Elna Si Gadis Desa Yang Malang

Elna Si Gadis Desa Yang Malang
Satu Hari Bersama


__ADS_3

Melihat semua itu ibu Maryam sadar kalau putra nya sangat mencintai Elna isteri nya. iya sebenar nya Fahrizi dan Elna adalah pasangan yang sangat serasi satu cantik dan yang satu nya tampan.


Karena masih pagi jalanan belum terlalu ramai sehingga tidak makan waktu lama mereka pun sampai di sebuah rumah yang cukup mewah dengan desain minimalis. memiliki taman kecil. di kiri dan kanan jalan masuk ke halaman rumah memiliki kolam ikan dengan air di buat mengalir seakan akan seperti sungai kecil.


Gemercik air jatuh membuat keasrian tempat itu semangkin terasa. di samping rumah ada gasebo kecil di bawah nya juga terdapat kolam ikan. Elna sangat menyukai hunian baru nya itu.


Tidak sampai di situ keindahan yang memanja kan mata juga terasa saat masuk kedalam rumah. Walaupun rumah itu tidak terlalu besar tapi sangat nyaman. dekorasi ruang tamu mengunakan warna hijau dinding di lukis seakan terasa di alam terbuka



Elna terus berjalan memeriksa semua ruangan yang ada semua nya menyejukkan mata. Ketika Elna melihat kamar tidur nya itu jauh lebih mengagumkan lagi. tiba-tiba Elna di peluk oleh seseorang dari belakang sambil berbisik


" Apa kah adek suka dengan kamar nya?


" Suka kak. Aku sangat menyukai nya " jawab Elna


" Syukurlah kalau adek suka " jawab Fahrizi sambil membenamkan wajah nya di leher jenjang isteri kecil nya.


" Dek kakak kangen " ucap fahrizi masih tetap dengan posisi nya.


Elna diam saja.


" Dek kakak menginginkan nya " ucap fahrizi lagi. kini fahrizi mulai menjelajahi leher dan daun telinga Elna.


" Kak kan masih ada mama " jawab Elna


" Oke setelah mama pulang ya" jawab Fahrizi


Elna mengangguk sambil tersenyum. mereka pun keluar dari kamar menuju dapur di mana ibu maryam sedang sibuk menyiap kan semua peralatan masak. semua nya memang sudah tersedia tapi masih tersimpan dalam dus nya belum pernah di pakai.


" Ma "panggil Elna pada mertua nya


" Iya sayang" ada apa tanya bu Maryam sambil menoleh.


" Nggak apa-apa ma. mama lagi beres - beres ya. Elna bantu ya ma.


" Iya " jawab bu Maryam sambil tersenyum.


Selesai beres-beres mereka keruang keluaga. Fahrizi duduk di ruang keluarga sambil sibuk dengan laptop nya. hari ini Fahrizi tidak ke Kantor Karena setelah beres- beres rumah mereka akan ke pasar untuk membeli bahan makanan.


" Kak mama pulang dulu ya. Kakak nggak usah antar mama biar mama naik ojek aja. kan dekat juga.


" Baik ma. tapi benaran mama gak apa -apa naik ojek.


" Gak apa-apa dekat kok" jawab bu Maryam


"Elna ibu pulang dulu ya nak. pamit bu maryam pada mantu nya.


" Iya ma hati-hati" ucap Elna sambil mencium punggung tangan Ibu mertua nya.


Setelah ibu Maryam pulang Fahrizi langsung beraksi.

__ADS_1


"Dek sekarang ya. kakak udah nggak tahan rengek Fahrizi


Elna menggangguk. Fahrizi mengendong tubuh munggil isteri nya membawa nya ke kamar. di baringkan nya perlahan di tempat tidur. lalu mengecup kening isteri kecil nya berlanjut ke bibir pink Elna. Fahrizi melakukan nya cukup lama sehingga Elna sulit bernapas. kemudian belanjut ke gunung kembar yang mulai sekarang seperti nya akan menjadi candu bagi fahrizi.


Elna mengeliat sambil meneluarkan rintihan - rintihan kecil yang membuat Fahrizi semangkin bergairah. di hisap nya pucuk kecoklatan itu seperti anak bayi ke hausan.


Elna semangkin tidak tahan dengan semua sentuhan suami nya itu.


Fahrizi semangkin liar. Dan dia melancarkan serangan nya yang sesungguh nya. Elna sedikit menjerit. ya walau pun tidak sesakit pertama kali tapi tetap terasa sakit Karena ini baru yang kedua kali nya Elna melakukan itu.


Fahrizi agak sedikit menguraangi pacuan nya Karena dia menyadari kalau isteri kecil nya ke sakitan.


" Sayang ma'afin kakak ya " ucap Fahrizi sambil mencium kening isteri nya.


"Elna tersenyum gak apa-apa kak "


" Kakak sayang kamu " ucap Fahrizi berkaca - kaca.


Elna lagi-lagi hanya tersenyum. Melihat suami nya menangis Elna binggung.


" Kakak kenapa nangis " tanya elna


" nggak apa-apa. kakak hanya bahagia " jawab fahrizi.


" Bahagia kok nangis. bukan nya orang bahagia itu ketawa ya" ucap Elna.


