
"Aish apa kabar kakak mu nak " tanya bapak.
"Alhamdulillah baik pak !" jawab Aisyah.
"Kak Elna juga menanyakan kabar ibu sama bapak. Kak Elna juga bertanya kapan bapak akan datang menjenguk Aish. Kakak kangen kata nya" ujar Aisyah.
"Kamu nggak bilang kalau bapak sama ibu ada di sini " tanya bapak.
" Nggak pak. Karena Aish takut Kak Elna sedih kalau tahu bapak sama ibu di sini tapi tidak menjenguk nya " ujar Aisyah.
"Iya mungkin memang lebih baik begitu " ujar bapak sambil menunduk sedih.
Sedang kan ibu diam saja. Beliau tidak berkata sepatah kata pun. Selesai makan Aisyah mengajak bapak sama ibu jalan - jalan. Aisyah mengajak bapak sama ibu kesebuah taman. Mereka menikmati keindahan taman sambil bersenda gurau. Mereka pulang menjelang sore.
Di kediaman Fahrizi dan Elna.
"Mas....! Air hangat nya sudah siap" ujar Elna dari kamar mandi.
"Iya sayang. sebentar " ujar Fahrizi.
Fahrizi buru - buru ke kamar mandi. Fahrizi melihat Elna sadang mengisi sabun mandi refil ke dalam botol sabun.
Fahrizi memeluk Elna dari belakang di benamkan nya hidup bangir nya di leher jenjang Elna.
"Dek temani mas mandi ya " bisik Fahrizi.
"Mas..., nanti Axel bangun " ujar Elna.
"Sebentar aja sayang. Mas kangen sama isteri mas " ujar Fahrizi.
"Mas...,Elna kan masih dalam masa nifas " ujar Elna sambil berbalik menghadap suami nya.
"Mas mau candu mas aja dek. Mas kangen berat nih sama itu " ujar Fahrizi.
Elna merasa tidak tega pada suami nya. Akhirnya Elna pun mengabulkan ke inginan Fahrizi.
"Hanya itu ya mas nggak lebih " ujar Elna.
"Iya sayang " ujar Fahrizi.
Fahrizi mulai memangut bibir Elna hingga berkali - kali. Lalu turun keleher jenjang milik isteri nya. tangan Fahrizi mulai membuka kancing dress Elna. Di jamah nya gunung kembar yang merupakan candu nya tersebut. Setelah semua nya terbuka Fahrizi memandang dengan takjub candu nya itu.
"Indah sekali " ujar Fahrizi.
Di jilat nya puncak kecokelatan itu. Fahrizi tidak bisa menahan diri untuk tidak menghisap nya. Di hisap Fahrizi puncak kecokelatan tersebut. Ada sensasi lain yang di rasakan nya. kalau selama ini puncak itu tidak meneluarkan apa-apa lain dengan sekarang.
__ADS_1
Merasa mulut nya sudah penuh Fahrizi pun memuntah kan nya. Lalu di hisap nya kembali. Elna yang juga merindukan sentuhan suami nya mendesah dalam setiap kenikmatan yang di berikan suami nya.
"Aah masss..., " desah Elna sambil menjambak rambut suami nya.
"Iya sayang. Nikmati aja " ujar Fahrizi sambil terus melakukan aktivitas nya di gunung tersebut.
Fahrizi terus menghisap dan menjilat puncak kecokelatan itu dan meninggalkan banyak jejak kepemilikan nya di daerah tersebut.
Hasrat mereka semakin mengebuh. Untung saja mereka sama-sama bisa mengendalikan diri sehingga permainan hanya sebatas dada saja.
"Dek mas semakin menyukai nya" ujar Fahrizi sambil kembali mengecup gunung kembar tersebut.
"Makasih ya sayang. Walau pun sebatas ini sudah cukup mengobati rasa rindu mas" ujar Fahrizi.
"Adek juga mandi ya. Kita mandi bareng aja. Biar cepat takut nya jagoan mas bangun " ujar Fahrizi.
"Iya mas " jawab Elna.
Selesai mandi Elna menyiap kan pakaian sholat Fahrizi. Kemudian Elna kekamar Axel karena sebentar lagi magrib. Elna tidak mau Axel sendiri. Elna membawa Axel turun ke bawah ke ruang tv. Bi Wati yang baru selesai berwudhu mau ke musholah rumah mendekati Elna dan Axel.
