
Melihat Si Guntur dalam posisi terdesak hebat, maka Doni yang sudah berdiri langsung menyerang Kintoko. Dia juga menginginkan kemenangan. Jika demikian maka posisinya akan kuat. Kalau nanti perbuatannya di laporkan ke luar, maka mereka sudah bisa lolos ke tempat yang jauh. Makanya kemenangan itu perlu. Dan salah satu usahanya adalah dengan menyingkirkan apa yang kini ada di hadapannya serta menjadi penghalang kemenangan.
”Lo, kau bagiamana?” ujar Kintoko gelagapan. Dia merasa di curangi. Tak mengira kalau yang sudah jatuh, bisa bangkit lagi. Tentu dengan kondisi yang masih kacau dengan sisa minuman yang dampaknya masih.
”Hehe, ikutan mengeroyok dong,” kata Doni tak mau tahu. Dia terus saja melakukan penyerangan. Guntur juga menyerang. Jadi Kintoko terus mundur. Supaya tangan-tangan itu tak mencabik tubuhnya. Sebab kalau lengah sedikit saja, maka dia akan tertangkap. Serta yang lain bakalan menghujani tubuhnya dengan bogem-bogem mentah yang sangat menyakitkan. Itulah yang tak dia ingin. Makanya mesti terus bergerak dengan lincah. Serta akan melakukan balasan jika ada kesempatan yang sangat luas. Serta mesti melakukan tindakan lanjutan supaya bisa memenangkan pengeroyokan itu. Namun bagaimana lagi, semua sudah berpengalaman dalam mengalahkan musuh. Dia kini yang bertambah kesulitan. Bahkan kalau bala bantuan dari luar tak segera masuk, maka akan semakin rumit posisi nya kini. Untuk lebih jauh lagi, kekalahan nampaknya sudah ada di pelupuk mata.
”Bagaimana sih. Repot aku,” ujar Kintoko seraya berusaha mengelak dari pemukulan musuh. Dia terus mundur. Kalau di belakangnya dinding, maka akan menyimpang. Sehingga jalan mundur masih ada.
”Makanya, kau mendingan menyerah dan aku piting supaya jelas kan,” ujar Doni. Mereka terus memepet musuh, yang nampaknya sudah akan menderita kekalahan yang hebat. Kalau saja bisa terpojok, maka akan mudah saja. Ibarat main catur, maka sang raja sudah hampir berada di sudut papan, untuk selanjutnya akan di tutup dengan hadangan mematikan. Tentu saja dengan serangan perwira yang kejam. Satu dengan peluncur yang jalannya lurus, serta tak terhalang, satu lagi dengan kuda yang bisa menyepak dengan posisi L nya. Itu yang akan di lakukan di suatu sudut yang menyulitkan. Makanya semua mesti di pojokkan. Sehingga akan membuat tak bisa lolos.
”Tak mau ah.” Kintoko berusaha menolak tawaran itu. Walau sakit rasa tubuhnya akibat beberapa pukulan terus saja menyerbunya. Tapi dia berusaha mengulur waktu, supaya harapannya akan ada bantuan dari luar akan segera sampai. Tapi kali ini nampaknya hal itu akan kesulitan, karena semenjak awal belum melakukan kontak dengan pihak manapun. Mereka lupa jika musuh bisa melakukan serangan balik. Dan ini yang kurang di perhitungkan. Inilah sulitnya melakukan suatu usaha tanpa perhitungan yang sangat matang. Bisa menjadi bumerang bagi mereka sendiri.
__ADS_1
”Ya jelas, akan terus di serang.”
”Huh.”
Kali ini Kintoko yang kewalahan di keroyok dari berbagai segi.
Dor.
Peluru melesat dengan cepat dan menembus dada Doni.
Doni langsung terdiam.
__ADS_1
Semua juga terdiam.
Guntur langsung mengangkat tangan tinggi tinggi. Yang lain, teman-temannya juga melakukan hal yang sama.
Pistol itu ada di tangan Jasmine. Dia yang menekan pelatuk.
Dalam kondisi lemahnya, dia masih sempat mengeluarkan peluru yang di ambil dari pistol Doni yang terlempar tadi.
“Dah mati dong.“
“Ya iya. Masa enggak.“
__ADS_1