
Fahrizi kembali ke kamar rawat Elna di sana sudah ada mama dan dokter Anton. Elna pun sudah bangun.
"Assalammu'alaikum...." ujar Fahrizi.
"Wa'alaikumsalam... jawab mama dan Elna.
"Kakak bagai mana sih di suruh jaga isteri nya malah di tinggal " ujar mama Maryam.
"Ma'af ma. Tadi Fahri sholat subuh di musholah langsung sarapan ke kantin. Tadi dek Elna belum bangun " ujar Fahrizi.
Mama cemberut tapi dalam hati beliau tersenyum. Saat mendengar Fahrizi mengucapkan kata dek Elna.
"Mungkin kah ingatan Fahri sudah kembali normal. Apa dia sudah ingat semua nya? " batin mama.
"Alhamdulillah akhir nya rencana ku berhasil. Terima kasih ya allah engkau telah mendengar kan do'a hambah selama ini. Semoga kedepan nya tidak ada lagi masalah yang berarti dalam rumah tangga anak-anak hambah " batin mama.
"Baik bu. Semua nya sudah normal. Jika tidak ada keluhan hari ini besok bu Elna boleh pulang " ujar dokter Anton sambil tersenyum.
"Terima kasih dok! " ujar Elna.
Fahrizi langsung mendekat pada Elna. lalu bertanya
"Dek... Kakak senang adek udah sadar " ujar Fahrizi.
"Iya mas " ujar Elna sambil tersenyum menatap suami nya.
"Kok mas. bukan kakak " ujar Fahrizi.
"Kan mas sendiri yang bilang. Kalau kakak itu kurang mesra. Mas juga yang nyuruh Elna manggil mas. Mas bilang kalau Elna panggil kakak mas serasa di panggil sama Dinda " ujar Elna lalu tersenyum kembali melihat suami nya.
"Gitu ya dek " ujar Fahrizi.
"Iya mas " jawab Elna semangat.
"Adek tunggu sebentar ya. Mmm mas belikan sarapan untuk adek " ujar Fahrizi.
"Nggak perlu beli Kak. Mama udah bawa masakan dari rumah untuk Kakak sama nak Elna " ujar mama.
Mama membuka rantang yang di bawa nya di dalam rantang terdapat beberapa menu sehat untuk di santap.
"Ini mama tadi masak sup daging. lihat tu segar kan dan tentu nya juga enak " ujar mama.
Fahrizi berdiri dan mengambil kan makanan untuk Elna.
"Dek makan ya. Mas suapin" ujar Fahrizi.
Elna mengangguk pertanda mengiyahkan.
Fahrizi menyuapi Elna dengan begitu telaten sampai makanan tidak bersisa sedikit pun.
__ADS_1
Keesokan hari nya Elna di nyatakan boleh pulang. Fahrizi membawa Elna pulang dengan penuh suka cita. Fahrizi benar-benar menepati janji nya untuk membahagiakan Elna. Sebelum Elna sampai di rumah. Fahrizi sudah mempersiapkan kejutan untuk Elna.
Fahrizi mendekorasi kamar mereka bak kamar pengantin. Di atas tempat tidur penuh dengan kelopak mawar merah. Semua seperai dan tirai di ganti dengan warna kesukaan mereka yaitu warna hijau.
Sesampai nya di rumah Fahrizi langsung membawa Elna naik ke atas ke kamar mereka. Tadi nya Elna berniat untuk kekamar putra nya terlebih dahulu. Tapi Fahrizi melarang nya dengan alasan Elna harus beristirahat terlebih dahulu baru boleh beraktivitas.
Karena tidak mau mengecewakan suami nya Elna nurut. Saat masuk kamar Elna tertegun untuk sesaat menyaksikan pemandangan yang begitu menakjubkan dari kamar mereka.
Elna terharu dengan semua itu. Elna memeluk suami nya dan berkata.
"Mas..., makasih banyak untuk semua ini" ujar Elna.
Ternyata tidak hanya sampai di situ kejutan nya. Fahrizi membimbing Elna berjalan ke meja rias Elna. Fahrizi membuka laci meja dan mengeluarkan kotak berbentuk hati Warna merah. Di buka nya kotak tersebut yang isi nya sebuah kalung emas dengan liontin berlian.
Dengan harga yang cukup pantastis. Mungkin jika Elna tahu harga nya Elna tidak akan mau memakai nya. Karena Elna tidak suka barang-barang mahal.
"Mas apa ini nggak berlebihan. Elna nggak perlu hadiah seperti ini mas. Elna hanya butuh mas. Mas udah ingat Elna aja itu sudah merupakan hadiah yang tak ternilai harga nya untuk Elna" ujar Elna.
" Nggak ada yang berlebihan dek. Bahkan ini semua tidak ada arti nya di banding kan dengan semua kesabaran dan pengorbanan adek selama ini " ujar Fahrizi sambil memakai kan kalung tersebut di leher jenjang isteri nya.
