Elna Si Gadis Desa Yang Malang

Elna Si Gadis Desa Yang Malang
Rontgen ulang


__ADS_3

Selesai sarapan mama dan Dinda pamit pulang sebentar. Hari ini mama dan Dinda memutuskan untuk menemani Elna Dan Fahrizi. Karena hari ini Elna akan menjalani rontgen ulang.


Mereka sangat mengkhawatirkan keadaan Elna. Mereka berharap rontgen hari ini menunjukkan hasil sesuai yang mereka harapkan.


Karena mereka tidak mau terjadi apa-apa pada Elna.


" Ma semoga hasil rontgen hari ini menunjukan kalau kak Elna tidak apa - apa ya ma. Semoga saja hasil rontgen yang kemarin itu salah " ujar Dinda


"Aamiiin. Semoga saja nak kita do'a kan aja " jawab mama Maryam.


Di Rumah Sakit


"Mas nggak Kerja ? tanya Elna.


"Nggak sayang. Mas mau nemani adek! jawab Fahrizi.


"Elna nggak apa-apa kok mas. Kalau mas mau kerja. Kerja aja ! ujar Elna.


"Nggak semua urusan kantor sudah mas serahkan pada Robby " jawab Fahrizi.


"Ya udah kalau begitu makasih ya mas. Mas udah mau nemani Elna ! ujar Elna lagi.


"Iya sayang. Adek nggak perlu berterima kasih karena ini memang ke wajiban mas sebagai suami adek ! jawab Fahrizi.


Elna tersenyum. Lalu memeluk suami nya. Karena pintu tidak tertutup rapat ada sepasang mata yang sedang menatap tidak suka ke pada Elna dan Fahrizi.


"Seharus nya aku yang ada dalam pelukan kamu Fahrizi. bukan dia " batin nya.


Tiba-tiba pintu di ketuk. tok tok tok !


"Ma'af Pak, Bu! Bapak di tunggu dokter di ruangan nya" ujar suster.


"Baik sus. Saya akan segera ke sana " jawab Fahrizi.

__ADS_1


"Sayang. Mas ketemu dokter dulu ya" ujar Fahrizi.


"Iya mas" Jawab Elna.


Fahrizi pergi menemui dokter yang menangani Elna.


Elna duduk setengah bersandar di kepala ranjang rawat nya. tiba - tiba Violetta masuk kedalam kamar Elna. Dan berkata


"Seharus nya kamu itu sadar diri kalau kamu itu tidak pantas mendampingi Fahrizi. Selain kampungan kamu itu penyakitan. Sadar diri dong.


Fahrizi itu berhak mendapatkan pendamping hidup yang cocok dan sepadan dengan nya" ujar Violetta.


Elna diam saja. Dia tidak memperdulikan Violetta. Melihat Elna tidak memperdulikan Violetta emosi. Dia kembali mencerca Elna.


" Hai perempuan tuli kamu dengar ya aku tidak akan membiar kan Fahrizi selama nya bersama kamu. Fahrizi itu pantas nya sama aku bukan sama kamu" ujar Violetta lagi.


Elna tetap diam bahkan dia tidak memlihat Violetta sedikit pun. Elna memejam kan mata nya untuk beristirahat.


Violetta semakin kesal. Di tarik nya selimut yang menutupi tubuh Elna. Elna tetap diam. Violetta mengangkat tangan kanan nya untuk menampar Elna.


Fahrizi menarik Violetta keluar dari kamar rawat Elna. Membawa Violetta menjauh dari kamar tersebut.


"Vio apa yang kamu lakukan ha!. Saya peringatkan sama kamu. Jangan coba - coba untuk menganggu isteri saya Elna.


Jika kamu ulangi lagi aku tidak akan segan-segan untuk melapor kan kamu ke polisi" ancam Fahrizi.


"Fahri kamu sadar dong perempuan itu nggak pantas untuk kamu! ujar Violetta


"Terus yang pantas untuk aku itu siapa? tanya Fahrizi


"Aku lah Fahri. Kamu kan tahu bagaimana aku mencintaimu " ujar Violetta.


"Vio kamu harus tahu. nggak ada perempuan sebaik dan sesempurna Elna. Bukan Elna yang nggak pantas untuk aku. Tapi aku yang tidak pantas untuk Elna.

__ADS_1


"Jadi ku mintak sama kamu jangan ganggu lagi rumah tangga ku dan Elna" ujar Fahrizi.


Karena apa pun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkan Elna " tegas Fahrizi.


Elna tersenyum mendengar ucapan Fahrizi yang mengatakan kalau Fahrizi tidak akan pernah meninggalkan diri nya.


"Mas..., Elna juga janji tidak akan pernah meninggalkan mas kecuali mas yang meninggal kan Elna" batin Elna.


Setelah mendengar kan perkataan Fahrizi Elna kembali ke ranjang nya.


Dia terus tersenyum sambil berbaring miring ke kanan. membelakangi pintu.


"Sayang. Kita siap - siap yuk. Bentar lagi Adek harus melakukan rontgen ulang " ujar Fahrizi.


Elna pura-pura tidur.


"Adek bangun sayang" ujar Fahrizi.


"Iya mas" ujar Elna


"Yuk sayang dokter nya sudah menunggu " ujar Fahrizi.


"Yuk mas " jawab Elna


Mereka pun menuju ruangan di mana akan di laku kan rontgen.


"Assalammu'alaikum..., ujar mama Maryam dan Elna


Namun tidak ada jawaban dari dalam. Akhir nya mama dan Dinda masuk ke kamar rawat Elna ternyata kamar nya kosong



"Ma mungkin kakak sama Kak Elna sudah di ruang rontgen " ujar Dinda

__ADS_1


"Iya Seperti nya dek" jawab mama Maryam.


"Ya udah ma kita tunggu aja " ujar Dinda


__ADS_2