Elna Si Gadis Desa Yang Malang

Elna Si Gadis Desa Yang Malang
Terpaksa Berbohong.


__ADS_3

Elna berjalan menghampiri anak dan suami nya.


"Hallo sayang....! Umi cari ternyata di sini ya bersama Abi nya.


"Iya umi dedek Axel itu mau main di luar. Ya kan sayang " ujar Fahrizi.


"Habis ya makan nya. Pintar sayang Umi " ujar Elna.


"Iya dong Umi. Dedek itu pintar seperti Abi nya" ujar Fahrizi.


"Iya deh" jawab Elna pasrah.


"Masuk Yuk, mandi dedek nya. Abi juga belum mandi tu. Air hangat nya udah Umi siapkan juga untuk Abi" ujar Elna.


Mereka pun masuk ke dalam rumah. Fahrizi mengendong dedek Axel. Sementara Elna mendorong stroller sama bawa mangkuk makan dedek Axel.


Semenjak kelahiran Axel Fahrizi lebih sering di rumah. Bahkan untuk urusan di luar kota jika bisa di wakil kan Fahrizi selalu mengirimkan Asisten pribadi nya Robby.


Seandainya pun harus pergi Fahrizi sebisa mungkin tidak menginap. Dia selalu pulang pergi.


Seperti hari ini Fahrizi harus berangkat ke kota C. Yang waktu perjalanan nya bisa memakan waktu lima jam perjalanan mengunakan mobil. Untuk meresmikan kantor cabang yang terletak di sebuah kota kecil yang belum memiliki Bandara.


Fahrizi berangkat jam 03.00 wib dini hari bersama Robby. Mereka baru saja meninggalkan kota A menuju kota C. Tiba-tiba hujan turun sangat deras membuat jalanan licin. Dengan penerangan yang sangat minim.


"Robby seperti nya ini sangat berbahaya kalau kita lanjutkan " ujar Fahrizi.


"Tapi jika kita berhenti. Kita akan terlambat datang Pak " ujar Robby.


"Ya sudah tapi tetap hati - hati ya by' " ujar Fahrizi.


"Iya Pak. " jawab Robby sambil fokus dengan setir nya.


Sekitar 30 menit kemudian


Siiiiiiiiiiiitttt! Suara ban mobil karena rem mendadak. Mobil pun berputar hingga beberapa kali. Lalu menabrak mobil lain terjadi lah tabrakan beruntun. Membuat mobil yang di tumpangi Fahrizi dan Robby terapit antara dua mini bus lain nya.


Fahrizi mengalami benturan yang sangat kuat di bagian kepala belakang nya sehingga mengakibatkan Fahrizi mengalami gegar otak.


Beruntung Kejadian tersebut cepat di tangani pihak kepolisian dan korban segera mendapatkan pertolongan. Semua korban di bawa ke rumah sakit terdekat. Termasuk Fahrizi dan Robby.


Di Kediaman Elna dan Fahrizi.


Cetaaarrrr (suara cangkir jatuh). bi Wati berlari melihat apa yang terjadi. Saat bi Wati datang Elna terduduk di lantai.


"Bu, ibu kenapa? tanya bi Wati.


"Nggak tahu bi. tiba-tiba saja tubuh saya lemas " ujar Elna.


"Ayo bu. bibi bantu berdiri kita ke kamar "ajak bi Wati.

__ADS_1


"Iya bi. Makasih " ujar Elna.


Bi Wati membawa Elna ke kamar nya.


"Bu, ibu istirahat saja kalau ada apa-apa panggil bibi " ujar bi Wati.


"Baik bi. Makasih ujar Elna lagi.


Bi Wati kembali ke bawah untuk membersihkan pecahan gelas yang di jatuh kan Elna tadi.


"Ya allah pertanda apa ini. Semoga saja ini bukan pertanda buruk" ujar bi Wati.


Tiba-tiba Ponsel Elna yang tertinggal di meja makan berdering. Bi Wati binggung di angkat takut lancang. Tapi jika langsung di berikan kepada Elna bagai mana kalau itu kabar buruk. Bi Wati takut akan berpengaruh pada kesehatan Elna.


Elna tidak bisa kaget. Akhirnya bi Wati menjawab telepon tersebut.


"Ya hallo ! ujar bi Wati.