Fahrizi lalu memeluk Elna dari belakang. Di benam kan nya hidung bangir nya di ceruk leher Elna. Aroma yang sudah lama di lupakan nya. Dulu aroma ini merupakan candu bagi Fahrizi.
Elna membiarkan Fahrizi memeluk nya.
"Dek ma'af kan mas ya " ujar Fahrizi.
"Mas nggak perlu minta ma'af mas. Semua yang mas lakukan itu bukan keinginan mas. Semua nya terjadi karena mas hilang ingatan. Elna tahu mas orang yang baik " ujar Elna.
"Itu bagian dari perjalanan rumah tangga kita mas. Mas nggak perlu merasa bersalah lagi. Semua sudah berlalu. Sekarang kita jalani kedepan nya " ujar Elna sambil menoleh suami nya dari pantulan kaca rias di depan nya.
"Benar kata orang - orang dek. Adek itu orang yang sangat baik hati " ujar Fahrizi lalu mendarat kan kecupan di leher jenjang Elna.
"Sekarang adek istirahat ya. Mas mau ke kamar Axel sebentar " ujar Fahrizi.
"Elna juga mau lihat Axel mas. Elna kangen sama Axel " ujar Elna.
"Ya sudah kalau begitu adek tunggu di kamar. Mas akan membawa Axel ke kamar kita" ujar Fahrizi.
"Iya mas " ujar Elna.
Fahrizi menuju kamar Axel. Sesampai nya di kamar Axel ternyata Axel sedang bermain sama bi Wati.
"Assalammu'alaikum..., " ujar Fahrizi.
"Wa'alaikumsalam..., jawab bi Wati.
"Tuan kecil..., itu Abi nya tuan... " ujar bi Wati.
Axel tertawa sambil menepuk nepukan tangan nya di boneka karakter berwarna hijau tersebut.
__ADS_1
Fahrizi mendekat pada Axel.
"Sayang kita kekamar Abi yuk. Umi kangen sama kamu " ujar Fahrizi.
Axel ngoceh ciri khas anak kecil lalu Axel mengangkat kedua tangan nya. pertanda dia setujuh untuk ke kamar Umi nya.
"Kita ke Umi ya. Axel kangen Umi kan nak " ujar nya.
Axel kembali mengoceh sambil memonyong - monyong kan bibir nya.
"Kamu mengemaskan sekali nak " ujar Fahrizi sambil mendarat kan kecupan di pipi gemas nya Axel.
"Ya allah ternyata anak ku sangat lucu dan mengemaskan. kenapa kau sempat hapus dia dari memori ingatan ku. batin Fahrizi.
Mereka pun sampai di kamar Elna dan Fahrizi.
"Assalammu'alaikum... Umi.... " ujar Fahrizi.
"Wa'alaikumsalam...., jagoan Umi... " jawab Elna.
Elna bangun dan bersandar di kepala tempat tidur. Karena kondisi tubuh nya memang masih sedikit lemas.
"Sini sayang. Jagoan Umi makan belum? tanya Elna.
"Sudah dong Umi. Axel makan di suapi sama bi Wati " jawab Fahrizi mewakili putra nya.
Axel menarik narik baju Elna.
"Kenapa sayang Axel mau susu nya ya" ujar Elna.
Elna baru saja mau mengeluarkan ASI nya.Fahrizi berkata
"Dek apa nggak apa-apa Axel minum ASI adek. Adek kan belum pulih sepenuh nya. " ujar Fahrizi.
"Iya ya mas. Kemarin aja dokter Anton melarang Elna memberi ASI pada Axel. Tapi seperti nya dia mau mas. Mana ini dah bengkak lagi. Tadi Elna belum sempat pompa " ujar Elna.
"Axel biar minum susu Formula dulu ya. Biar mama atau bi Wati yang memberi nya susu " ujar Fahrizi.
"Iya mas. Mas sekalian ya tolong ambilkan pompa ASI di dalam tas dari rumah sakit tadi Elna mau mompa ASI biar nggak tambah sakit " ujar Elna.
"Iya nanti mas ambil kan " ujar Fahrizi.
Fahrizi membawa Axel turun ke bawah untuk di beri susu.
"Ma. tolong suruh bi Wati buatkan susu Axel ya. Axel nya haus kan sayang " ujar Fahrizi.
" Biar mama yang buatkan tunggu sebentar ya. " ujar mama.
Fahrizi dan Axel menunggu di ruang tv. Tidak lama kemudian mama datang dengan sebotol susu.
__ADS_1
"Ma pompa ASI dek Elna mana. ASI nya sakit kata nya karena ASI nya kepenuhan " ujar Fahrizi.
"Sebentar ya mama ambilkan " ujar mama.