
"Kalau begitu coba neng Lia sedikit feminim neng. Supaya cowok - cowok nggak takut! " ujar bi Wati.
"Akan saya pertimbangkan nanti bi " jawab Lia tetap fokus dengan setir mobil nya.
Mereka pun sampai di kediaman Fahrizi dan Elna.
" Nggak mampir dulu neng " tawar bi Wati.
"Nggak usah bi. Terima kasih lain kali saja" jawab Lia.
"Baik Neng kalau begitu bibi masuk dulu. Assalammu'alaikum... " ujar bi Wati.
"Iya bi. Wa'alaikumsalam... " jawab Lia
Bibi Wati pun masuk kerumah. Dan Lia melajukan mobil nya menuju pulang.
Dalam perjalanan menuju rumah Lia berpikir.
"Mungkin ada benar nya juga apa yang di katakan bibi Wati. Kalau saya berdandan sedikit feminim mungkin akan ada cowok yang melirik saya" batin Lia.
Sesampai nya di rumah Lia mencoba pakaian sedikit feminim. Lia mematut diri nya di depan cermin.
"Kalau cantik gue dari lahir udah cantik. hanya saja gue nggak nyaman dengan pakaian seperti ini " batin Lia sambil menarik napas panjang lalu membuang nya dengan kasar.
Bodoh amat ah sama penampilan gue. Kalau memang ada cowok yang mau sama gue dia harus menerima gue apa ada nya" ujar Lia sembari menganti kembali pakaian nya dengan yang biasa dia kenakan.
Di kostan Aisyah
"Assalammu'alaikum... bu" ujar Aisyah.
"Wa'alaikumsalam... Aish. Apa kabar mu nak? tanya ibu
"Alhamdulillah Aish baik bu. Bagai mana kabar bapak, ibu, sama adek? tanya Aisyah balik.
"Semua baik nak. Kami semua sehat " jawab ibu.
"Syukur lah bu kalau semua sehat. Oh ya bu kak Elna sudah Lahiran anak kak Elna cowok. Ganteng banget bu" ujar Aisyah mengebuh-gebuh.
"Bagai mana keadaan kakak mu. apa dia sehat? tanya ibu.
"Alhamdulillah Kakak dan anak nya sehat semua bu" jawab Aisyah.
"Syukur lah kalau begitu " ujar ibu.
__ADS_1
Dari suara nya Aisyah tahu kalau ibu nya sedih.
" Bu minggu depan Aisyah selesai magang bagai mana kalau bapak, ibu sama adek ke Palembang " ujar Aisyah.
"Lihat nanti ya nak. Kalau nggak ada halangan ibu sama bapak juga adek mu akan ke Palembang " jawab ibu.
"Baik bu semoga tidak ada halangan " ujar Aisyah.
"Aamiiiin " ujar ibu.
"Bu sudah dulu ya dah mau magrib Aish belum mandi " ujar Aisyah.
"Iya nak. Assalammu'alaikum... " ujar ibu.
"Wa'alaikumsalam... bu" jawab Aisyah.
Setelah menutup sambungan telepon nya. Ibu kembali teringat akan putri nya Elna.
"Na' tidak terasa kini kau telah menjadi seorang ibu. Ibu harap kau akan mengerti arti marah ibu pada mu bukan karena benci tapi karena sayang " batin ibu tidak terasa jatuh butiran bening dari sudut mata yang sudah mulai keriput itu.
Ibu berdiri masuk ke kamar dan meraih dompet kecil nya. Lalu beliau pergi ke pasar untuk membeli kado untuk cucu nya.
Ibu berniat mengirim kan kado walau pun beliau belum mau ketemu Elna.
"Ma'af kan nenek sayang. Nenek bukan nggak mau melihat kamu tapi untuk saat ini nenek belum ingin ketemu ibu mu" batin ibu sambil menatap kado tersebut.
Beliau pulang dan menaru bingkisan tersebut di atas lemari. Saat malam hari bapak melihat bungkusan itu dan bertanya.
"Kotak apa di atas lemari bu? tanya bapak.
"Kado untuk anak nya Elna pak. Ibu akan menitipkan nya pada Aisyah " jawab ibu.
"Oh Elna sudah Lahiran ya bu? tanya bapak bersemangat.
