
Mereka terus melakukan perjalanan panjang. Melewati banyak kelokan jalan, melewati persimpangan ramai juga.
Barulah berhenti di depan suatu rumah yang misterius.
“Mana rumah nya?“ tanya Kintoko.
“Itu.“ Tunjuk Jasmine. Pada suatu rumah dimana mereka tepat berhenti. Walau di seberangnya juga rumah, namun seakan tak saling terhubung. Begitu jauh nampaknya. Dan itu menjadikan dengan sekitarnya nampak agak asing.
“Itu?“
“Ya.“
__ADS_1
Diperhatikan dengan seksama rumah di depan mereka tersebut. Rumah yang besar. Namun terasa sangat misterius. Banyak yang mesti di selidiki dengan berbagai kondisi dalam rumah tersebut yang seakan di sembunyikan dari dunia luar. Itu yang langsung terasa saat memandang nya.
“Ih rumah berpagar hitam.“
“Iya, sono samperin,“ ujar Jasmine.
“Yah, tahu kasusnya kagak,“ ujar Kintoko. Dia tak ingin terlampau terburu-buru dengan melakukan kegiatan yang dia sendiri tak paham. Makanya mesti menelisik. Apa penyebab dan asal muasalnya sampai jauh-jauh begitu bakalan menyelesaikan kasus. Maka hasil yang di capai juga akan menyenangkan semua pihak. Kalau hanya demikian, maka bakalan menjadi suatu yang menggantung. Itu tak bagus.
Itu juga yang membuat rumah itu nampak asing dengan sekitarnya karena memang di huni oleh orang-orang yang sedikit menyeramkan. Bagaimanapun kalau orangnya suka mabuk, maka dengan sekitarnya bakalan agak sedikit asing. Orang-orang akan enggan berhubungan dengan mereka. Takut kalau-kalau ketularan. Dan lebih jauh bakalan kena masalah tentang pembiayaan juga jika terlampau dekat manakala mereka tak punya dana untuk mengadakan apa yang disukai itu, tentunya nanti akan berimbas terhadap dirinya juga. Bahkan lebih jauh akan disuruh membayar apa yang dibutuhkan itu. Terkadang pada awalnya hanya di beri sesuatu. Tapi seakan itu suatu pancingan. Untuk selebihnya akan di mintai lebih. Kalau bukan suatu langganan, maka sekali tempo bakalan di butuhkan dana besar. Itu yang akhirnya menjadi suatu beban yang sangat memberatkan kalau terjadi demikian.
“Wah serem dong.“
__ADS_1
“Ya serem. Makanya lu suruh nemenin gua,“ ujar Jasmine. Kalau sendiri, tentu akan kesulitan menyelesaikan nya. Meskipun bisa juga. Tapi jika lebih dari satu maka akan segera tuntas juga akan saling berbarengan menyelesaikan masalah tersebut. Dan seara berbarengan maka kalau menghadapi sebuah bahaya juga akan sanggup teratasi. Minimal akan saling menjaga. Dan lebih jauh lagi dalam penanganan nya akan bisa secara maksimal terselesaikan kala itu juga.
“Tunggu!“
“Tunggu kenapa?“
“Tujuh kemarin tujuh. Lu yang bikin. Ini lu lagi kan?“ Tebak Kintoko yang masih trauma dengan kejadian yang mutar begitu ternyata cewek di dekat dia sendiri yang bikin-bikin. Aneh-aneh saja orang ini. Sekarang bakalan mengajak dia lagi tentunya untuk sesuatu urusan misteri yang jangan-jangan hendak memanfaatkan dia lagi, demi selesai permasalahan sehingga melibatkan dia untuk selebihnya merasa aman dan terlepas dari sesuatu yang sangat menyeramkan begitu. Hal ini juga yang membuat dia sedikit curiga akan hal itu.
“Enak saja, kita kan bareng mulu,“ tegas Jasmine. Mangkel banget dia di tuduh-tuduh melulu.
“Alah... “
__ADS_1