
Mendengar kata-kata dokter tentang penyakit isteri nya membuat tubuh Fahrizi terasa lemas.
" Boleh saya melihat isteri saya dok? tanya Fahrizi.
"Silahkan Pak. " ujar sang dokter.
Fahrizi berjalan menuju ruang IGD. Karena belum sadarkan diri Elna masih di ruangan tersebut.
Bi Wati tambah panik melihat wajah majikan laki-laki nya sesedih itu. Namun beliau belum berani bertanya.
Fahrizi duduk di samping ranjang rawat Elna. Di tatap nya wajah pucat sang isteri.
"Dek. Elna harus sehat sayang . Mas tidak sanggup melihat Elna seperti ini.
Kenapa Elna memendam semua masalah Elna sendiri. Elna punya mas tempat Elna berbagi. Tidak seharus nya kamu pendam penderitaan mu sendiri dek" ujar Fahrizi sambil beruraian air mata.
"Ma'af kan mas. Mas bukan lah suami yang baik. Mas tidak peka terhadap Elna.
Bahkan mas tidak tahu kalau Elna menderita. Mungkin kah semua ini karena mas?. Elna harus bangun. Elna harus cerita sama mas.
Air mata Fahrizi semakin deras mengalir. Apa lagi di saat Fahrizi mengingat yang terjadi dalam perjalanan tugas nya kemarin. Yang sampai saat ini belum di ketahui oleh Elna.
Fahrizi mengengam tangan Elna di kecup nya punggung tangan sang isteri dengan penuh cinta. Tapi Elna tidak merespon sama sekali.
__ADS_1
Fahrizi semakin sedih.
Elna kamu harus bangun sayang. Kamu harus kuat demi mas dan anak kita. Kamu tidak boleh seperti ini.
Mas tahu Elna kuat. Elna itu perempuan yang hebat. Jadi bangun lah untuk mas dan anak kita sayang mas mohon" ujar Fahrizi.
Tiba-tiba dokter masuk.
"Ma'af Pak. Saya akan periksa kembali keadaan pasien" ujar sang dokter
"Iya silahkan dok. Dok saya mohon lakukan yang terbaik untuk isteri saya. Masalah biaya berapa pun akan saya tanggung yang penting isteri saya sembuh" ujar Fahrizi .
" Kami akan selalu melakukan yang terbaik untuk pasien kami Pak. Kita hanya bisa berusaha dan berdo'a. Yang menentukan hasil Allah" ujar sang dokter.
" Bagai mana keadaan isteri saya dok? tanya Fahrizi setelah dokter selesai memeriksa Elna.
"Kita tunggu selama 1 kali 24 jam Pak. Kalau pasien belum sadar juga kemungkinan pasien koma. " jawab sang dokter.
Fahrizi semakin khawatir.
"Kenapa bisa ada kemungkinan itu Dok? tanya Fahrizi.
"Karena pasien terlalu lama pingsan baru mendapatkan pertolongan " jelas sang dokter.
__ADS_1
Fahrizi semakin sedih karena tadi pagi Elna sempat bertanya pada Fahrizi. Apakah Fahrizi kerja atau tidak.
Mungkin saat itu Elna sebenar nya sudah merasakan sesuatu pada diri nya.
Andai saja Fahrizi ttidakberkerja mungkin Elna akan lebih cepat mendapatkan pertolongan.
"Baik Pak. kami permisi dulu. " pamit dokter
"Silahkan dok terima kasih " ujar Fahrizi.
Dokter keluar dari ruangan IGD. Setelah dokter ke luar Fahrizi pun ikut keluar untuk menemui bi Wati.
" Bi bagai mana kejadian nya sampai ibu pingsan? tanya Fahrizi.
"Ma'af Pak saya juga kurang tahu persis. Tadi setelah bapak berangkat ibu langsung naik ke kamar.
Saya memang sudah curiga ada apa - apa sama ibu. Biasa nya setiap pagi ibu rutin menyiram tanaman berhenti kalau mau sholat duha.
Namun tadi pagi ibu tidak menyiram tanaman. Sampai jam masak pun ibu tidak kunjung turun. Akhirnya saya naik ke atas dan menemukan ibu sudah pingsan " jawab bi Wati.
"Saya menghubungi bapak dan ibu Maryam tapi tidak bisa semua. beruntung ada satpam patroli jadi mereka yang membantu menelpon kan ambulance dan membawa ibu kerumah sakit " jelas bi Wati.
" Bi apa ibu pernah cerita tentang sesuatu sama bibi? tanya Fahrizi lagi
__ADS_1
"Nggak pernah Pak. ibu nggak pernah bicara apa pun. jawab bi Wati.