Duda Miskin

Duda Miskin
Episode 34


__ADS_3

“Yuk.“


“Udah.“


“Ya.“


“Tinggal pulang sudah kenyang.“


“Kalau belum.“


“Beli lagi.“


“Cemilan tuh yang snack naga.“


“Emang anak kecil, main asap gitu,“ ujar Kintoko yang terus memandang anak-anak sembari menelan ludah juga. Namun jelas malu kalau ingin makan demikian. Sementara anak-anak itu dengan santai nya makan lalu mengeluarkan asap sembari hak-hak.

__ADS_1


“Kan siapa tahu penasaran.“ Biasanya demikian. Kalau makanan jenis baru, seneng anak orang di kasih begituan.


“Ya enggak lah. Orang sering merokok aku. Kalau kurang asep, tinggal pakai rokok elektronik, kan asapnya banyak namun tak mengganggu orang hamil.“


“O. “


Mereka terus jalan menuju tempat parkir.


“Eh bentar.“


“Ada apa?“


“Apa?“


“Banyak di kampung tuh.“ Walau di pusat perbelanjaan mewah, di beberapa lantai akan menyediakan tempat guna mengapresiasi jajanan kampung yang bisa membuat pengunjung ingat akan kampung halaman. Makanya di food cord atau pusat jajanan rakyat akan menyajikan kuliner-kuliner lezat yang asli masakan daerah tersebut. Di samping itu harganya sangat-sangat terjangkau. Walau biasanya tetap lebih mahal dari yang di jual di pasar tradisional, namun di pasar modern begini lidah mereka serasa kembali ke kampung. Sehingga setelah nya masih bisa ngomong bahasa asli nya.

__ADS_1


“O pecel. Katanya kenyang.“ Banyak begituan. Memang asal nya dari situ. Karena bahan nya memang mudah di peroleh jika berada di pedesaan yang kesemuanya kebanyakan dari ladang. Sedikit di olah. Serta di matang kan, untuk kemudian di campur dengan di siram pakai kuah sambal yang pedas menggigit. Maka pandangan langsung akan sumringah dengan pikiran juga tak kembali mengantuk serta loyo. Itu yang membuat bergairah.


“Sedikit saja. Itu kan nggak membuat perut bengkak,“ ujar nya tanpa memikirkan jika makan banyak. Karena kebanyakan makan tersebut hanya satu porsi. Jika sampai lima porsi juga sudah terbayang rasanya. Namun karena biasanya di buat pedas, maka makan nya akan cepat-cepat supaya segera masuk ke perut. Jadi rasanya Cuma sedikit.


“Ya sudah kita beli. Makan nya Sambil jalan.“ Karena memang kebiasaan kalau nyemil di tempat mewah dan umum begitu sambil jalan. Sehingga banyak makanan yang memang sengaja di buat praktis agar bisa di lakukan sembari jalan-jalan.


“Ya nggak enak makan begituan sambil jalan,“ ujar Kintoko yang jarang melakukan nya. Apalagi di daerah tentu bakalan jadi omongan orang.


“Lalu?“


“Duduk.“


“Mana ada tempat duduk.“ Karena memang kebanyakan lokasi di tiap toko akan di fungsikan semaksimal mungkin demi penjualan yang memenuhi tempat yang mereka sewa. Setidaknya akan laku satu dua, dari sisa lokasi yang ada. Kalau di biarkan kosong bakalan sayang. Nanti tak akan menutup modal untuk membayar sewa lokasi. Sehingga kursi-kursi juga tak banyak. Di lakukan seminimal mungkin. Juga kebanyakan para pembeli hanya melintas saja. Atau sama sekali tak masuk ke toko guna mengunjungi daerah dengan dagangan tertentu itu. Makanya untuk hal demikian sangat di sangsi kan jika akan ada tempat duduk-duduk yang disediakan hanya untuk makan makanan murah meriah demikian saja.


“Banyak.“ Ternyata memang ada tempat. Baik itu yang duduk, atau cukup lesehan saja dengan menggelar karpet empuk dan sangat mewah. Semua demi kenyamanan pengunjung.

__ADS_1


“Ya sudah.“


Sejenak mereka makan lagi nasi pecel buat mengingat kejadian di kampung. Walau ini di tempat mewah.


__ADS_2