"Sayang boleh kakak lanjut?" tanya fahrizi


Fahrizi pun memulai lagi pacuan nya dengan sedikit perlahan. dia takut terlalu menyakiti isteri nya. di selah pacuan nya Fahrizi mampir kembali di gunung kembar itu di hisap nya kembali puncak kecoklatan itu membuat pemilik nya merontah merasakan sensasi yang luar biasa.


sudah hampir dua Jam mereka bertempur akhir nya mereka mencapai puncak nya juga. Fahrizi tumbang di samping isteri nya.


"Dek terima Kasih ya sayang"ucap Fahrizi


" Kakak nggak perlu berterima kasih. ini kan kewajiban Elna melayani Suami Elna" ucap Elna


Fahrizi kembali mendaratkan kecupan hangat di kening isteri nya.


" Dek kalau Capek istirahat aja dulu. kita kesupermarket nya sore aja. untuk makan siang kita dilevery aja ya " ucap fahrizi


" Iya kak. Elna ngantuk " jawab Elna


" Ya udah tidur aja. tapi bersih-bersih dulu kekamar mandi. setelah itu baru tidur " titah fahrizi.


" Ngantuk Kak" rengek Elna


" Iya" tapi apa nggak lengket anu nya " ucap fahrizi.


Melihat Elna tidak bergerak akhir nya Fahrizi mengendong Elna ke kamar mandi. meletakan Elna ke dalam bathtub. mengisi air dan menambahkan sedikit aromatherapy biar terasa segar. lalu fahrizi pun ikut masuk ke dalam bathtub. dia membersihkan tubuh Elna dan juga diri nya sendiri. Elna pun diam aja mendapat perlakuan seperti itu dari suami nya.


" Dek jangan mancing kakak dong. kakak jadi ingin lagi kalau menyentuh semua ini " ucap Fahrizi. di bawah sana sudah menegang kembali.

__ADS_1


Elna tersenyum sambil melingkarkan tangan nya di leher Fahrizi. Kemudian di kecup nya bibir suami nya. mendapat kan lampu hijau Fahrizi pun tidak menyia - nyiakan nya.


Fahrizi membalas ******* bibir ranum isteri nya. turun keleher berlanjut ke dada indah isteri nya meninggalkan banyak jejak di sana. dan menghisap puncak kecolatan itu dengan penuh semangat.


Elna menjambak rambut suami nya. kini dirinya yang seakan menuntut untuk segera terpenuhi.


Fahrizi pun mengerti apa yang di inginkan isteri nya. di angkat nya tubuh munggil itu mereka melanjutkan nya di luar bathtub. hingga kedua nya mencapai puncak secara bersamaan.


Ritual mandi menjadi lama Karena sesi mandi barang berlanjut kepergulatan panas itu.


Saat mereka keluar dari kamar mandi Jam sudah menunjukan pukul sebelas itu tanda nya bentar lagi Jam makan siang. Fahrizi mengambil ponsel nya untuk memesan makan siang untuk mereka berdua.


Sementara Elna sedang pakaian dia menggunakan pakaian santai. Elna mengenakan kaos oblong warna putih celana jeans sedengkul,rambut di biarkan tergerai karena masih basah. Memoleskan sedikit bedak tabur dan liplos.


Tanpa Elna sadari sepasang mata sedang memperhatikan nya.


"Sungguh Cantik luar dalam. Aku sangat beruntung mendapatkan mu isteri ku" batin Fahrizi.


Fahrizi berjalan menuju isteri nya. lalu memeluk isteri nya dari belakang sambil berbisik


" Menuah lah bersama ku " bisik nya


Elna memutar tubuh nya untuk menghadap fahrizi suami nya. dia memandang suami nya sambil tersenyum. lalu berkata


" Aku akan menuah bersama siapa kalau bukan bersama kakak " ucap Elna


" Sayang tetap lah bersama kakak apa pun yang terjadi nanti nya" ucap fahrizi sambil memegang kedua pipi isteri nya.


Tiba - tiba Fahrizi khawatir ingat akan ancaman violeta satu hari yang lalu.


" Kakak kenapa bicara seperti itu? tanya Elna


" nggak apa-apa sayang. Kita nggak pernah tau apa yang akan terjadi kedepan nya. " ucap fahrizi.


ting tong bel pintu berbunyi.


" Dek seperti nya makan siang yang kakak pesan sudah sampai " ucap fahrizi


Mereka pun turun bersama. Sampai di bawah Elna menuju dapur untuk menyiapkan piring. sementara Fahrizi ke pintu untuk mengambil pesanan mereka.


Ceklek pintu di buka


" Terima kasih ya mas ini tips nya. saya udah bayar lewat aplikasi" ucap fahrizi


" Iya pak sama- sama. kalau gitu saya pamit dulu " balas sang kurir


" Oke " jawab fahrizi sambil tersenyum.


Fahrizi pun masuk kerumah menuju dapur. Elna sudah menyiapkan semua nya. hanya tinggal membuka makanan nya saja. Mereka pun menyantap makan siang nya dengan lahap sampai nyaris tanpa sisa.


Selesai makan mereka membereskan nya bersama. Sebenar nya Elna tidak ingin di bantu tapi fahrizi memaksa ingin membantu. Akhir nya Elna nyuci piring fahrizi membersikan meja makan.

__ADS_1


__ADS_2