Elna Si Gadis Desa Yang Malang

Elna Si Gadis Desa Yang Malang
Orang Pertama


__ADS_3

Bibi Wati memasak sesuai dengan pesanan mama Maryam. Selesai masak bi Wati bergegas akan mengantar kan makanan tersebut kerumah sakit.


Di rumah sakit


"Assalammu'alaikum.... Mamud! " ujar Lia


"Wa'alaikusalam... ! jawab Fahrizi Dan Elna.


"Kok Mahmud sih ? sejak kapan suami ku yang ganteng ini ganti nama? " ujar Elna.


"Bukan Mahmud na'. Tapi Mamud (Mama muda) " jawab Lia.


"Tumben loh agak lemot biasa nalar nya paling cepat " ujar Lia lagi


"Maklum udah tua " jawab Elna sambil terkekeh.


"Terserah loh deh na'. Selamat ya atas kelahiran putra pertama kalian dan ini ada sedikit oleh-oleh untuk baby boy " ujar Lia


"Makasih ya ia'. Loh mau datang aja gue dah senang banget " ujar Elna.


"Sama-sama. Gue kangen sama loh na'. dah lama juga ya kita nggak ketemu " ujar Lia.


"Loh sih nggak mau main kerumah " ujar Elna.


"Bukan nggak mau na'. Loh kan tahu sendiri gue sibuk kerja. Gue karyawan bukan bos seperti suami loh" ujar Lia.


"Oh ya na'. mana baby nya. Gue mau lihat dong " ujar Lia.


"Itu lagi tidur di box nya " ujar Elna.


"Dek mas keluar sebentar ya " ujar Fahrizi.


"Iya mas" jawab Elna.


"Lia! Kakak titip Isteri kakak ya. Kakak mau keluar sebentar " ujar Fahrizi.


"Siiiip kak" jawab Lia.


"Na' sumpah baby loh ganteng banget. Gemas lihat nya. " ujar Lia.


"Iya lah. Orang Umi nya Cantik " ujar Elna sambil cengengesan.


"Sejak kapan loh alay gini " ujar Lia


"Sejak saat ini" jawab Elna sambil tersenyum.


"Ini seperti nya perubahan hormon deh na' " ujar Lia.


"Tapi udah lah yang penting loh senang " ujar Lia.


"Na' gimana sekarang, apa masih ada yang ganggu rumah tangga loh? tanya Lia.


"Alhamdulillah, nggak ada lagi ia'. " jawab Elna.


"Bagus deh. Semoga Kak Fahri benar - benar dah berubah " ujar Lia.


Di sebuah Restoran


Fahrizi sedang di kasir untuk membayar nasi yang di pesan nya. Tiba-tiba ada sebuah tangan melingkar di pinggang Fahrizi. Memeluk Fahrizi dari belakang.


Fahrizi kaget dan reflek berbalik sambil melepas kan tangan yang memeluk nya.


"Taraaa" ujar Dinda sambil mengangkat kedua tangan nya.


"Dedek nggak lucu tahu bercanda nya" ujar Fahrizi .


"Kenapa kakak pikir mantan-mantan kakak itu ya? tanya Dinda.


"Iya " jawab Fahrizi ketus.

__ADS_1


"Kenapa kakak ngarap ya " goda Dinda.


"Bukan ngarap. Tapi takut " jawab Fahrizi lagi.


"Lagian kakak ngapain sih ninggalin kak Elna sendirian di rumah sakit cuma untuk beli nasi. Kan bisa dilevery kak nggak harus ke sini " ujar Dinda.


"Siapa bilang kakak mu sendiri? tanya Fahrizi.


"Terus sama siapa? tanya Dinda balik.


"Sama si Lia teman kalian itu" ujar Fahrizi.


"Oooh" jawab Dinda.


"Udah ah kakak mau kembali kerumah sakit " ujar Fahrizi setelah membayar pesanan nya.


"Ya udah hati-hati kak " ujar Dinda.


"Iya " jawab Fahrizi sambil berlalu tanpa menoleh.


Fahrizi melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang. Di perjalanan Fahrizi memikir kan kejadian tadi.


"Untung aja itu Dinda " batin Fahrizi.


Fahrizi ingat betul kejadian beberapa hari yang lalu salah satu mantan nya mengirim kan beberapa Foto diri nya bersama perempuan tersebut nyaris tanpa busana. Beruntung foto itu di terima satpam bukan Elna atau bi Wati.


Sehingga foto itu tidak sampai ke tangan Elna. Fahrizi memang pernah bilang ke satpam rumah nya kalau ada paket harus kasih tahu diri nya terlebih dahulu sebelum di sampaikan ke orang rumah. Dan satpam itu cukup amanah.


