
Benar-benar hamil. Untuk lebih memastikan nya sang dokter mengajak Elna melakukan USG.
Setelah melukan usg ternyata Elna benaran hamil usg menunjukan kalu kandungan Elna sudah masuk usia 2 bulan
Fahrizi sangat bahagia dia mencium puncak kepala isteri nya berkali - kali.
" Sayang terima kasih. Mas senang banget " ujar Fahrizi berkaca-kaca.
" Melihat ke haruan suami nya Elna pun ikut terharu.
Fahrizi meluk Elna menghujami isteri kecil nya dengan kecupan sayang.
"Selamat ya Pak, Bu !
Semoga bayi dan Ibu nya sehat selalu " ujar dokter Clara.
" Aamiiin..., Makasih dok do'a nya ujar Elna dan Fahrizi.
Mereka pulang mampir kerumah ibu maryam mama nya Fahrizi.
Mereka ingin membagi kebahagian itu kepada mama nya.
Di perjalanan pulang Fahrizi tidak berhenti bertanya kepada Elna apa yang Elna ingin kan.
Fahrizi menawar kan berbagai macam makanan.
Namun tidak satu pun yang Elna inginkan.
Akhir nya Fahrizi mampir ke toko buah. Fahrizi membeli berbagai macam buah-buahan.
Dan tidak ketinggalan mangga muda. bagasi hampir penuh dengan buah-buahan.
" Mas banyak banget sih beli buah nya. Kan mubasir kalau nggak termakan" ujar Elna.
" Nggak apa-apa sayang. Kalau semua sudah ada di rumah saat adek ingin makan buah adek tinggal makan" ujar Fahrizi.
" Tapi itu banyak banget mas. Kita bagi sama mama ya nanti" pinta Elna.
" Iya terserah adek aja" jawab Fahrizi.
Sesampai nya di rumah mama Maryam Fahrizi membuka kan pintu mobil dan mengandeng Elna menuju pintu rumah.
Sikap Fahrizi memang sedikit berlebihan tapi Elna tidak menolak.
Elna diam saja dengan semua yang di lakukan Fahrizi.
Mereka langsung masuk ke rumah karena pintu tidak terkunci.
Mama Maryam sengaja tidak menguci pintu karena tadi Fahrizi sempat nelpon bilang kalau mereka mau mampir.
" Assalammu'alaikum..., Ma...!
" Wa'alaikumsalam...., masuk nak mama di dapur " jawab Mama Maryam
Fahrizi dan Elna langsung ke dapur. Mama Maryam menyambut kedatangan anak dan mantu nya.
Elna mencium punggung tangan mama mertua nya.
Mama Maryam memeluk Elna lalu mencium kening Elna.
Mama Maryam memang menganggap Elna seperti anak beliau sendiri.
"Mama rasa Elna agak berisi nak sekarang " ujar mama Maryam.
"Iya ma " jawab Elna
" Apa sudah ada calon cucu mama di dalam sini? ujar mama Maryam sambil ngelus perut Elna yang masih rata penuh selidik.
Elna tersenyum menoleh pada suami nya.
Fahrizi berdiri lalu memeluk Elna tersenyum penuh kebahagiaan.
" Iya ma. disini sudah ada calon cucu mama" ujar Fahrizi memegang perut Elna sambil tersenyum.
__ADS_1
" Alhamdulillah.... mama senang dengar nya
" Kamu harus jaga isteri mu dengan baik nak. Apa lagi di usia kandungan 1 sampai 3 bulan itu sangat rawan.
" Mama tenang aja ma. Aku pasti akan jaga dengan baik mereka berdua" ujar Fahrizi sambil mendarat kan kecupan di puncak kepala isteri nya.
Elna hanya tersenyum.
Fahrizi mengandeng Elna menuju meja makan menarik kan kursi untuk isteri nya.
" Mas. tolong ya buah nya ambil untuk mama " titah Elna
Fahrizi pun mengambil kan buah - buahan yang di pinta Elna.
" Ini sayang buah nya " ujar Fahrizi.
" Ma ini buah buat mama " ujar Elna
" Banyak banget nak.
" Iya ma. tadi mas beli buah nya kebanyak kan itu bagasi mobil hampir penuh dengan buah" ujar Elna.
" Itu bagus sayang. Elna memang harus banyak makan buah dan makanan harus yang sehat-sehat. Supaya perkembangan janin nya bagus" ujar mama Maryam.
" Iya ma. jawab Elna.
Fahrizi sedang nelpon sekertaris nya Violetta.
Tadi nya Fahrizi berniat datang ke kantor siang.
Tapi setelah mengetahui Elna hamil Fahrizi menjadi memilih untuk tidak ke kantor.
Mereka berkunjung ke rumah mama Maryam cukup lama hingga waktu makan siang.
Mama Maryam memasak berbagai masakan istimewa untuk merayakan ke hamilan Elna.
Tidak lupa mama juga mengirim pesan kepada Dinda untuk makan siang di rumah.
Selain mengajak makan siang di rumah mama juga ngasih tau Dinda tentang kehamilan Elna.
Tiba-tiba Dinda datang dengan membawa 2 baper bag yang berisi beberapa macam susu ibu hamil.
