
“Hei kamu penghuni baru yah,“ ujar ibu pemilik kos sembari memandang tak mengenakkan sama penyewa nya yang tidak melakukan apapun seharian, ngejogrok bae.
“Iya dong,“ ujar Kintoko sembari meletakkan rokok di tangan. Ada saja pengganggu rupanya. Padahal dia tengah asik-asik nya menikmati hari. Daripada kecapekan seharian kemarin mencari kerja yang nggak dapat-dapat yang ujung-ujung nya memerlukan biaya transpor buat kesana kemari jika tak ingin terlalu capek.
“Yuk temenin,“ ajak nya.
__ADS_1
“Kemana?“ tanya Kintoko. Mestinya kan dia yang butuh teman. Soalnya jauh, tak punya siapa-siapa. Disini juga lagi nyari teman. Malah suruh nemenin. Ya kesulitan. Mana belum tahu kemana-mana juga.
“Daripada nganggur ya kan?“ Menganggur memang tak mengenakan. Selain tak ada pemasukan, pengeluaran mesti terjadi. Karena banyak keperluan yang tak mesti di dapatkan. Apalagi kebutuhan terus terjadi di tiap hari nya. Itu sudah memerlukan pengeluaran yang sangat menguras kantong. Jika tak ada pemasukan, bisa-bisa akan kembali dengan tak lama bertahan di lokasi tersebut. Juga menghindari omongan orang. Namanya menganggur itu bakal jadi celaan. Di kala masih sehat namun seakan tak ada gerakan sama sekali. Lagi pula apa enak nya menganggur. Hanya akan menjadi beban keluarga saja. Kalau tidak ada keluarga akan jadi beban yang lain nya. Itulah makanya banyak yang berlomba-lomba agar tak menganggur. Walau ada kerjaan tapi tak menghasilkan terkadang juga masih di sebut menganggur. Karena kebutuhan itu mesti ditutup bukan hanya dengan melakukan sesuatu yang tak menghasilkan. Sementara kesulitan mencari kerja menjadi suatu permasalahan tersendiri.
“Ih, aku kan lagi baca koran sambil sarungan. Belanja, belanja saja sana,“ ujar Kintoko yang terus asik sembari membaca koran harian kemarin sama merokok kebal kebul yang sangat nikmat nya. Hari ini cukuplah untuk istirahat di tempat baru sembari melihat-lihat situasi. Entar kalau bosan bakalan pergi-pergi lagi seperti kemarin. Kayaknya kalau cuma sehari tak bakalan puas mengelilingi kota. Sedangkan menghafal beberapa lokasi sudah sangat kesulitan. Karena banyak hiburan yang tersaji, baik sengaja maupun tidak yang kesemuanya demi bisa menggulirkan rejeki yang tak akan datang kalau tidak di jemput. Serta keramaian yang berbeda dari waktu ke waktu dan pada lokasi berbeda membuat menghafal beberapa daerah tak bisa cepat.
__ADS_1
“Bukan begitu. Aku tak tahu apa-apa ini,“ kata Kintoko antara ogah dan ogah-ogahan. Lebih baik rasanya terus duduk di teras rumah lantai dua tersebut sembari menatap lalu lalang kendaraan yang tanpa aturan dan terus saja berjalan sepanjang waktu di jalanan kota yang sempit dengan kendaraan jauh melebihi kapasitas. Di sana banyak cerita yang terjadi dari waktu ke waktu. Makanya sangat asik menonton itu semua daripada berdiam diri di kamar yang sejuk namun sama sekali tak banyak pemandangan yang ditampakkan. Paling hanya main HP sembari melihat tayangan yang semakin lama semakin menarik saja serta tak membosankan. Hanya saja kuota langsung lenyap nanti jika tak terkontrol. Tapi itu sudah cukup sebagai hiburan pengganti dengan tak banyak aktifitas, namun nyaman di kasur.
“Makanya aku kasih tahu. Kita mau bisnis ini,“ ujar pemilik sembari menggunakan fasilitas seadanya namun masih bisa bermanfaat daripada melihat cuma demikian saja di rumah nya walau telah di bayar itu.
“Bagaimana yah...“
__ADS_1
“Bagaimana? “