Fahrizi tidak ingin menyakiti Elna sedikit pun. Maka karena itu Fahrizi sangat takut jika ada sesuatu yang akan menyakiti hati Elna.


Bagi Fahrizi saat ini kebahagiaan Elna dan Axel adalah prioritas utama nya.


Di rumah sakit


"Assalammu'alaikum..., " ujar bi Wati.


"Masuk bi " ujar Elna.


Bi Wati pun masuk.


"Ini bu. Bibi bawa kan makan siang untuk ibu. Menu nya sesuai pesanan" ujar bi Wati.


"Siapa yang pesan bi ? tanya Elna.


"Ibu Maryam bu" jawab bibi


"Ooh. Makasih ya bi" ujar Elna.


"Sama - sama bu" jawab bi Wati.


"Tuan kecil nya mana bu? bibi ingin lihat " ujar bi Wati.


"Masih tidur bi. Di box nya. Silakan bibi mau lihat. Lihat aja " ujar Elna.


"Terima kasih bu !" ujar nya.


Bibi Wati menuju box baby Axel.


"Waaah si aden ganteng banget ya bu. Persis seperti pak Fahri " ujar bi Wati.


"Jangan di dengar orang nya bi. Nanti mas Fahri bisa terbang dengar pujian bibi" ujar Elna.


"Hmmm " ujar Fahrizi yang baru masuk.


"Siapa yang akan terbang sayang ? tanya Fahrizi.


"Nggak ada mas" jawab Elna.


"Ya udah kalau begitu sekarang adek makan dulu ya" ujar Fahrizi.

__ADS_1


"Mas beli nasi ya? tanya Elna.


"Iya sayang. Mas juga beli untuk Lia" ujar Fahrizi.


"Nggak usah kak Lia masih kenyang" ujar Lia.


"Ini udah kakak beli mubazir kalau nggak di makan " ujar Fahrizi.


"Iya ia'. Makan aja dulu. sayang kalau nggak di makan. Belum lagi yang di bawa bibi " ujar Elna.


"Oke deh. Kalau begitu " ujar Lia.


Mereka pun makan siang bersama. Bi Wati juga ikut makan atas permintaan Elna. Mereka tengah makan mama Maryam datang.


"Assalammu'alaikum..., ujar mama Maryam


"Wa'alaikumsalam..., jawab mereka.


"Mama. Ayo makan Ma. barengan aja " ajak Elna.


"Iya bu. Ini Nasi nya masih banyak. Tadi saya bawa dari rumah. Bapak juga beli " ujar bi Wati.


" Mama " ujar Lia sambil menyalami mama Maryam.


"Eeeh dah lama ya nggak ketemu. Apa kabar nak? tanya mama.


"Baik Ma" jawab Lia.


"Syukur lah " ujar mama lagi.


"Ini ma" ujar Fahrizi sambil memberikan nasi kotak kepada mama Maryam.


"Makasih kak" ujar mama.


"Kak. Kapan kak Elna boleh pulang? tanya mama


"Setelah tiga hari boleh pulang kok ma kata dokter Clara" ujar Fahrizi.


"Ooh. berarti besok lusa ya" ujar mama.


"Iya ma" jawab Fahrizi.


Setelah makan siang. Bi Wati pulang dengan di antar oleh Lia.


"Bi Wati seperti nya betah ya kerja di rumah Elna ! " ujar Lia


"Iya neng. Bu Elna sama pak Fahri orang yang sangat baik. Bahkan bibi nggak pernah di anggap pembantu di rumah mereka. Bibi mereka anggap seperti keluarga mereka sendiri. " ujar bi Wati.


"Alhamdulillah bi. Bibi beruntung ketemu majikan seperti mereka " ujar Lia.


"Iya neng" jawab bi Wati.


"Tapi kasihan bu Elna neng. Orang sebaik beliau banyak sekali cobaan nya" ujar bi Wati.


"Iya bi. Tapi saya salut sama Elna bi. Dia nggak pernah dendam sama orang yang jahat pada nya " ujar Lia.


"Iya Neng. Bu Elna tidak hanya cantik wajah nya tapi juga cantik hati nya " ujar bi Wati sambil tersenyum.


"Itu nama nya cantik luar dalam bi" ujar Lia.


"Tapi Neng Lia juga cantik kok baik lagi dah mau antar bibi pulang " ujar bi Wati lagi.


"Makasih bi. Bibi orang pertama bilang saya cantik selain ibu saya " ujar Lia.


"Memang nya pacar neng nggak pernah bilang kalau neng itu cantik ? tanya bi Wati.


"Saya nggak punya pacar bi. Kalau kata mama cowok itu takut sama Lia. Karena Lia tegas seperti laki-laki " ujar Lia.


Kok sepi ya. Jejak dong untuk Author

__ADS_1


__ADS_2