
”Kok kesini?” tanya Kintoko.
”Kenapa?”
”Beda jalur ini,” ujar nya memastikan kalau kali ini berbeda dengan jalan mereka datang. Namun sangat menyimpang jauh.
”Kita mampir sini.”
”Waduh, belanja begini, mampir ke toko gede.”
”Nggak papa. Sudah biasa itu.”
”Ih...”
Mereka masuk.
”Masa barang begini mau di bawa masuk.” Kintoko ragu akan banyak barang yang tengah dia bawa. Demikian kentara dan sangat tak nyaman rasanya untuk menuju ke lokasi yang sangat mewah namun membawa seperti itu.
”Kita titip di penitipan barang.”
”Memang barang begini boleh?”
__ADS_1
”Ya boleh, asal kita diam saja.”
”Wah...”
Mereka menitip buah-buah besar itu di penitipan. Hanya membawa card dan di masukkan saku.
”Cukup.”
”Keringatan gua.”
”Bau.”
”Hooh...”
”Ketahuan dong.”
”Nggak papa.”
Sert...
”Ih wangi.” Beberapa kali semprot.
__ADS_1
”Sudah.”
Dicoba lumayan banyak parfum gratis itu.
”Eh ada yang lewat.”
”Dari CCTV juga kelihatan,” tunjuk Kintoko pada benda yang nongol di pojokan ruang. Kenapa mesti curiga pada karyawan yang tengah melintas di dekat mereka. Walau kondisi di operator belum tentu bagus, tapi untuk tempat yang demikian besar dan ramai, pastinya akan selalu dijaga kondisi nya supaya kamera bakalan fit terus sepanjang di buka nya pusat perbelanjaan itu. Sebab jika ada kekeliruan maka akan menjadi kacau di akhirnya. Yang akhirnya justru yang tak bersalah yang akan kena rugi.
”Ditutup dong.” Santi mencoba melindungi teman nya supaya tak nampak kalau lagi pakai yang gratis. Walau gratis namun jika pemakaian nya kebanyakan bisa kena tegur juga. Mana tak membeli barang mahal itu lagi. Kan rugi.
”Ih...”
Stt...
”Lagi ah. ”
”Banyak amat, baunya aneh nanti,” ujar Santi memperingatkan. Bisa-bisa orang-orang bakalan melihat terus ke sumber bau jika mereka lewat dengan aroma yang bercampur aduk namun tak jelas aroma apa. Walau semenjak awal juga tak bakalan ada yang memperhatikan. Kecuali penjaga di pintu depan. Itu juga Cuma mengontrol suhu dan mengecek barang bawaan. Kalau sudah di dalam mana mau tahu. Mereka ini bakalan lebih asik memperhatikan diri sendiri yang tengah senang masuk ke ruang mewah dengan rasa tak nyaman andai pada diri sendiri ada kekurangan. Jadi asik saja mereka jalan-jalan. Atau bakalan lebih asik memperhatikan ponsel yang bisa dipakai buat komunikasi dengan teman dari pada bengong kala melintas ruangan demi ruangan yang sunyi.
”Hehe...”
Mereka berlalu.
__ADS_1
”Wah ada yang mahal nih,” tunjuk nya sembari melihat benda sangat bagus dengan merek ternama namun tengah diskon sangat besar. Meskipun begitu harga yang tertera masih terlampau mahal buat mereka yang hanya ingin jalan-jalan saja.
”Jangan ah. itu bisa buat makan seminggu.” Mungkin lebih baik bisa makan daripada punya barang mewah namun seminggu itu mesti puasa. Makanya masih butuh pikir-pikir. Walau belum tentu besok atau lusa menemukan barang bagus seperti itu lagi. Ya kali sudah laku, atau harganya naik lagi seperti kondisi semula, bukankah akan kecewa jika sangat menginginkan benda itu, tapi tak berhasil mendapatkan nya.