dan sore itu yang biasa banyak warung dikunjungi. Makanya di berbagai tempat untuk warung makan akan di penuhi dengan kursi-kursi yang banyak walau nampak sepi pengunjung. Yang hanya satu dua saja yang melintas. Atau duduk di pojokan sambil minum es jus doang. Tapi di waktu tertentu itu yang langsung banyak yang duduk memutari meja makan lesehan. Dan kursi yang di tengah dibiarkan kosong. Serta merasa sendirian seperti tumpeng dengan para penikmat makanan berada di meja tepian seraya berdesakan sembari ngobrol ngalor ngidul saat menikmati santap siang nya.
“Nggak pernah? Lu orang kaya, kan ngga mau ke tempat begituan.“ Lukito memprediksi kalau dia memang demikian. Serta bahkan ada larangan yang terjadi di segelintir orang kalau singgah ke tempat begitu kebersihannya kurang. Gizi yang tersaji juga menurun, tentunya di bandingkan tempat yang bener. Tapi tentunya nggak bakalan keluar dari mulut tertentu. Sebab berpengaruh juga pada rejeki si pemilik makanan dengan modal tak banyak. Lebih jauh nya akan mengurangi pendapatan mereka. Walau kalau pun tak terbendung kata-katanya, nggak bakalan berpengaruh buat si ibu kaya yang menghendaki anak jajan di lokasi nyaman. Karena memang masih punya banyak simpanan. Setidak nya pengaruh itu datang buat mereka, si miskin, yang mencari rejeki dengan alat sederhana, lokasi terjangkau , dan sebisa yang dilakukan. Disini mereka biasa mencari. Itu juga hasil mereka. Dengan ketelatenan nya maka tak heran bila lama-lama mendapat hasil yang berlimpah. Dengan rumah dan tanah yang banyak di lokasi lain. Terutama pada kampung halaman nya. Karena rejeki kota yang lumayan itu akan sangat bermanfaat jika di jadikan suatu hasil di kampung nya. Sehingga, orang kaya yang awal nya dari desa, juga bakalan merasa kasihan kalau untuk urusan demikian. Sudah sangat paham dia.
__ADS_1
“Ya memang jarang.“
Tapi akhirnya mau mencoba. Dikira nanti tak mau mampir ke daerah yang kurang layak. Maklum jalan sama orang kampung. Mesti mengikuti juga keinginan itu. Sebab kalau tidak, bakalan terjadi miss komunikasi. Sehingga nggak bakalan nyaman untuk besama nanti nya.
__ADS_1