"Masih tidur ya bu? tanya bi Wati.
"Iya bik. Nyenyak banget.Kasihan kalau di banguni " ujar Elna.
"Ya udah bu. Di gendong aja " ujar bi Wati.
Selesai sholat magrib Fahrizi pun menyusul turun ke bawah. Fahrizi langsung ke ruang tv.
"Masih tidur ya dek ? tanya Fahrizi
"Iya mas. Nyenyak banget " jawab Elna.
"Sini mas yang gendong "ujar Fahrizi sambil mengambil putra nya dari sang isteri.
Elna pun membiarkan sang suami yang ngambil alih gendong si jagoan kecil mereka. Fahrizi memang suami yang baik dia ikut menjaga dan merawat putra nya walau pun dia sibuk berkerja. Di malam hari tidak jarang Fahrizi ikut bangun saat si kecil terbangun. Terkadang Fahrizi sengaja menyuruh Elna tidur dan gantian dia yang menjaga si kecil. Pada hal dia sibuk berkerja seharian. Tentu dia sangat lelah tapi demi kesehatan sang isteri dia rela melakukan nya.
Kini enam bulan telah berlalu baby Axel dah mulai aktif dan tumbuh menjadi anak yang mengemas kan. Seperti hari ini saat Elna mau memberi Axel makan tapi Axel nya lari merangkak ketempat lain. Setelah agak jauh dari Elna. Axel nya duduk melihat sang Umi.
"Sayang makan dulu ya nanti main lagi " ujar Elna.
Baby Axel seakan mengerti. Dia membuka mulut nya.
"Pintar anak Umi " ujar Elna.
__ADS_1
"Mmmm enak kan sayang " ujar Elna.
Tidak jauh dari mereka sepasang mata memandang mereka penuh cinta dan kasih sayang.
"Ya allah hilang rasa lelah seharian kerja melihat senyum mereka berdua. " batin Fahrizi .
Fahrizi tersenyum sambil melangkah menuju kedua orang yang sangat dia cintai itu.
"Assalammu'alaikum..., ujar Fahrizi.
"Wa'alaikumsalam.... Abi " ujar Elna.
Elna menghampiri suami nya. Mengambil tas kerja dan membantu melepas kan jas suami nya.
"Makasih sayang " ujar Fahrizi sambil mendarat kan kecupan sayang di puncak kepala Elna.
"Biar mas yang menyuapi nya dek " ujar Fahrizi.
"Nggak usah mas. Mas pasti lelah setelah seharian kerja " ujar Elna.
"Mas nggak pernah merasa lelah untuk anak dan isteri mas " ujar Fahrizi sambil tersenyum dan mengambil alih mangkuk makanan baby Axel.
"Hallo jagoan Abi. Apa kabar hari ini? tanya Fahrizi pada putra nya.
"Baby Axel seakan menjawab pertanyaan Abi nya. Dia ngoceh ciri khas anak bayi hanya dia lah yang mengerti apa yang di katakan nya.
"Kenapa jagoan Abi mau makan sambil main di luar ya? tanya Fahrizi.
Fahrizi mengambil stroller lalu mendudukkan baby Axel di dalam nya. Mereka keluar dari rumah menuju gasebo kecil yang di bawah nya merupakan kolam ikan mas.
" Kita di sini aja ya sayang. Kalau kita jauh - jauh nanti Umi mencari kita " ujar Fahrizi pada putra nya.
Baby Axel pun kembali mengoceh lalu tertawa kecil.
"Jagoan Abi senang ya Abi bawa keluar" Tanya Fahrizi.
"Baby Axel tertawa sambil tepuk tangan. Dia kelihatan begitu bahagia.
Sementara baby Axel makan dan bermain bersama Fahrizi. Elna menyiapkan kan semua keperluan Fahrizi termasuk menyiap kan air hangat untuk Fahrizi mandi.
Setelah semua nya siap Elna turun ke bawah untuk menemui anak dan suami nya. Tapi sampai di bawah Elna tidak menemukan mereka.
"Kemana ya mas Fahri sama dedek Axel nya " ujar Elna ngomong sendiri.
Elna mencari mereka keluar. Benar saja ternya dua orang tersebut berada di taman samping rumah.
__ADS_1
"Kamu memang suami idaman mas. " batin Elna.