Duda Miskin

Duda Miskin
Episode 118


__ADS_3

Mereka kerja di konveksi.


Seharian itu.


Dan senja baru pulang.

__ADS_1


"Terus mau apa kita?“ ujar Kintoko saat pulang ke rumah dan masih menunggu angkutan yang ke arah kontrakan tersebut.


Walau tak lama, namun tetap ada jeda waktu sampai mobil yang banyak itu berseliweran menuju ke arah yang sama.


Dalam posisi itu tak ada salahnya diisi dengan obrolan santai tentang diri mereka, rencana dan untuk apa selanjutnya yang mesti di kerjakan agar bisa melampauinya dengan lebih mantap serta tidak kebingungan menuntaskan segala sesuatu yang memang perlu dibicarakan sebelum bertindak lebih jauh. Atau jika perlu, andai pekerjaan yang sama dilakukan esok harinya, tentu akan semakin hafal serta bisa merampungkannya lebih cepat dibanding hari ini yang belum terbiasa serta belum ada kepandaian lebih yang bisa dilakukan secara maksimal.

__ADS_1


“Oke. “


Mereka masuk ke suatu rumah makan. Disitu masih ada nasi uduk. Yang biasanya tersaji di pagi hari. Namun sampai senja begini masih ada. Maka mereka mencicipinya. Apalagi murah. Hanya sepuluh ribu saja. Sudah ada kerupuk. Atau kalau mau mengambil tempe dan mendoan yang terhampar di meja dalam tempat yang lebar. Dan lebih nikmat lagi jika pakai goreng telur dan telur rebus manis yang semakin menambah selera, namun harganya semakin mahal, tak akan cukup hasil yang didapat hari itu hanya untuk makan enak saja. Makanya banyak orang akan khawatir jika rekannya makan enak. Sebab banyak dana yang terpakai. Sementara untuk di simpan tentu saja tak ada. Itulah makanya mending makan seadanya, tetapi masih bisa menyimpan sedikit uang.


“Ayo tambah,“ kata Santi. Mumpung di hadapan masih ada dan masih di jual bebas sebelum waktu ke depan mungkin sudah tak layak makan lagi. Jika di biarkan akan basi, tetapi kalau di panaskan melulu juga rasanya jadi berubah. Sedikit berbeda, serta bertambah keras saja. Tentunya gizi yang terkandung juga semakin punah saja.

__ADS_1


“Sudah cukup. Sedikit kasar dan tambah dingin,“ kata Kintoko mengomentari makanan yang kali ini disantap serta menjadi rejeki terakhirnya. Tentu saja jika tak ingin jajan nanti malam. Karena sebagaimana kebiasaan, kalau sudah sore begitu bakalan banyak orang yang berjualan. Makanan apa saja ada dan langsung di kerubut orang-orang yang kelaparan. Seakan pagi tadi merupakan masa buat bekerja, siang melanjutkan yang tadi sembari sedikit istirahat dan mengisi perut untuk tenaga, dan malam hanya buat istirahat. Makanya sebelum istirahat itu mesti menggunakan waktu sebaik mungkin supaya bisa memanfaatkan masa santainya tersebut dengan lebih nyaman dan perut terisi penuh guna menghadapi hari esok yang ceria serta penuh dengan jiwa kerjanya tersebut.


“Ya kali masak pagi. Yang penting belum basi,“ ujar Santi yang biasanya memang masakan demikian di masak sebelum mentari terbit supaya saat para manusia sudah kelaparan sebagai sarapan paginya sudah siap dengan lauk pauk sebagai pel-lezat makanan dasar.


__ADS_2