
“Lalu?“
“Yang ada tinggal kita,“ ujar Jasmine.
“Jadi?“
“Aku.“
“Hah, Kau...“ Kintoko terkejut.
“Hum.“
“Jadi kau itu iblis pencabut nyawa, mahluk yang membawa nyawa mereka semua?“ tanya Kintoko. Padahal dia sudah sangat khawatir dengan wanita pandai ini. Namun kenyataan nya dia demikian. Dia sebelum nya sangat takut, khawatir, kalau-kalau wanita tersebut bakalan di bunuh dengan senjata yang mengerikan di tangan orang yang kini tergantung itu. Atau di bawa oleh mahluk yang nyatanya tak ada. Kenyataan nya, semua hanya sebuah peristiwa yang di perbuat oleh wanita aneh ini.
“Mereka bunuh diri semua,“ jelas Jasmine meyakinkan diri, bahwa mereka yang tergantung itu dianggap bunuh diri semua.
__ADS_1
“Tapi kau yang membuat nya kan?“ tuduh Kintoko. Dia kini mulai sadar, bagaimana orang sebanyak itu mati dengan cara menggantung diri semua. Itu tak mungkin. Walau banyak orang yang di gantung perkawinan nya, tapi kalau leher yang tergantung, maka bakalan membuat keanehan. Dan ini yang mestinya dia sadari. Sayang, otak nya sebelum ini, tak mampu menjangkau ke sana. Yang kini ada, hanya kesedihan yang tak perlu menakutkan lagi, namun patut di sayang kan. Sebab, sudah tahu siapa mahluk pencabut nyawa di tengah reuni para zombie itu. Makanya dari belasan kelas yang ada namun hanya orang-orang itu saja yang di undang.
“Aku hanya bilang tentang dosa masa lalu mereka,“ ujar Jasmine yang menganggap kalau peristiwa mengerikan yang terjadi semasa mereka menuntut ilmu di sekolah dulu, menjadi awal dari peristiwa mengerikan di reuni para zombie ini.
“Kok bisa?“ ujar Kintoko, mengapa hanya bilang kesalahan seperti itu bisa menjadi hal demikian. Bagi dia yang orang desa, dan berada di daerah terpencil, satu kesalahan tentu akan bisa di ampuni. Seberat apapun. Lihat saja orang hamil di luar nikah, juga tidak perlu sampai di lempari batu. Orang yang memperkosa di ladang jagung juga akan di biarkan. Bahkan yang melahirkan di spiteng, juga dianggap sama dengan orang lahir dalam kubur. Itu semua bisa dibicarakan, serta bukan nya mesti di gantung begitu semua. Namun ini hanyalah pemikiran dia yang hanya sebagai orang desa yang sunyi dan terpencil saja.
“Ingat, kau sendiri kan bisa aku ajak. Walau awalnya kita tak saling kenal. Ku Ajak kau kemari juga bisa.“ Memang ada kalanya seseorang akan sanggup menyeret seseorang atau lebih untuk menuruti kemauan nya. Bahkan hal ini semacam hipnotis yang seara tak langsung. Atau juga kemampuan aneh itu beberapa orang bakalan sanggup melakukan nya. Itu buruk kalau di pakai untuk sebuah kejahatan. Maka bakalan ada yang tersakiti. Misal barangnya hilang, atau justru kejahatan lain yang di buat di masa orang itu tengah terpengaruh. Dan hal ini sebenarnya bisa di pelajari. Namun tak semua orang sanggup melakukan nya. Ada kalanya orang yang baru melihat saja sudah enggan. Hal ini tentu tak akan berhasil melakukan hal tersebut.
“Kenapa begitu?“
“Wah, bukan karena aku duda kan?“ Kintoko curiga.
“Yah. Lalu apa susahnya dengan mereka semua,“ ujar Jasmine. Lanjutnya, “Ingat yang mengundang kita semua kemari siapa?“
“Mela.“
__ADS_1
“Kau tahu apa itu Jasmine?“
“Melati.“
“Itulah.“
“Jadi Mela tak ada?“
“Enggak.“
“Bilang dong Mela jangan Mela. Mela! Kan jadi bingung,“ ujar Kintoko baru sadar. Ternyata demikian. Hanya karena nama saja yang menjadi awal dari suatu kasus misteri. Dan bukan nama yang di bolak - balik untuk merujuk satu orang diantara mereka yang telah mati.
“Hurufnya kan sama.“
“Huh....“
__ADS_1