"Wa'alaikumsalam..., jawab mama, Fahrizi dan Elna bersamaan.
Dinda menuju meja makan meletak kan baper bag yang dia bawa.
Lalu berjalan menuju Elna. Dia memeluk Elna sambil menangis
" Kak ma'af kan Dinda. Mungkin Dinda tidak pantas untuk di ma'af kan.
Tapi sungguh Dinda menyesal atas semua nya. Ujar Dinda sambil terisak.
Awal nya Elna diam saja. Tapi melihat kesungguhan Dinda, Elna menjadi ibah.
Elna pun ikut menangis dan membalas pelukan Dinda.
Lalu menjawab
" Iya Din. Kakak ma'af kan Dinda asal Dinda tidak mengulangi nya lagi.
" Dinda sangat merindukan kakak. Dinda rindu kebersamaan kita dulu.
Elna tersenyum sambil mengelus rambut Dinda.
Dinda melepaskan pelukan nya lalu mengambil baperbag tadi yang dia bawa.
" Kak ini ada beberapa macam susu untuk ibu hamil.
Mana yang kakak suka kasih tau Dinda ya biar nanti Dinda akan belikan lagi untuk kakak." Ujar Dinda
Elna menerima nya dengan senyuman.
" Makasih ya Din. tapi seperti nya kakak akan suka semua deh canda Elna.
" Kamu nggak perlu belikan susu untuk kakak mu.
__ADS_1
Kakak suami yang bertanggung jawab kok " ujar Fahrizi
" Iya Kak Dinda tau kakak suami yang bertanggung jawab
Tapi izinkan Dinda untuk membelikan susu untuk kakak dan calon keponakan Dinda ini" ujar Dinda sambil memegang perut Elna.
Mama yang dari tadi hanya diam karena melihat keharuan itu akhir nya ikut bicara.
" Din mama harap setelah ini kamu tidak akan pernah melakukan kesalahan lagi.
Beruntung kamu bertemu orang yang baik seperti kakak mu Elna.
Kalau kamu bertemu orang yang jahat dia akan membalas dendam sama kamu " ujar mama Maryam.
" Iya ma. jawab Dinda
" Ya sudah. Ayo kita makan nanti keburu dingin makanan nya " ajak mama
Mereka pun makan siang penuh dengan kebahagian.
Terutama Dinda. Setelah sekian lama dia hidup dalam rasa bersalah tapi kini dia sudah lega karena sudah minta ma'af ke pada kakak ipar nya Elna.
Elna di perlakukan kan sangat spesial. Mama, Fahrizi bahkan Dinda ikut melayani Elna.
Mereka mengambilkan makanan, berbagai macam masakan semua di isikan ke piring Elna.
Elna yang memang tidak merasakan mual memakan semua nya sampai Elna merasa terlalu kenyang.
Habis makan Elna berselonjor di sofa ruang keluarga.
Karena mama dan Dinda tidak mengizin kan Elna ikut beres-beres.
Elna merasa ngantuk. Memang akhir - akhir ini Elna suka ngantuk terutama di pagi hari.
Mungkin itu pengaruh dari si cabang bayi.
Elna tidak merasakan mual tapi setiap pagi selalu ngantuk berat kalau tidak di bawa tidur akibat nya pusing.
Benar saja sekarang Elna sudah terlelap. Fahrizi yang dari tadi sibuk dengan laptop nya kaget melihat Elna tertidur di sofa.
Fahrizi menghampiri nya dan mengangkat tubuh munggil itu ke kamar.
Walaupun mereka tidak tinggal di sana lagi tapi kamar itu selalu di bersih kan mama Maryam.
Saat mama dan Dinda nyusul ke ruang keluarga mereka tidak menemukan Elna.
" Mana Kak Elna Kak? tanya Dinda
" Di kamar. Tadi kakak mu ketiduran di sofa. Maka nya kakak bawa ke kamar.
" Ya padahal Dinda bawa puding untuk kak Elna dan ponakan ku " ujar Dinda
"Sini buat kakak aja " kata Fahrizi
" Itu buat kakak ada " jawab Dinda
" Simpan di lemari es aja nak. Nanti kakak mu bangun baru kasih kan " ujar mama Maryam.
" Iya ma " jawab Dinda lemas sambil menuju lemari es.
Kurang lebih satu jam Elna tertidur akhirnya dia bangun.
Saat Elna terbangun dia langsung keluar kamar.
Dia mencari Suami nya. Ternyata yang di cari masih di ruang keluarga.
Mereka sibuk melihat - lihat perlengkapan bayi.
" Kak nanti box bayi nya harus aku yang beli ya" ujar Dinda
" Terserah kamu aja yang penting kamu harus izin dulu sama kakak mu. takut nya kakak mu nggak suka " ujar Fahrizi
" Oke "jawab Dinda
Sementara mama Maryam sibuk memilih merek popok yang mana bahan nya halus.
__ADS_1
Elna merasa terharu menyaksikan itu. Elna tetap berdiri melihat itu dari balik tirai.
"Ibu apa kah ibu akan sesenang mereka saat ibu tahu aku hamil. Atau ibu masih marah dan tetap tidak peduli pada anak mu ini. batin Elna