Elna Si Gadis Desa Yang Malang

Elna Si Gadis Desa Yang Malang
Makan Berat


__ADS_3

Mereka masih di kamar mandi adzan magrib berkumandang. Selesai mandi dua sejoli itu sama-sama berwudhu untuk melaksanakan sholat magrib.


Elna keluar lebih dulu dari kamar mandi. Dia menyiapkan pakaian sholat untuk Fahrizi. Kemudian dia pun berpakaian dan bersiap untuk sholat magrib berjama'ah dengan suami nya.


Begitu pun dengan Dinda dan bi Wati. Mereka sholat di musholah rumah berdua.


Fahrizi sengaja sholat di kamar karena selain kasihan Elna harus turun tangga dia tidak mau membuang terlalu banyak waktu. Sholat itu di lakukan tepat waktu itu lebih baik.


Walau pun tidak tepat waktu tidak mengulur waktu melaksanakannya jauh lebih baik.


Selesai sholat Elna turun ke bawah untuk menyiap kan makan malam. Fahrizi menemani Elna turun tangga.


Sebenarnya Fahrizi pernah mengusulkan untuk pindah ke kamar bawah dulu selama Elna hamil. Tapi Elna menolak nya.


Menurut Elna nggak apa-apa di atas. Jadi Elna bisa sekalian olahraga jika naik turun tangga.


Walau pun Fahrizi khawatir tapi dia mengabulkan ke inginan bumil nya itu. tapi jika Fahrizi ada di rumah Fahrizi selalu menemani Elna turun naik tangga.


Bi Wati dan Dinda sudah di dapur.


"Masak apa nih dedek sama bibi? ujar Elna


" Belum masak Kak baru mempersiapkan bumbu-bumbu nya. Bibi bilang masak nya nunggu kakak" jawab Dinda


"Oh! Ya udah kita masak yuk " ujar Elna


" Kita masak apa ya! ujar Elna


"Kak masak capcai udang, gurami saus tiram, Ayam ricaca, aja kak. Dinda suka kalau kakak yang masak pasti enak semua "ujar Dinda


"Kakak tambah kan satu menu lagi. Sup iga " ujar Elna


"Kalau begitu Dinda tolong ambil bahan - bahan nya di kulkas ya dek " ujar Elna


"Oke. kakak! jawab Dinda


Mereka pun masak bersama. bi Wati tukang giling bumbu sesuai arahan Elna.


Dinda bagian membersihkan bahan - bahan nya.


Elna yang menjadi koki nya. Kurang lebih satu jam mereka bekutat dengan dapur akhir nya semua menu siap di hidangkan.



Sup Iga



Ayam Ricarica


c



Capcai Udang

__ADS_1



Gurami Saus tiram


"Waaah kita makan berat ya kak malam ini " ujar Dinda.


" Nggak apa-apa dek makan berat sekali-sekali " jawab Dinda


"Oh ya dek telpon mama dulu gi. Ajak mama makan malam di sini aja " ujar Elna


" Baik! jawab Dinda


Dinda : Assalammu'alaikum.... ma. Mama lagi di mana? tanya Dinda


Mama: Mama lagi di jalan menuju rumah kakak mu! kenapa dek? tanya mama


Dinda : Nggak apa-apa ma. Kak Elna nyuruh Dinda nelpon mama untuk mkn malam di sini. bagus kalau mama udah di jalan " jawab Dinda


Mama: Ya udah mama lanjut jalan ya dek. Assalammu'alaikum


Dinda : Wa'alaikumsalam.


"Mama udah di jalan kak menuju sini" ujar Dinda


"Oh. kalau begitu kakak masih punya waktu untuk menyiapkan puding nya " jawab Elna.


Elna pun menyiapkan puding kesukaan suami nya yaitu puding buah naga.


Mencium aroma puding kesukaan nya Fahrizi pun menyusul ke dapur.


"Mmmmm... Mas mencium aroma puding ke sukaan mas nih" ujar Fahrizi.


"Makasih ya sayang. Isteri mas memang yang terbaik " ujar Fahrizi sambil memeluk Elna dari belakang.


"Iya mas. Ini kan udah kewajiban Elna sebagai isteri" jawab Elna.


