
Saat sampai di rumah sakit Fahrizi langsung ruang IGD. Tapi dia tidak menemukan isteri nya.
Fahrizi kebagian resepsionis untuk menanyakan isteri nya di pindahkan ke ruang mana.
Setelah mengetahui di mana kamar rawat Elna Fahrizi bergegas ke sana tanpa membuang - buang waktu.
Fahrizi masuk di lihat nya Elna tersenyum menatap nya.
" Mas... ! ujar Elna
Tanpa menjawab Fahrizi memeluk erat tubuh mungil itu sambil menangis. Lalu berkata
"Dek jangan sakit lagi ya. Mas nggak bisa lihat Elna sakit. Mas takut. Mas binggung." ujar nya.
"Mas sakit itu bukan ke inginan Elna. Kalau bisa nolak Elna juga nggak mau.
Elna mau nya sehat terus. tapi sekarang Elna udah nggak apa-apa kok mas Elna udah sehat. tadi Elna hanya sedikit pusing aja " ujar Elna.
"Ya Allah semua yang ada di muka bumi ini berasal dari mu. Dan akan kembali kepada mu. Semua yang bernyawa akan mengalami kematian.
Maka dari itu hambah mohon ke pada mu ya robb berikan kesembuhan kepada isteri hambah. Izinkan dia merasa kan kebahagiaan. Berikan kan hambah kesempatan untuk membahagiakan nya"
batin Fahrizi sambil terus memeluk Elna.
" Mas dari mana ? tanya Elna
" Mas dari mencari keajaiban. Dan mas telah menemukan nya" jawab Fahrizi
" Mana mas ke keajaiban nya? tanya Elna.
" Adek siuman merupakan keajaiban bagi mas. Karena menurut dokter adek akan siuman dalam kurun waktu 1x 24 jam " ujar Fahrizi.
" Emang nya sakit Elna parah ya mas? tanya Elna sambil melepas kan pelukan suami nya.
Fahrizi binggung harus jawab apa. lalu dengan cepat Fahrizi menjawab
" Nggak parah kok sayang. Hanya saja karena tadi Elna pingsan terlalu lama baru mendapatkan pertolongan makah nya dokter bilang begitu " jawab Fahrizi
" Ooh!" ujar Elna
"Dek kenapa Elna nggak bilang sama mas kalau tadi pagi Elna pusing? tanya Fahrizi.
"Elna nggak mau merepotkan mas. Karena mas mau kerja " jawab nya polos
"Lain kali Elna nggak boleh begitu. Mas ini suami Elna. tempat nya Elna mengaduh, tempat Elna berbagi, tempat Elna meminta apa pun.
Elna nggak boleh menyimpan semua nya sendiri. Apa pun yang menjadi beban pikiran Elna. Elna harus berbagi sama mas.
Elna menganggap mas ini suami Elna atau tidak ? tanya Fahrizi.
"Iya lah mas kalau Elna nggak nganggap mas suami. Elna nggak mungkin mau di apa - apain mas sampai buncit seperti ini " ujar Elna sambil cemberut.
Mama Maryam yang dari tadi hanya jadi penonton tertawa.
"Benar tu kak apa yang di bilang nak Elna! ujar mama Maryam.
"Tapi maksud Fahrizi. Elna nggak pernah ngeluh sama Fahrizi ma " ujar Fahrizi
__ADS_1
" Ya udah kak sebaik nya sekarang kakak temui dokter dulu. Soal nya tadi dokter bilang mau bicara sama kakak. Biar nak Elna mama yang jaga " ujar mama Maryam lagi.
" Iya ma. titip ya ma " ujar Fahrizi
"Iya" jawab mama Maryam.
Fahrizi pergi keruangan dokter yang menangani Elna.
"Tok tok tok ! pintu di ketuk
" Iya silahkan masuk" ujar sang dokter.
"Hai Pak fahrizi. Perkenal kan nama saya Antonio. tapi cukup panggil saya Dokter Anton saja" sapa sang dokter sangat ramah.
Fahrizi tersenyum sambil menjabat tangan dokter Anton. Lalu berkata
" Saya Muhammad Fahrizi. cukup panggil Fahri atau Fahrizi saja" ujar Fahrizi.
" Silahkan duduk Pak Fahri !
" Terima kasih dok!
Fahrizi pun duduk.
"Begini Pak Fahri ini mengenai penyakit isteri anda. Menurut saya sebaik nya nyonya Elna tidak mengetahui masalah ini.
