
"Nggak usah ma biar Fahri aja yang ambil. Mama tolong kasih susu Axel aja " ujar Fahrizi.
Fahrizi mengambil pompa ASI lalu membawa nya ke atas ke kamar mereka.
"Dek ini pompa sama botol ASI nya " ujar Fahrizi.
"Terima kasih mas... " ujar Elna.
Elna membuka sebagian kancing gamis nya. Lalu di keluarkan nya sesuatu yang sangat di sukai suami nya itu. Elna pikir setelah hilang ingatan Fahrizi tidak lagi menyukai itu. Elna santai saja. Elna mulai menyedot ASI nya. Fahrizi mendekat lalu bertanya.
"Dek sakit nggak di gitukan? tanya Fahrizi.
"Sedikit mas. Lebih sakit kalau nggak di keluarkan " jawab Elna.
Perlahan Fahrizi menarik pompa itu dan meletakkan nya di atas nakas.
"Biar mas saja. Supaya nggak sakit " ujar Fahrizi.
Elna diam saja. Fahrizi mulai menghisap puncak kecokelatan itu dengan lembut. Setiap Fahrizi merasa mulut nya penuh dia memuntahkan nya ke dalam gelas. Lalu kembali menghisap nya. Elna merasakan sensasi lain saat Fahrizi menghisap puncak kecokelatan nya itu. Lain dengan hisapan Axel putra nya.
"Mas.... " ujar Elna.
"Kenapa sayang " ujar Fahrizi.
"Mas... " ujar Elna sambil menjambak rambut suami nya.
Fahrizi mengerti apa yang di inginkan isteri kecil nya tersebut. Fahrizi membuka baju Elna hingga hanya tersisa segi tiga tipis itu saja. Kemudian Fahrizi pun membuka semua pakaian nya. Fahrizi menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
Fahrizi mengucapkan do'a yang biasa dia ucapkan sebelum memulai kegiatan nya bersama sang isteri.
Lalu melanjutkan kegiatan nya. menghisap puncak kecil itu lalu naik ke leher berlanjut ke bibir ranum sang isteri. Setelah puas bermain dengan dada dan bibir Fahrizi turun ke bawah. Di buka nya segi tiga tipis itu. Lalu di jilat nya. Fahrizi kembali naik ke atas kemudian Fahrizi mulai menancapkan Senjata pusaka nya secara perlahan.
Walau pun perlahan itu sangat sakit bagi Elna. Karena ukuran senjata Fahrizi memang di atas rata-rata.
Fahrizi mulai bergerak perlahan naik turun. Seiring dengan itu Elna pun mulai merasa kan kenikmatan yang tiada tara. Yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
Fahrizi bergerak dengan sangat hati-hati. Sesekali dia mampir ke candu nya yaitu puncak kecokelatan tersebut. Di hisap nya berulang ulang puncak itu. Membuat Elna semakin menuntut.
Elna mendesah merasakan kenikmatan atas sentuhan suami nya. Dengan ******* - ******* itu membuat Fahrizi semakin terpacu untuk melakukan gerakan nya. Jika tadi Fahrizi hanya melakukan naik turun saja kini dia mulai berani menghentakan senjata nya hingga masuk semua membuat Elna menjerit karena sakit dan nikmat menjadi satu.
Fahrizi membungkam Elna dengan ******* bibir Elna sambil tetap melancarkan serangan. Sampai akhir nya mereka mencapai bersamaan.
Setelah selesai dengan aktivitas nya Fahrizi membawa Elna ke kamar mandi. Di kamar mandi sudah tersedia air hangat bercampur kelopak bunga mawar merah di dalam bathtub.
Fahrizi mengendong Elna masuk ke dalam bathtub lalu Fahrizi ikut masuk kedalam bathtub tersebut. Fahrizi melanjutkan tugas nya yaitu mengeluarka ASI Elna agar tidak sakit. Dihisap nya gunung kembar Elna secara bergantian sampai kedua tidak terlalu kencang lagi.
Sentuhan demi sentuhan yang di lakukan Fahrizi membuat Elna kembali menginginkan sesuatu. Fahrizi pun sangat peka dengan keinginan isteri nya. Fahrizi membawa tubuh Elna keluar dari bathtub.
Di bawa nya Elna kebawah sower. Mereka melakukan nya di bawah siraman air dari sower di atas sehelai handuk tebal sebagai alas nya.
"Sayang mas mencintai mu" bisik Fahrizi di selah aktivitas nya.
__ADS_1
"Elna juga mencintai mas... " jawab Elna sambil memegang kedua pipi suami nya.
Fahrizi lalu ******* bibir Elna. Turun lagi ke dada indah sang isteri. Di mainkan nya puncak kecokelatan itu dengan lidah membuat pemilik nya mendesah, mengeliat karena kenikmatan.
"Love you sayang " ujar Fahrizi.
"Love you too " mas " jawab Elna.
Fahrizi melakukan nya dengan penuh gairah. Sehingga tidak lama kemudian mereka mencapai puncak nya.
