Elna Si Gadis Desa Yang Malang

Elna Si Gadis Desa Yang Malang
Pura-Pura


__ADS_3

Setelah memutuskan sambungan telepon nya Fahrizi langsung mengambil kunci mobil dan berlari kegarasi.


"Bik jangan lupa tutup garasi ya" ujar Fahrizi.


"Baik pak " jawab bi Wati.


Fahrizi melajukan mobil nya dengan kecepatan di atas rata-rata. Fahrizi sudah tidak sabar ingin bertemu Elna. Dia mulai merasa kan khawatir atas apa yang terjadi pada Elna.


Sampai di rumah sakit Fahrizi langsung menuju kamar di mana Elna di rawat. Dokter sedang memeriksa keadaan Elna.


"Keadaan ibu Elna cukup baik tidak ada yang perlu di khawatirkan " ujar dokter Anton.


"Alhamdulillah kalau begitu dok. Terima kasih " ujar mama.


"Sama-sama bu. Kalau begitu saya permisi dulu " ujar dokter Anton.


"Silakan dok " jawab mama dengan sedikit membungkuk sambil tersenyum.


Beberapa saat kemudian Fahrizi masuk keruangan rawat Elna.


"Assalammu'alaikum Ma... " ujar Fahrizi.


"Wa'alaikumsalam... " jawab mama.


"Bagaimana keadaan Elna Ma? tanya Fahrizi.


"Isteri mu belum sadarkan diri. Dokter bilang ada kemungkinan nak Elna mengalami koma. Karena keadaan nya saat ini dalam keadaan stres. Itu akan memicu kesadaran nya" ujar mama sedikit berbohong pada Fahrizi.


"Fahrizi duduk di samping ranjang rawat Elna. Di tatap nya wajah pucat sang isteri.


"Ma'af kan aku jika aku telah terlalu banyak melukai perasaan mu. Mungkin aku bukan lah laki-laki yang tepat untuk mu" ujar Fahrizi.


Mama mendekati putra nya. lalu memegang pundak Fahrizi.


"Apa sekarang kakak sudah ingat akan isteri mu nak? tanya mama.


"Fahrizi nggak tahu Ma. Tapi terkadang dia masuk dalam ingatan Fahri. Setiap dia muncul dalam ingatan Fahri menunjukan kalau dia itu orang baik " ujar Fahrizi.


"Isteri mu memang orang baik nak. Bahkan dia terlalu baik " ujar mama.


"Semoga ingatan mu segera pulih sebelum semua nya terlambat " ujar mama.

__ADS_1


"Maksud mama apa Ma? tanya Fahrizi.


"Isteri mu itu mengidap penyakit yang kapan saja bisa merengut nyawa nya. Dia tidak bisa terlalu stres. Jika stres itu akan memicu kambuh penyakit nya " ujar mama.


"Apakah separah itu sakit nya Ma? tanya Fahrizi.


"Iya " jawab mama sambil memandang senduh wajah yang tengah terlelap tersebut.


Perlahan Fahrizi meraih jemari Elna. Di genggam nya tangan tersebut.


"Ma'af kan aku yang telah melupakan mu dan membuat diri mu menderita. Aku memang belum terlalu ingat. Tapi di sisa ingatan ku ini aku semakin yakin kalau kamu adalah orang yang istimewa dalam hidup ku. batin Fahrizi sambil mengecup punggung tangan Elna.


Elna yang sebenarnya sudah sadar merasakan setiap sentuhan suami nya. Sentuhan yang beberapa bulan terakhir ini tidak lagi dia rasakan. Namun saat ini sentuhan itu kembali Elna rasakan. Sentuhan yang penuh kelembutan dan kasih sayang.


"Mas terima kasih telah mengingat ku kembali " batin Elna.


Tidak terasa butiran bening mengalir dari sudut mata Elna. Fahrizi melihat itu merasakan sesak di dada nya. Fahrizi menghapus air mata itu dengan tangan nya.


"Jangan sedih lagi. Karena aku nggak sanggup melihat air mata ini lagi " ujar Fahrizi sambil mengengam erat tangan Elna.