"Ya Hallo. apakah benar ini dengan isteri dari Pak Fahrizi? Saya dari kepolisian " ujar seseorang di seberang sana.


"Saya asisten rumah tangga beliau Pak. nyonya saya sedang sholat ada yang bisa saya sampaikan? tanya bi Wati.


"Begini bu. Pak Fahrizi mengalami kecelakaan beruntun. Sekarang beliau sedang di rawat di rumah sakit xxxx." ujar nya lagi.


"Bagai mana keadaan tuan saya Pak? tanya bi Wati.


"Beliau belum sadar kan diri sedang dalam penanganan dokter bu!" jawab Pak polisi lagi.


Bi Wati memutuskan sambungan ponsel nya. Bi Wati bingung bagai mana cara menyampaikan berita ini kepada majikannya.


Akhir nya bi Wati memutuskan untuk menghubungi mama Maryam.


"Hallo bu. Assalammu'alaikum.... " ujar bi Wati.


"Wa'aliakumsalam... bi ada apa? tanya mama Maryam.


"Ma'af bu sebelumnya. Saya mau menyampaikan kalau bapak mengalami kecelakaan. Sekarang di rawat di rumah sakit xxxxx! " ujar bi Wati.


"Apaaa? " ujar mama Maryam kaget mendapatkan putra nya mengalami kecelakaan.


"Iya bu. Saya memberi tahu ibu karena saya tidak berani menyampaikan nya kepada ibu muda " ujar bi Wati.


"Terima kasih bi. Bibi jangan dulu bilang sama ibu muda ya biar saya yang menyampaikan nya " ujar mama Maryam.


"Baik bu !" jawab bi Wati.


Mama Maryam ke kamar Dinda untuk memberi tahu Dinda kalau kakak nya mengalami kecelakaan.


"Dinda... bangun nak "ujar mama Maryam.

__ADS_1


"Masuk Ma. Dinda udah bangun kok ! jawab Dinda.


Mama Maryam masuk lalu duduk di kursi meja rias Dinda.


"Din... Kakak mu mengalami kecelakaan " ujar mama.


"Apa Ma. Kakak kecelakaan!" ujar Dinda.


"Iya nak sekarang kakak mu dalam penanganan dokter belum sadarkan diri " jawab mama.


"Bagai mana ya cara memberi tahu kak Elna mu. Mama takut penyakit kakak mu akan kambuh lagi !" ujar mama.


"Biar bagai mana pun Kak Elna harus tahu ma " ujar Dinda.


"Tapi mama rasa untuk sementara waktu biar lah. Tidak usah di beri tahu dulu. Mama takut kakak mu kambuh dek. Jika kakak mu sakit semua kasihan dedek Axel " ujar mama.


"Kalau begitu untuk sementara waktu cukup kita aja yang menjengguk kak Fahri " ujar Dinda.


"Mama rasa memang itu yang terbaik untuk saat ini " ujar mama Maryam.


"Hari ini kamu cuti aja temani mama menjenguk kakak mu" ujar mama.


"Baik Ma. " jawab Dinda.


Dinda langsung mengirim email kepada bos nya. Sementara mama Maryam bersiap - siap begitu pun dengan Dinda. Setelah mengirimkan email dia juga bersiap-siap. Setelah semua siap mama dan Dinda langsung berangkat menuju rumah sakit di mana Fahri di rawat.


Rumah sakit tersebut cukup jauh. Untuk sampai di sana membutuhkan waktu kurang lebih satu setengah jam perjalanan mobil.


Di kediaman Elna


"Bi..., tolong dong ambilkan hp saya di atas meja makan " ujar Elna.


"Baik bu. " jawab bi Wati.


Sebelum memberikan hp tersebut kepada Elna. bi Wati lebih dulu menghapus panggilan masuk tadi.


"Ini bu hp nya " ujar bi Wati.


"Makasih ya bi. " ujar Elna.


"Sama-sama bu" jawab bi Wati sambil was - was.


"Kok bapak belum kasih kabar ya bi " ujar Elna.


"Mungkin belum sampai bu. Maka nya bapak belum kasih kabar " jawab bi Wati.


"Iya mungkin bi" ujar Elna.


"Pasti seperti itu bu!" jawab bi Wati.

__ADS_1


"Ma'af kan saya bu. Saya terpaksa berbohong pada ibu. Ini demi kebaikan ibu" batin bi Wati.


__ADS_2