Duda Miskin

Duda Miskin
Episode 28


__ADS_3

Setelah memarkir mobil di luar warung itu. Mereka masuk. Parkir nya juga lumayan sulit. Maklum lokasi yang sempit mesti berbagi dengan para pengguna yang lain. Dengan parkir demikian sudah mengurangi porsi jalanan. Yang semestinya bisa buat para pelintas jalan, sudah di kurangi.


Hanya ada satu pengunjung. itupun sudah usai. Dan lalu keluar. Dengan meninggalkan sisa piring dan gelas yang sudah habis. Untuk kemudian di bersihkan oleh si pemilik warung sembari menarik piring yang bisa di pakai setelah nya seusai di cuci bersih.


Maklum sekarang bukan saat nya waktu makan. Jadi tak banyak yang datang.


“Ayo pesan.“


Mereka duduk. Pada bangku kayu panjang yang disusun berhadapan dengan terhalang meja. Disitu banyak juga jajanan yang terhampar. Berharap ada yang lapar atau tengah menunggu lama datang nya pesanan bisa mengemil satu demi satu yang menambah pemasukan. Itu semua biasa nya hanya titipan dari para produsen makan ringan. Walau sedikit yang ada namun dari berbagai lokasi akhirnya menjadi pemasukan tersendiri buat mereka, jika dibandingkan hanya berjualan di rumah saja.


“Apa?“ tanya si pemilik warung yang dengan ramah langsung menemui dan menyapa mereka. Tanpa perlu memandang punya kendaraan atau tidak. Sebab kalau memandang itu nggak pernah ada yang datang, karena memang jarang memakai mobil. Kalaupun punya, karena jaraknya dekat, mereka hanya jalan kaki saja cukup.


“Makan.“

__ADS_1


“Apa“


“Nasi sama ini....“ Kintoko menunjuk lauk yang masih ada di piring. Banyak sekali lauk yang kesemuanya telah matang. Yang belum tentunya ada di dapur yang lumayan sempit di belakang sana. Tak nampak. Walau kadang ada juga yang lokasi sama dapur sama. Karena kios yang ada juga sempit. Ini terkadang membuat orang tak nyaman dengan lokasi yang demikian. Sebisa mungkin mestinya ditutup. Karena kebanyakan makanan cara mengolahnya demikian. Terkadang tak layak. Namun setelah matang demikian apik. Yang langsung menggugah selera dengan mengesampingkan cara membuat nya yang rumit itu.


“Yang mana?“


“Ini nih.“


“Jeroan.“


“Sama?“


“Minumnya es teh saja.“

__ADS_1


Keduanya pesan sama.


Maklum Jasmine tak bakalan pernah makan begituan. Minumnya semestinya teh jasmine dengan aroma jasmine.


Apalagi itu, jeroan. Yang biasanya tak akan di pakai sama warung makan besar. Sebab mereka hanya akan memakai untuk paha atas, paha bawah, dada itu saja. Selain itu tentu bakalan di buang. Makanya untuk dada saja bakalan lain harganya jika di beli di tepi jalanan. Bagian dalam tak akan di pakai karena selain itu kotoran juga bisa saja mengandung bakteri penyakit. Kalau urusan sayap dan kepala biasanya jika di peternakan, tempat itu yang merupakan lokasi favorit memasukkan obat lewat suntikan. Baik itu obat penyubur, anti penyakit, atau bahkan untuk vitamin. Karena itulah banyak yang khawatir kalau lewat tempat tersebut bakalan bisa menularkan penyakit pada si konsumen. Makanya lebih aman jika di makan yang gurih-gurih saja.


Tak lama kemudian sudah tersaji di depan mereka. Dengan lahap dimakan nya makanan nikmat tersebut.


“Nih Tambah.“


“Waduh. “


Ditambahnya juga.

__ADS_1


Ternyata makan di lokasi demikian juga sangat nikmat. Apalagi untuk urusan perut yang mulai lapar. Sebab urusan kesehatan akan sedikit di kesampingkan jika dibandingkan dengan ingin makan. Karena orang makan bakalan lebih sehat daripada tak makan.


Nikmat kali.


__ADS_2