"Dek sekarang mandi ya " ujar Fahrizi.
"Iya mas " jawab Elna.
Fahrizi kembali membawa Elna ke bathtub. Setelah berendam beberapa saat. Elna keluar dari bathtub menuju sower. Elna melakukan mandi wajib. di bawa siraman air sower. Fahrizi pun melakukan hal yang sama. Selesai mandi mereka melakukan sholat Ashar berjama'ah.
Selesai sholat Fahrizi dan Elna turun ke bawah. Menuju ruang tv. Untuk menemui Axel dan mama Maryam.
Mama tersenyum melihat anak dan mantu nya turun dengan rambut yang masih basah. Mama dapat menebak apa yang baru saja terjadi.
"Hallo jagoan Abi. Udah minum susu nya? tanya Fahrizi.
"Sudah dong dedek Axel kan pintar ya dek! ujar mama.
"Gimana nak masih bengkak nggak ASI nya? tanya mama pura-pura nggak tahu.
"Nggak Ma. Udah nggak bengkak lagi. " jawab Elna.
Yang di tatap senyum - senyuman sendiri.
"Iya mas yang habisi tapi adek suka kan kalau mas yang menghisap nya " batin Fahrizi. tersenyum nakal sambil menaikkan satu alisnya.
"Ma..., mama nginap kan?" tanya Elna.
"Iya mama nginap. Mama juga sudah kasih tahu Dinda untuk ke sini " ujar mama.
"Kalau begitu Elna ke dapur dulu ya ma. Elna akan memasak untuk makan malam" ujar Elna.
"Biar mama saja kak yang masak sama bi Wati. Kakak istirahat aja dulu. Dedek Axel biar Abi nya yang jaga " ujar mama.
"Nggak apa-apa Ma. Elna dah baikan kok. Elna bosan kalau baring terus " ujar Elna.
" Ya udah kalau begitu kita masak bareng ya. Mama bantu supaya kakak nggak terlalu capek. " ujar mama.
"Iya Ma. " jawab Elna.
Mama dan Elna menuju dapur untuk memasak makan malam. Bi Wati yang memang sudah berada di dapur tersenyum melihat kedatangan kedua majikan nya tersebut.
"Kita mau masak apa Kak? tanya mama Maryam.
"Menurut mama sebaik nya kita masak apa ya Ma? tanya Elna balik.
__ADS_1
" Gimana jika kita masak rendang kak. Waktu nya kan masih panjang jadi sempat jika kita masak rendang " ujar mama.
"Ide bagus Ma. Dah lama kita nggak masak rendang " ujar Elna bersemangat.
"Oke kita masak rendang " ujar mama.
"Bi kita masih ada stok daging nggak? tanya Elna.
"Masih ada bu. " jawab bi Wati.
"Tolong siap kan daging sapi nya ya bik. Sama sayuran. Kita masak sayur capcai, masih ada udang juga kan bik? Ambil kan udang juga saya mau bikin sambal udang " ujar Elna.
"Baik bu " ujar bi Wati.
Elna dan mama menyiapkan bumbu - bumbu untuk memasak. termasuk memarut kelapa dan membuat kelapa sangrai nya. Supaya rendang nya hitam dan enak. Sekitar dua jam mereka bertempur dengan alat dapur akhir nya semua masakan selesai semua di masak dan siap di hidangkan.
"Pas ya kak. Sebelum magrib kita selesai masak nya " ujar mama.
"Iya Ma. " jawab Elna sambil tersenyum melihat mama mertua nya.
Mereka kembali ke kamar masing-masing untuk mandi dan melaksanakan ibadah sholat magrib.
Begitu pun dengan Elna. Elna naik ke atas untuk ke kamar nya. Saat sampai di kamar Elna terdiam untuk sesaat. Elna terdiam melihat pemandangan yang begitu menyejukan mata.
Fahrizi sedang memakaikan Axel baju setelah terlebih dahulu memandikan nya.
Fahrizi terlihat begitu terlatih memakaikan Axel popok. Elna berjalan mendekati kedua orang yang sangat di cintai nya itu.
"Waaah adek sudah mandi ya sama Abi " tanya Elna.
"Iya Umi. Sekarang giliran Umi dong yang mandi bentar lagi magrib " ujar Fahrizi menirukan suara anak - anak.
Elna pun mandi. Selesai mandi mereka melaksanakan sholat magrib di kamar karena Axel nggak ada yang jaga. Begitu pun Mama Maryam dan bi Wati. Mereka sholat di kamar masing-masing.
Selesai sholat Elna langsung turun ke bawah bersama Fahrizi dan Axel. Elna langsung kedapur untuk menghidangkan makan malam. Sementara Fahrizi dan Axel menunggu di meja makan.
Sambal terasi dan sawi pahit rebus ke sukaan mama.
Rendang ala mama dan Elna.
Sambal udang.
Capcai udang, Sosis, jamur.
__ADS_1
Setelah semua nya terhidang. Mama dan bi Wati datang mereka pun makan malam bersama.