Duda Miskin

Duda Miskin
Episode 72


__ADS_3

“Coba kita cek.”


“Ayo.“


“Dimana.“


“Duduk di luar lah.“

__ADS_1


Mereka menuju ke luar. Mencari tempat dimana bisa dengan leluasa memandang langit. Karena dengan demikian akan jelas apa yang melintas itu.


Lampu-lampu di redup-kan. Atau di padamkan sama sekali. Dalam kondisi gelap, apa yang semestinya hanya redup saja akan nampak sedikit dalam mata mereka. Beda kalau suasana terang. Apa yang kalah dengan cahaya lampu mereka, tetap saja akan tak nampa, walau sebenarnya sudah terjadi sesuatu misteri. Itu yang membuat mereka mesti menajamkan pandangan mereka.


“Kalau nanti ada yang nampak. Dia nanti akan kelihatan sangat cemerlang. Di luar sana,“ kata Kintoko menjelaskan hubungan nya dengan mahluk aneh yang kemungkinan memang mengganggu mereka yang tengah asik berkumpul di tempat tersebut. Bagaimana tidak aneh, kalau sudah jauh-jauh datang ke lokasi tersebut hanya untuk saling menggantung. Ini benar-benar sangat misterius. Apalagi dalam berbagai kejadian nampak banyak kejanggalan. Terkadang ada bekas luka di tubuh. Ada lubang-lubang di dinding. Dan itu menunjuk semacam senjata yang di ledakkan. Yang tentu menambah misterius peristiwa yang tengah mereka alami. Hingga kintoko yakin kalau hal mistik tengah terjadi di seputar mereka. Sebab banyak di seputar mereka yang masih meyakini banyak kegiatan klenik yang masih di lakukan. Misalkan menyanyikan lagu jaran goyang, main semar mesem, atau jelangkung. Semua itu masih di percaya orang-orang sekitar untuk di gunakan sesuai dengan kepentingan mereka. Sehingga kalau berhasil, maka kegiatan itu akan dilakukan oleh orang lain supaya hal serupa juga bisa berhasil dengan baik. Dan bila semakin banyak yang sukses, membuat semakin banyak juga yang yakin kalau cara-cara aneh yang berhubungan dengan misteri itu benar-benar berjalan dengan baik.


“O begitu.“

__ADS_1


“Ya ayo.“ Mereka terus mencari posisi terbaik guna mengamati apa yang berkembang di luar rumah mereka. Jangan-jangan memang sangat sesuai dengan intuisi yang biasa di rasakan. Terutama oleh masyarakat desa yang terbiasa dengan suasana mistik yang begitu kental di pikiran mereka.


“Nah kita duduk sini saja.“ Mereka duduk pada tatanan batu yang sengaja di letakkan sedemikian rupa menyerupai sebuah tempat duduk yang rapi dan sangat nikmat kalau tengah bersantai. Baik siang maupun pada sore menjelang malam. Rasanya nyaman sekali. Meskipun pemandangan tak langsung mengarah di jalan, tapi akan melihat banyak tanaman yang nampak indah kalau di pandang dari posisi itu dengan sudut yang lumayan jauh serta hanya hijau daun yang nampak. Jadi di rasa akan menyejukkan mata. Serta seakan ada vitamin tersendiri meskipun tak mesti meminum apa yang di jual bebas pada suatu toko.


“Sini.“


“Ya. “

__ADS_1


“Mana. Nggak ada,“ ujar Jasmine yang sama sekali tak melihat apapun selain bintang-bintang yang nampak bertaburan di atas mereka. Pada langit gelap yang hampir tanpa penerangan sama sekali.


“Sabar dong,“ ujar Kintoko. Kalau perlu membawa teropong. Jadi akan nampak jelas keanehan yang terjadi di atas rumah mereka. Dan mahluk aneh itu akan langsung ketahuan oleh mereka. Apalagi merasa pernah belajar pada apa yang berhubungan dengan ilmu dukun tersebut. Walau hanya membaca saja. Setidaknya meyakini kalau hal misterius demikian memang terjadi terutama di daerah sunyi sepi begitu, sesuai dengan adat yang sudah terbiasa di lakukan oleh orang - orang kampung tersebut.


__ADS_2