
“Jadi kawah nya mana?“ tanya Kintoko yang biasanya kalau ada kasus di hubungkan dengan apa yang sudah pernah mereka lihat sebelumnya.
“Nggak ada kawah kali ini,“ jelas Jasmine. Masa semua harus di hubungkan dengan kawah. Kan tak mungkin. Itu hanya suatu tempat wisata yang karena demikian menarik menjadikan semua orang pernah berkunjung, atau setidaknya sangat banyak yang sudah datang ke lokasi itu guna menyaksikan bagaimana isi perut bumi suatu saat bisa keluar, bagaikan sebuah kasus yang bisa keluar di waktu berikutnya, kala semua data sudah penuh. Dan akhirnya akan memancar keluar. Tapi tentu saja suatu perbuatan tak bisa selalu di hubungkan dengan apa yang berjalan di sekitarnya. Terkadang suatu peristiwa itu memang berjalan seperti se-wajarnya saja.
“O begitu.“ Kintoko mulai paham. Memang benar, apa yang berkembang tak selalu harus berhubungan dengan kisah sebelumnya. Ada kalanya semua itu berjalan apa adanya.
__ADS_1
“Nah untuk selanjutnya, kita tinggal menelusuri bagaimana dia dengan meyakinkan membuat darah perempuan itu tetap abadi,“ jelas Jasmine. Dia kembali kepada kasus yang berkembang dalam rumah misterius itu.
“O.“
“Lah.“
__ADS_1
“Sebab ada kalanya seseorang meluapkan suatu kepedihan dengan berbagai cara supaya bisa melenyapkan apa yang mengganjal di pikirannya. Terkadang ada seseorang yang mengusap darah suaminya dengan sebuah kain, dan kain tersebut akan di bawa kemanapun dia melangkah pergi. Sehingga apa yang ada di dalam pemikirannya tersebut senantiasa masih melekat. Dan bayangan tersebut terus mengiringi dalam perjalanan hidupnya.“ Terkadang kain dalam darah itu di bawa kemana tempat dia berada saat itu. Dalam tempat tidur, di lokasi yang akan dia pergunakan menghabiskan waktu. Kalau tidur kain darah itu di bawa dekat dia istirahat. Atau ke rumah yang baru akan dibawa serta. Jadi dalam bayangannya, sang terkasih masih saja mengiringi perjalanan nya dalam menghadapi kerasnya kehidupan seakan ikut serta selalu dan mengatasi segala kesulitan sebagai tempat keluh kesah dia yang sudah dekat dengan penciptanya.
“Begitu.“
“Dengan si Doni ini, dia pergunakan darah asli yang di campur dengan bahan kimia khusus agar warnanya tetap seperti itu. Lalu menyuruh si guntur yang pandai melukis tersebut untuk membentuk karya dari campuran darah itu agar menjadi lukisan. Dia merasa sesuatu yang sebenarnya menyeramkan ini adalah indah. Tak perduli dengan lukisan tersebut. Walau di buat abstrak atau bukan, yang jelas dia hanya memandang lukisan itu sebagai istrinya yang sudah pernah berkhianat. Karena demikian cintanya dia padanya. Walau sudah berbuat terlalu jauh, tapi dia ingin selalu melihat. Dan dalam lukisan itu dia bisa menumpahkan segala khayalan kala menatapnya.“
__ADS_1