
Selesai makan Elna langsung ke atas tanpa membantu bi Wati beres-beres seperti biasa nya. Karena Axel sudah ngantuk merengek minta di temani tidur sama Umi nya.
"Bi saya ke atas dulu ya Axel ngantuk !" ujar Elna.
"Iya bu. Silakan " jawab bi Wati.
Fahrizi masih di meja makan dengan satu gelas puding kesukaan nya. Melihat Elna sudah naik Fahrizi langsung mengintrogasi bi Wati.
"Bi saya mau tanya. Apa isteri saya pernah ngeluh atau cerita tentang sesuatu? " tanya Fahrizi.
"Tidak Pak. Ibu tidak pernah ngeluh atau cerita tentang apa pun sama bibi! " jawab bi Wati.
"Baik bi terima kasih! " ujar Fahrizi.
"Bapak beruntung punya isteri seperti ibu Elna. Walau pun umur beliau masih sangat mudah tapi pemikiran sama tindakkan nya sangat dewasa. Selain itu beliau orang yang sangat baik. Baik kepada semua orang " ujar bi Wati sambil memberes kan piring-piring di meja.
Fahrizi hanya diam saja mendengar kan semua ucapan bi Wati. Kemudian Fahrizi bangkit dari duduk nya dan berkata
"Bik apa menurut bibi saya tidak pantas untuk ibu? ujar Fahrizi.
Bi Wati buru-buru menjawab
"Bukan begitu Pak. Maksud bibi.." ujar bi Wati.
__ADS_1
"Bibi nggak perlu jawab bi saya sudah tahu jawaban nya " ujar Fahrizi.
"Bapak sangat cocok sama ibu. Bapak sama ibu sama-sama orang yang baik. " ujar bi Wati.
"Makasih bi. " ujar Fahrizi sambil berjalan meninggal kan Asisten rumah tangga nya itu.
Bi Wati menjadi tidak enak karena telah membuat majikan nya itu mungkin sedikit tersinggung.
"Ya allah ampuni hambah jika hambah telah salah dalam berucap. Yang mengakibatkan majikan saya tersinggung " batin bi Wati.
Fahrizi naik ke atas untuk menyusul Elna dan Axel. Sampainya di atas Fahrizi melihat Elna sedang menidurkan putra mereka. Sudah beberapa hari ini Axel tidur sama mereka. Karena kini Axel mulai ngerti dia tidak mau tidur sendiri di kamar nya.
Fahrizi mendekat ke tempat tidur dan bertanya pada Elna.
"Udah kok bi. Baru aja tidur dedek Axel nya " jawab Elna.
Fahrizi ikut merebahkan diri di belakang sang isteri. Perlahan di lingkar kan nya tangan kanan nya di pinggang sang isteri.
Fahrizi lalu berbisik di telinga Elna.
"Mas mohon tetap lah bersama mas walau apa pun yang terjadi. Karena mas nggak akan sanggup kehilangan Elna" ujar nya sambil sedikit serak karena menahan tangis.
Elna berbalik menghadap suami nya dan berkata.
__ADS_1
"Mas! Elna udah sering berkata. Elna tidak akan meniggalkan mas. Kecuali mas yang meninggal kan Elna. " ujar Elna sambil memegang pipi Fahri dengan kedua tangan nya.
Fahrizi memeluk erat tubuh mungil Elna. Ya walau pun sudah menjadi seorang ibu tubuh Elna tidak banyak berubah. Dia tetap seperti remaja. Mungkin karena postur tubuh nya yang munggil.
Fahrizi selalu merasa nyaman dalam dekapan Elna. Setelah diam beberapa saat Elna berkata
"Mas jangan lagi pernah berpikir kalau Elna akan pergi dari hidup mas. Bagi Elna mas dan Axel adalah segala nya " ujar Elna.
"Terima kasih sayang. Kamu benar - benar manusia berhati malaikat " ujar Fahrizi mempererat pelukan nya.
"Mas nggak perlu berterima kasih. Karena apa yang Elna lakukan yang seharus nya di lakukan seorang isteri " jawab Elna.
Fahrizi pun tertidur dengan keadaan tetap memeluk tubuh isteri nya. Merasa Fahrizi sudah tertidur pulas Elna melepas kan diri dari pelukan suami nya. Elna berdiri menuju meja rias nya. Lalu membuka laci meja dan mengambil buku diary nya
"Dear Diary.....,
Diary...,
mungkin jika kamu bisa bicara. Kamu akan bilang Elna jika kamu rapuh jangan pura-pura kokoh. Jika kamu takut jangan pura - pura berani. Karena itu akan menyakiti diri mu sendiri.....
Diary.....,
Tapi nggak apa-apa. Ini semua ku lakukan dengan ikhlas. Aku hanya mengharapkan ridho nya Allah dan kebahagiaan putra ku.
__ADS_1
Elna menutup diary nya dan menyimpan nya kembali.