Takut nya pasien akan semakin drop. Mengingat beliau sedang mengandung. kalau pasien stres atau drop merasa kan ketakutan berlebih itu tidak baik.
Karena akan berpengaruh juga ke si janin nya.
Besok kita akan melakukan rontgen kembali untuk memastikan hasil nya. Semoga saja semua nya sesuai yang kita harapkan.
Yang kita khawatirkan adalah kemungkinan kalau itu sudah berkembang.
Kita akan mengalami kesulitan karena beliau dalm keadaan mengandung " jelas dokter Anton
Fahrizi terdiam mendengar penjelasan sang dokter. Dia tidak mau mendengar kemungkinan yang ke dua itu terjadi.
"Semoga semua nya baik-baik saja dok. Dan Allah jauh kan kemungkinan ke 2 itu dari kita." ujar Fahrizi
" Iya Pak. Bapak dan keluarga banyak berdo'a saja semoga hasil nya besok semua itu tidak ada. dan hasil yang kemarin hanya kesalahan saja" ujar dokter Anton
"Aamiiin. Semoga saja dok! ujar Fahrizi
" Kalau begitu saya permisi dulu dok. Terima kasih untuk semua nya " ujar Fahrizi sambil kembali menjabat tangan dokter Anton.
"Sama-sama Pak! jawab dokter Anton.
Fahrizi keluar dengan perasaan berkecamuk. Namun dia harus menyembunyikan itu. Jangan sampai Elna curiga dan bertanya tentang penyakit nya.
Karena Fahrizi tidak tahu harus jawab apa kalau sampai Elna bertanya.
Fahrizi memilih pergi ke musholah rumah sakit terlebih dahulu untuk menunaikan ibadah sholat magrib sebelum kembali ke kamar rawat Elna.
Mungki setelah sholat dia akan mendapatkan sedikit ketenangan. itu yang ada dalam pikiran Fahrizi.
Saat Fahrizi mau masuk musholah Fahrizi bertemu mama nya.
__ADS_1
"Ma...,
" Iya mama juga mau sholat dulu. Elna ada adik mu Dinda yang jaga " ujar mama seolah paham dengan tatapan putra nya.
"Oh.. Dinda udah datang ya ma? tanya Fahrizi.
" Iya. Adik mu juga sudah membawa kan makan malam untuk kita " ujar mama Maryam lagi.
"Ya udah ma. Yuk kita sholat dulu.
Di kamar rawat Elna.
Dinda sibuk bercerita tentang apa yang di lihat nya tadi sebelum dia kerumah sakit.
Elna sekarang paham apa yang di maksud Fahrizi dengan mencari ke ajaiban.
Elna tersenyum dalam hati nya berkata
"Mas... Elna bangga sama mas. Di saat mas takut mas khawatir. mas mencari ridho allah. Mas minta kepada yang tepat.
Apa yang mas lakukan sudah tepat. Tawakal dan pasrah pada allah itu di lakukan setelah kita ihktiar. Bukan hanya pasrah saja.
Kamu imam yang baik mas. Semoga Allah meridhoi setiap tindakan yang mas lakukan. Batin Elna
"Kak...! Kakak kenapa diam ? apa ada yang sakit? tanya Dinda pada Elna.
" Nggak kok dek. Kakak nggak apa-apa" jawab Elna.
"Assalammu'alaikum..., suara dari pintu membuat Dinda dan Elna menoleh ke pintu.
Wa'alaikumsalam... jawab ke dua nya.
" Mama..., Kakak kok barengan? " ujar Dinda
" Iya tadi mama ketemu sama kakak di musholah " jawab mama Maryam
Fahrizi menghampiri Elna
" Adek makan belum?
" Belum mas. Elna mau makan bareng aja. "jawab Elna.
" Ya udah sekarang mas suapin adek makan ya! ujar Fahrizi.
"Nggak usah mas. Elna makan sendiri aja biar mas juga makan " jawab Elna.
" Benar nggak mau mas suapin? tanya Fahrizi.
"Benar mas. " jawab Elna
"Yuk kita makan sekarang "ujar mama Maryam.
Mereka pun makan bersama. Walau pun makan nya di rumah sakit nggak kalah nikmat nya dengan makan di restoran mewah. Karena mereka menikmati nya kebersamaan dan merasakan ke hangatan keluarga.
Tinggal kan jejak dong untuk Author. Biar author semangat nulis nya.
Tanpa dukungan kalian author bukan apa-apa.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan comment. Buat yang sudah mampir dan ninggalin jejak terima kasih banyak ya