Duda Miskin

Duda Miskin
Episode 55


__ADS_3

“Nah kita ke desa yang dimaksud,“ ujar Jasmine. Mereka kembali ke mobil. Lalu bergerak menuruni gunung tersebut serta balik arah di lokasi yang mengundang nya.


“Eh, gue ini orang desa, terus ke kota mau nyari kerja, malah kau bawa ke desa lagi,“ kata Kintoko. Enggan sekali rasanya menuju ke suatu daerah yang sama saja suasana nya dengan yang ada di kampung asal. Sebab selain mencari rejeki bisa jadi ingin ke luar daerah untung mencari suasana yang sangat berbeda. Dan tempat ramai itulah yang di tuju. Namun mesti balik arah ke suasana sepi. Jelas tak ada tambahan pengalaman lagi nanti nya.


“Yo ndak papa to,“ ujar Jasmine. Sesekali katanya. Kan selama ini dia jarang ke tempat sepi. Makanya suatu hal yang menarik ini mesti di jalani dengan asik.


“Terus turun nih kita.“

__ADS_1


“Sesekali naik juga.“ Walau naik gunung, yang namanya turunan tetap ada mengikuti kerutan bumi yang tak sama rata. Dengan bagian-bagian keras nya yang enggan di ratakan oleh udara dan situasi alam. Makanya hal itu membuat kondisi tetap ekstrim. Juga supaya tak bosan juga dalam kondisi yang ekstrim. Juga karena titik tersebut begitu jauh dari ujung daratan. Kalau mungkin jaraknya tak terlampau jauh, maka posisi yang setara juga bisa di perkirakan. Hanya saja kali ini tak demikian. Sangat jauh. Makanya cenderung melandai. Namun ada juga beberapa bagian yang menanjak. Kalau menuju kemari, maka tanjakan itu menjadi sangat tinggi. Tapi kalau sebalik nya maka akan banyak posisi turun nya. Itu sudah logika alam.


“Kebanyakan turun tapi, soalnya ke sini juga naik mulu dari awal.“


“Ya iya namanya ke puncak ya naik.“


“Kalau turun terus begini, rem bakalan jebol ini.“ Bisa di bayangkan, bagaimana terus bergesekan antara kanvas karet dengan roda besi yang pasti tergesek kala di pergunakan. Untuk posisi demikian maka akan sedikit demi sedikit mengurangi rem tersebut. Juga rem angin yang di fungsikan akan mengurangi bahan akibat gesekan juga. Apalagi pas di suatu posisi ekstrim. Maka akan semakin tipis bahan itu. Walau sekuat apapun, yang namanya bahan material yang di pakai maka akan berkurang juga. Hanya ketahanan bahan asal yang bisa mengurangi resiko tipis tersebut. Beda dengan yang asal asalan tentunya. Pasti bakalan langsung habis di pakai. Entah di posisi jelek, atau di lokasi yang manis. Tetap saja akan di fungsikan alat yang vital tersebut. Dan pada tempat begini semakin habis nanti bahan asal tersebut.

__ADS_1


“Sayang nanti.“


“Nggak papa.“


Mereka terus melakukan perjalanan nan panjang. Ada naik, ada turun. Seperti kehidupan yang butuh naik dan seringkali turun dengan sangat tajam. Karena tak selamanya posisi orang stabil. Sebab untuk menuju ke suatu tujuan pasti bakal ada banyak tantangan dan rintangan. Kalau naik dianggap suatu tantangan, maka turn adalah sebuah kebaikan. Begitu juga jika suatu turunan merupakan tanaman, maka sisi baik adalah ketika naik. Sebab naik dan turun seringkali bukan hal baik, namun tak sepenuhnya juga jelek. Karena dua hal berbeda tersebut suatu saat sangat di butuhkan dalam menghadapi kehidupan yang panjang itu.


“Menyimpang disini kita.“

__ADS_1


“Iya lah. Itu asal kita tadi.“


Di suatu simpang mereka membelok. Berbeda dengan arah awal mereka berangkat tadi. Langsung ke lokasi undangan.


__ADS_2