Mama dan Dinda yang menyaksikan itu perasaan nya campur aduk antara sedih dan bahagian. Sedih karena melihat penderitaan yang di alami Elna dan Fahrizi. Bahagia karena Fahrizi mulai mengingat Elna kembali. Setelah kurang lebih 4 bulan dia melupakannya Elna.


Elna pun ikut menangis meski dalam diam. Air mata nya semakin deras mengalir dari sudut mata nya.


Melihat itu Dinda memeluk kakak nya.


"Kak sebaik nya kita biarkan kak Elna istirahat dulu " ujar Dinda sambil melepas kan pelukan nya.


"Iya " jawab Fahrizi.


"Ma sebaik nya mama pulang Fahri titip Axel. Elna biar Fahri yang jaga " ujar Fahrizi.


"Mama pikir juga begitu soal nya kita tidak tahu kapan nak Elna akan sadar. Kasihan Axel dengan bi Wati terus " ujar mama.


"Dek antar mama pulang ya " ujar mama.


"Iya Ma. Ayo Dinda antar mama pulang. Karena Dinda juga kangen sama baby boy Axel " ujar Dinda.


"Mama dan Dinda pun pulang kekediaman Elna dan Fahrizi.


Sesampai nya di rumah mama langsung ke kamar Axel. Bi Wati pun ada di sana.

__ADS_1


"Assalammu'alaikum... bi" ujar mama.


"Wa'alaikumsalam.... bu " jawab bi Wati.


"Masih tidur bi " tanya Dinda sambil melihat keponakan nya yang semakin aktif itu.


"Iya Neng. Alhamdulillah tuan kecil nggak rewel. Anteng habis makan langsung tidur lagi " ujar bi Wati.


"Bagus lah bi. Ngerti jagoan nenek kalau mama nya lagi sakit " ujar mama ikut nibrung obrolan dinda dan bi Wati.


"Iya bu. Tuan kecil itu baik budi seperti Umi nya " ujar bi Wati.


"Iya " jawab mama sambil tersenyum manis melihat cucu nya yang sedang tertidur pulas itu.


"Ya allah terima kasih engkau telah memberi hambah mantu dan cucu yang baik budi. Mereka merupakan anugerah bagi hambah " batin mama sambil mengelus lembut pipi cucu nya itu.


"Semoga kelak diri mu membawa kedamaian untuk semua orang cucu ku" ujar mama.


"Aamiiin " ujar bi Wati dan Dinda bersamaan.


"Oh ya bik. Apa yang menyebankan tuan mu itu berubah seperti itu? tanya mama.


"Tadi bapak bertanya tentang ibu muda bu. dan bibi jawab apa ada nya aja. Bibi cerita kan kenapa bibi kerja di sini. Sejak kapan dan karena apa " ujar sekaligus jawab bi Wati.


"Bagus bik. Tuan bibi itu mulai sadar. Dia mulai mengingat isteri nya walau pun belum sepenuh nya " ujar mama.


"Alhamdulillah bu. Kalau begitu. Bibi senang dengar nya. Kasihan ibu muda kalau bapak hilang ingatan nya lama. Segini aja seperti lama sekali " ujar bi Wati.


Dirumah Sakit.


Adzan magrib berkumandang. Fahrizi seperti orang linglung antara mau sholat atau nggak. Karena selama 4 bulan terakhir dia tidak lagi melakukan kewajiban nya sebagai muslim.


Di tatap nya wajah Elna. Terlintas di ingatan nya saat dia sedang sholat berjama'ah bersama Elna.


Akhir nya Fahrizi pergi ke musholah rumah sakit. Fahrizi melaksanakan sholat magrib di musholah. Selesai sholat Fahrizi kembali ke kamar rawat Elna.


Di lihat nya Elna masih dengan posisi nya. itu menandakan kalau Elna belum sadarkan diri. Fahrizi duduk di samping ranjang rawat Elna. Di belai nya puncak kepala Elna. Lalu berkata.


"Bangun lah untuk ku. Beri aku kesempatan untuk membahagiakan mu. Ingat tidak hanya aku yang membutuhkan mu tapi ada anak kita juga " ujar Fahrizi sambil membelai rambut puncak kepala Elna.


Elna sebar nya sudah bangun tapi atas permintaan mama mertua nya dia pura - pura belum sadar kan diri.

__ADS_1


__ADS_2