
“Nah berhenti di sini dulu“ ujar Jasmine. Dia segera menepikan kendaran nya setelah lumayan bergerak dari kota. Dia juga paham kalau Kintoko sedari awal sudah melirik ke luaran kaca mobil terus. Berharap akan berhenti di suatu tempat. Namun di sepanjang tol tak bisa minggir. Kalaupun menepi bisa di seruduk dari belakang.
“Sini.“
“Kita makan dulu.“
Mereka mampir di dekat sebuah stasiun kereta api.
Di situ ada tanah lumayan luas yang biasa buat parker. Lokasi nya yang strategis membuat tempat tersebut selalu ramai.
Makanya banyak pedagang yang menjajakan dagangannya.
Kebanyakan makanan.
“Dah milih apa?“
__ADS_1
“Wah apa ya, banyak sekali bentuknya.“ Selain nya ada juga buah-buahan yang Cuma di bagi beberapa buah dari satu bentuk utuh agar terasa murah serta tak terlampau membuat perut meledak andai satu buah biji besar itu mesti dihabiskan. Itulah makanya dibuat potongan-potongan yang indah. “Murah-murah lagi.“
“Itu saja,“ tunjuk Kintoko pada sebuah gerobak dorong yang tengah berhenti dengan roda yang kotor dan seakan ban nya kempis saja. Sebagai tanda kalau sebenarnya gerobak itu tek pernah di dorong. Namun di biarkan saja pada tempat itu. Untuk esok di pakai lagi. Karena memang seharian tak pernah pergi ke mana-mana hanya sebagai penanda jika gerobak itu jualan ketoprak seperti yang tampak pada tulisan di kaca yang di buat menggunakan tangan dengan hasan lakban coklat melintang agar kuat tanpa retak akibat terbentur benda keras dari seseorang yang kurang tertib saja.
“Apa?“
“Ketoprak.“
“Enggak gado-gado?“ tanya Jasmine yang Nampak nya masih banyak pilihan seperti itu didekat nya. Yang tentu nya sama-sama membuat kenyang.
“Apa pecel lele.“
“Nggak ada.“
“Ada tuh. Cuma beda penjual kalau ketoprak dan gado-gado Satu.“
__ADS_1
“Wah enak ini.“
“Kita nyari tempat duduk.“
“Hampir penuh.“
“Tapi masih ada tuh.“
“Sempit.“ Tempat duduk itu hanya ada di dekat gerobak penjual nya. Lagi pula di taruh pada satu sisi dari meja yang kecil. Banyak diantara nya yang Cuma membungkus jajanan itu saja. Lalu di bawa pergi. Mungkin lebih nyaman di makan pada kantor atau di rumah saja. Misalkan keburu waktu untuk masuk lagi kalau tengah bekerja. Jadi jika sudah di bawa ke tempat duduk, akan tinggal makan lalu membuang saja dengan mudah bungkusnya. Lalu istirahat sampai jam masuk mulai lagi. Dan jika di rumah bisa di makan dengan seluruh keluarga.
“Iya diantara para pedagang saling berdempetan.“
Mereka makan di tepi jalan tersebut. Tak berapa lama makanan dah siap. Dengan telor separo doing. Tapi banyak sekali. Piring besar itu penuh. Dengan ditambah kerupuk yang semakin tinggi saja. Dengan lahap dinikmati makanan khas tersebut. Yang jelas memang murah untuk makanan demikian saja. Di pinggir jalan dengan pajak yang juga tak terlampau tinggi. Cuma mesti hati-hati dengan kesehatan kayaknya. Karena beresiko juga. Bagaimanapun bersihnya, kalau sudah terlampau banyak udara kotor, baik oleh angina yang berhembus, atau oleh kendaraan yang lewat, lama kelamaan mempengaruhi juga makanan yang sudah matang semenjak pagi. Apalagi jika penutupnya kurang rapat, maka akan semakin cepat, kotoran itu menembus hingga makanan. Walau begitu tak semestinya para penjual itu tak memelihara yang sehat. Sebab kalau laku tapi segalanya puas, esok juga bakalan masih jualan lagi dengan menu yang lebih komplit agar pemasukan juga banyak.
“Kan enak.“
__ADS_1
“Hooh.“