Saat mereka sedang asyik ngobrol Dinda memanggil


"Kak mama udah datang ni..." ujar Dinda


"Iya dek bentar!" jawab Elna


"Mas...., ayo kedepan mama udah sampai tu " ujar Elna.


"Iya. Ayo " ujar Fahrizi sambil mengandeng Elna.


"Ma... " ujar Elna sambil menyalami mama mertua nya.


"Iya sayang. Elna sehat nak? tanya mama Maryam.


"Alhamdulillah. Elna baik - baik aja ma" jawab Elna.


"Mama kenapa ya pada hal baru beberapa jam aja mama nggak ketemu Elna. tapi seperti khawatir bangat " batin Fahrizi.


Ingin sekali rasa nya Fahrizi bertanya. Tapi dia takut salah bicara atau salah tanya. Karena memang sejak Elna keluar dari rumah sakit.

__ADS_1


Mama agak sedikit berlebihan dalam segala hal yang bersangkutan dengan Elna.


Mama Maryam sangat mengkhawatirkan kesehatan Elna. Seperti beberapa hari yang lalu sebelum acara 7 bulan nya Elna. Bi Wati di marah mama hanya karena Elna di biar kan nyiram bunga.


Pada hal itu kegiatan Elna setiap hari nya. Mama juga melarang Elna memasak. Sedangkan Fahrizi malas makan kalau bukan masakan Elna.


Mama melihat meja makan lalu bertanya


"Siapa yang masak ini semua " tanya mama.


Semua terdiam. Kemudian Elna menjawab


"Dinda sama Bi Wati Ma. Elna hanya beritahu bumbu nya aja " jawab Elna.


"Kakak jangan dulu masuk dapur ya. Kalau kakak bosan masakan bi Wati kan bisa dilevery " ujar mama.


"Iya ma! jawab Elna.


"Kita makan sekarang yuk nanti keburu dingin makanan nya" ajak Fahrizi.


Mereka pun makan bersama termasuk bi Wati juga ikut makan malam bersama mereka.


Ini yang membuat bi wati sangat mengagumi majikannya dan keluarga. Mereka tidak pernah membedakan antara pembantu dan majikan.


Mereka juga tidak segan makan satu meja dengan pembantu.


Bi Wati sangat bersyukur bertemu majikan sebaik Fahrizi dan keluarga nya.


Di kediaman Fahrizi dan Elna. bi Wati tidak di perlakukan seperti pembantu melainkan seperti keluarga.


Tidak ada yang namanya majikan makan dulu. Pembantu belakangan. Mereka selalu makan bersama kecuali kalau memang bi Wati yang belum mau makan.


"Seandai nya. Semua orang memiliki sifat seperti Pak Fahrizi dan Ibu Elna. Tidak akan ada sejarah pembantu itu hina"


batin bi Wati sambil mengunyah makanan nya.


Selesai makan malam mereka bersantai di ruang tv. Mama nonton sinetron kesukaan nya sinetron yang menceritakan seorang suami berselingkuh saat isteri nya sedang hamil tua.


jiwa mak - mak nya mama bangkit saat nonton sinetron tersebut.


"Ini contoh laki-laki Brengsek ni Kak. nggak boleh di ikuti " ujar mama.


Fahrizi hanya diam saja.


"Kalau kakak seperti itu. Mama tidak akan pernah mema'afkan nya" ujar mama.


Fahrizi tetap diam. dalam hati nya berkata


"Ma seandai nya mama tahu kalau anak mama ini telah melakukan kesalahan yang sangat patal. Apa mama benar - benar tidak akan mema'afkan nya?


"Mama tenang aja ma. Kakak itu tidak akan melakukan hal keji seperti itu " ujar Dinda


Fahrizi merasa tertampar atas perkataan Dinda. Namun dia menyembunyikan perasaan nya itu karena dia tidak mau semua nya curiga pada diri nya.


Elna hanya tersenyum mendengar ucapan mama dan Dinda. Elna memperhatikan suami nya yang dari tadi hanya diam saja.

__ADS_1


Fahrizi sibuk dengan laptop nya. Tanpa memperdulikan perkataan mama dan Dinda.


Jejak jejak


__ADS_2