Elna Si Gadis Desa Yang Malang

Elna Si Gadis Desa Yang Malang
Elna Tidak Suka Manis


__ADS_3

"Mama sehat ma? tanya Fahrizi pada mama nya.


"Alhamdulillah nak seperti yang kakak lihat mama baik-baik saja" jawab mama


"Syukur lah ma. Kalau mama baik - baik saja " ujar Fahrizi.


"Din bagai mana dengan kuliah mu? Apa semua bisa kamu atasi? tanya Fahrizi pada adik semata wayang nya.


" Sampai sekarang masih baik-baik aja Kak. Masih bisa Dinda atasi semua " jawab Dinda


" Apa tidak sebaik nya Dinda berhenti kerja dan fokus dulu sama kuliah mu dek. Takut nya nanti pas semesteran kamu kewalahan harus kuliah sambil kerja " ujar Fahrizi.


" Lihat nanti aja Kak. kalau Dinda memang harus berhenti kerja ya berhenti. Tapi untuk sekarang Dinda mau jalan kan aja dulu" jawab Dinda


" Baik lah. tapi ingat kapan pun kamu mau berhenti kerja. Berhenti aja masalah kebutuhan kamu kakak yang tanggung " ujar Fahrizi lagi.


"Terima kasih Kak " ujar Dinda sambil tersenyum.


"Ya sudah sekarang kita makan yuk. ajak Fahrizi.


Mereka makan malam bersama. Bi Wati pun ikut duduk makan di meja makan.


Walau pun bi Wati sempat nolak karena merasa tidak enak. Tapi Elna memaksa nya untuk ikut makan bersama.


Selesai makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga sambil menonton tv.


Dinda yang memang tidak bisa diam. Terus bertanya seputar pekerjaan Fahrizi. Sampai akhir nya menanyakan oleh - oleh pada kakak nya.


Elna pun baru ingat beberapa baperbag yang tadi di bawa Robby belum sempat Elna lihat isi nya.


Elna pun memanggil bi Wati mintak tolong ambilkan baperbag yang tadi di taruh Elna di kamar nya.


"Ini bu" ujar bi Wati sambil menyerah kan 5 baperbag.

__ADS_1


"Terima kasih ya bi " ujar Elna


Dinda pun langsung kepo dengan isi baperbag itu.


Ternyata isi nya berbagai macam makanan khas dari kota B. Mulai dari makanan ringan sampai kue basah pun ada.


"Waah kayak nya kakak ingin lihat kak Elna gemuk deh hampir semua makanan nya manis" ujar Dinda


"Jangan banyak komen. Nikmati aja kenapa " ujar Fahrizi.


"Kakak ku sayang. Kak Elna itu kurang suka makanan manis " ujar Dinda


Fahrizi menatap penuh selidik. Karena selama ini Fahrizi nggak tahu kalau Elna nggak suka makanan manis.


"Iya tanya aja sendiri " ujar Dinda seakan paham dengan tatapan kakak nya.


"Nggak apa-apa kok mas. Kalau mas yang beli semua Elna suka " ujar Elna sambil mengambil satu potong kue dodol.


"Iya nak jangan di paksa kan nanti nggak bagus untuk Elna tambah mama Maryam menyakin kan.


Elna hanya tersenyum.


"Din dah malam nak kita pulang yuk "ajak mama


"Nginap aja ma dah malam " ujar Elna


Kalau begitu terserah adik mu aja" ujar mama


"Kita pulang aja ma. nanti ganggu lagi kalau kita nginap kakak mau kangen-kangenan tu sama kak Elna " goda Dinda pada kakak nya.


"Kamu ya dasar anak kecil sok tau loh " ujar Fahrizi sambil menjitak kepala Dinda.


Dinda pun meringis karena sakit.

__ADS_1


Tahu aja nih bocah kalau kakak nya lagi nahan rasa. batin nya sambil tersenyum devil


"Nah ayo kenapa senyum sendiri " goda Dinda lagi.


" Ya udah ma. Ayo pulang "ujar Dinda


Akhirnya mama dan Dinda pun pamit. Kebetulan Dinda bawa mobil sendiri jadi Fahrizi tidak perlu mengantar mama dan Dinda.


Fahrizi dan Elna pun kembali masuk ke dalam rumah. Karena memang sudah malam mereka langsung naik ke atas ke kamar mereka.


Elna menganti baju nya dengan gaun tidur. Elna sengaja memilih warna hitam untuk membuat diri nya kelihatan lebih menarik.


Fahrizi yang sudah menahan diri dari tadi siang akhir nya tidak bisa lagi nahan.


Di gendongan nya tubuh kecil itu di letak kan nya di atas kasur. lalu meminta izin pada sang pemilik.


"Dek mas menginginkan nya " ujar Fahrizi sambil menatap dalam isteri nya


Elna mengangguk.


Fahrizi memulai nya dengan sebuah do'a yang biasa dia ucapkan sebelum dia memulai ritual nya bersama Elna sang isteri tercinta.


Fahrizi mulai dari memberikan kecupan di kening Elna lalu turun ke pipi. Berlanjut ke bibir. Di lumatnya cukup lama bibir tipis berwarna pink itu.


Tangan Fahrizi mulai masuk ke dalam baju Elna. Di mainkan nya puncak kecokelatan itu lalu di hisap nya. Membuat Elna mendesah dan menuntut untuk segera terpenuhi.


Fahrizi semakin liar. Dia meronda setiap jengkal tubuh isteri nya hingga dia melancarkan serangan nya tepat sasaran.


Mereka menikmati kebersamaan itu. Rindu yang terpendam kini telah tercurahkan di selah aktivitas gerak nya Fahrizi kembali menghisap puncak kecokelatan itu.


Sudah menjadi candu bagi Fahrizi untuk menikmati itu. Apa lagi semenjak Elna hamil tubuh nya agak berisi terutama bagian dada nya yang menjadi candu bagi Fahrizi.


Hampir 2 jam mereka bertempur akhirnya selesai juga. Mereka mencapai puncak secara bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2