"Iya anak nya laki-laki " ujar ibu
"Ayo kita berkunjung bu. Bapak ingin sekali melihat cucu kita? ujar bapak nya Elna.
"Jika bapak mau silakan bapak pergi. Ibu belum ingin ketemu mereka pak" jawab ibu sembari sibuk merapi kan sarung bantal.
"Bu.... sampai kapan ibu seperti ini? Kasihan Elna. Dia sangat merindukan ibu. Kita nggak tahu umur ini sampai kapan. jangan sampai ibu menyesal nanti nya" ujar bapak lagi.
Ibu terdiam duduk di bibir tempat tidur. Ibu memandang kosong jauh kedepan. lalu berkata
__ADS_1
"Ibu sangat kecewa sama Elna pak. Dia menghancurkan masa depan nya dengan perbuatan nya sendiri " ujar ibu. Dari sudut mata beliau mulai mengalir kristal bening.
"Itu semua bukan kehendak Elna bu. Melainkan ke hendak yang maha kuasa. Lagi pula sekarang hidup Elna baik-baik saja. Dia hidup dengan orang - orang yang menyayangi nya. Fahri suami nya juga sangat baik dan bertanggung jawab " ujar bapak.
"Ibu mau tidur pak" ujar ibu sembari merebahkan tubuh yang mulai rentah di atas kasur tua nya.
Bapak beranjak dari duduk nya keluar dari kamar. Bapak memilih menikmati angin malam di teras rumah mereka. Bapak duduk di kursi yang biasa bapak duduk. Selama ini jika Elna sedang libur sekolah Elna senang sekali menemani beliau duduk di teras. Selain membuatkan bapak kopi. Elna juga suka menjadi teman ngobrol bapak.
"Na' bapak kangen duduk bersama Elna " ujar bapak lirih.
"Semoga allah memberikan kebahagiaan untuk mu nak " ujar bapak lagi.
"Bapak ini mempunyai enam orang anak tapi kenapa kamu sangat berbeda dari saudara - saudara mu yang lain na'. Kamu tidak pernah meminta atau mengeluh. Tapi kenapa juga kamu yang harus selalu mendapat cobaan. Bapak sangat memahami mu. Kamu selalu berusaha tegar di saat kamu rapuh. Elna bapak selalu berdo'a semoga kamu mendapatkan yang terbaik dalam hidup mu" batin bapak
Tanpa sadar bapak menangis hingga sesegukkan. beruntung ibu tidak mendengar nya.
Bapak pun bergegas ke kamar mandi lalu berwudhu. Bapak memang belum melaksanakan sholat isya. Beliau lalu sholat isya.
Di tempat lain tepat nya di sebuah rumah sakit bersalin.
"Dek kok belum tidur. Kenapa? " tanya Fahrizi.
"Nggak apa-apa mas. Elna hanya lagi ingat bapak aja " jawab Elna.
"Adek mau nelepon bapak. Kalau mau telepon aja. Mungkin bapak juga belum tidur " ujar Fahrizi.
"Nggak usah mas. Takut nya ibu belum tidur. Nanti bapak di marah ibu kalau tahu Elna nelepon " ujar Elna.
"Ma'af kan mas dek. Semua ini karena mas. Karena mas adek harus di benci sama ibu" ujar Fahrizi.
"Nggak perlu minta ma'af mas. Semua yang terjadi tidak sepenuh nya salah mas. lagi pula ibu tidak membenci Elna. Ibu hanya kecewa saja" jawab Elna.
"Mas beruntung punya isteri seperti Elna dek. Bapak sama ibu orang tua yang istimewa mereka mampuh melahirkan anak seperti adek " ujar Fahrizi sambil menyandarkan kepala Elna di dada bidang nya.
"Semua orang tua itu istimewa mas. Termasuk mas. Mas juga orang tua yang istimewa " ujar Elna.
"Dek sekarang istirahat ya. Takut nya adek belum sempat tidur. Axel dah bangun " ujar Fahrizi.
"Iya mas " ujar Elna.
Fahrizi menemani Elna tidur di ranjang Elna. Kebetulan ranjang rawat Elna memang cukup besar. Jadi bisa untuk berdua.
Terima kasih ya untuk kamu yang setia menunggu Up nya ESGDYM. ma'af jika cerita Markenaff membosankan.
__ADS_1