
Tidak terasa air mata Elna jatuh saat ingat ibu nya.
Elna kembali ke kamar karena dia tidak ingin Suami, mama mertua dan ipar nya melihat dia menangis.
Elna duduk di tempat tidur. Dia kembali ingat akan ibu nya.
Sejak Elna menikah Elna belum pernah ketemu ibu nya.
Bahkan saat Elna nelpon bapak nya sekedar ngomong saja ibu tidak mau
Beliau bahkan berpesan untuk sementara Elna tidak boleh pulang kampung
Sebelum beliau mengizinkan. Beliau juga melarang Aisyah adik nya Elna untuk bertemu dengan Elna.
Elna sadar itu semua bukan tanpa alasan. Elna juga maklumi kalau ibu nya marah dan kecewa.
Tapi sampai kapan? Elna sangat merindukan ibu nya.
Elna ke kamar mandi untuk berwudhu. Elna belum sholat zuhur karena tadi dia langsung ketiduran habis makan siang.
Selesai sholat Elna berdo'a untuk orang - orang yang dia sayangi terutama kedua orang tua nya.
Allahumagfirli waliwali daiya warhamhuma kama ribbaiyanisoghiro. Elna membaca do'a untuk kedua orang tua.
Elna menangis dalam do'a nya.
"Bapak, Ibu ma'af kan Elna. Ya allah engkau maha mengetahui segala nya. Hambah tidak pernah bermaksud mengecewakan kedua orang tua hambah. Lirih Elna
Fahrizi yang dari tadi berdiri di ambang pintu ikut meneteskan air mata melihat kesedihan isteri nya.
Fahrizi masuk dan duduk di hadapan isteri nya.
Di pegang nya kedua pipi isteri nya lalu berkata.
" Dek Elna nggak boleh sedih ingat adek sekarang nggak sendiri ada mas. mama dan Dinda.
Dan yang paling penting adek juga harus ingat ada anak kita di dalam sini.
Ujar Fahrizi sambil menyentuh perut Elna.
" Ingat adek nggak boleh sedih kasihan dedek bayi nya kalau mama nya sedih dia akan ikut merasakan " Ujar Fahrizi.
Elna memeluk Fahrizi tangis nya makin pecah.
" Ma'af kan Elna mas" ujar Elna
" Nggak apa-apa sayang. Mas ngerti perasaan Adek " ujar Fahrizi
Merasa agak baik kan Elna mengajak Fahrizi keluar dari kamar.
Mereka menuju ruang keluarga di mana masih ada Dinda dan mama mertua nya.
Dinda yang tadi nya hanya izin keluar makan siang memutus kan untuk tidak kembali lagi ke kantor.
Karena rasa bahagia atas kehamilan Elna.
" Kakak udah bangun " sapa Dinda
Elna tersenyum lalu menjawab
" Iya"
" Kak nginap di rumah mama aja ya" pinta Dinda.
" Lain kali aja ya Din. Kakak nginap nya. jangan hari ini. ujar Elna
" Kenapa Kak? tanya Dinda
"Nggak apa-apa dek. " ujar Elna
Elna tidak ingin nginap karena suasana hati nya lagi tidak baik.
Elna tidak mau Dinda dan mama mertua nya tahu tentang kesedihan nya.
Waktu terus berjalan semenjak Elna hamil karir Fahrizi semakin cemerlang.
Kini Fahrizi di promosikan naik jabatan jadi direktur di perusahaan tempat dia bekerja.
Fahrizi semakin sibuk karena semakin banyak tanggung jawab yang dia emban.
__ADS_1
Sekarang Fahrizi jarang punya waktu untuk Elna dan calon buah hati mereka.
Elna tidak pernah mempermasalahkan itu semua.
Fahrizi hanya punya waktu akhir pekan. Itu pun Fahrizi masih harus berhadapan dengan laptop untuk urusan pekerjaan.
Namun di balik itu semua perhatian Fahrizi tidak berkurang untuk Elna dan calon buah hati mereka.
Fahrizi selalu ngontrol keadaan Elna melalui video call kalau dia sedang di luar.
Kini di rumah juga di pekerjakan seorang Asisten rumah tangga untuk menemani Elna.
Akhir pekan kali ini mereka memanggil desainer interior.
Mereka mendekorasi kamar untuk si buah hati.
Ke hamilan Elna sekarang sudah masuk bulan ke enam.
Mereka mulai mempersiapkan segala kebutuhan untuk si bayi mulai dari pakaian sampai kamar semua sudah mereka persiapkan.
Tidak hanya Elna dan Fahrizi yang antusias menyambut kehadiran si kecil.
Mama Maryam dan Dinda pun nggak kalah heboh nya contoh nya hari ini.
Mama dan Dinda borong perlengkapan bayi.
Elna sangat senang atas semua perhatian mama dan adik ipar nya itu.
Sejak Elna hamil mama dan Dinda sering datang berkunjung terkadang mereka nginap.
Terutama saat Fahrizi sedang keluar kota. Mama dan Dinda selalu menemani Elna.
Elna senyum - senyum sendiri membayangkan jagoan nya nanti memakai baju dan topi warna merah
Hadia dari Mama mertua nya. Tiba-tiba hp Elna berdering.
Sebuah panggilan Video dari suami nya.
" Assalammu'alaikum..., ujar Elna
" Alhamdulillah sudah mas. Mas sendiri makan belum " tanya Elna.
" Sudah sayang. ini kotak bekal nya sudah kosong " jawab Fahrizi sambil mengangkat kotak makan nya.
" Dek minta tolong bibi ya siap kan baju mas untuk satu minggu. Sore ini mas harus berangkat keluar kota " ujar Fahrizi
" Keluar kota mas? tanya Elna
" Iya sayang. Mas harus keluar kota
" Lama banget mas satu minggu " ujar Elna
" Mas kalau bisa bilang nggak mau. Ya mas gak mau dek tapi ini tuntutan kerjaan " ujar Fahrizi.
Fahrizi tau isteri kecil nya sedang sedih. Sebenar nya Fahrizi pun sedih kalau harus meninggalkan isteri dan calon anak nya selama itu.
Tapi Fahrizi tidak bisa nolak karena masalah ini memang harus dia yang turun tangan.
Mereka sama - sama terdiam. Akhirnya Fahrizi yang buka suara lebih dulu.
"Sayang Adek nggak boleh sedih gitu dong.
Ini kan untuk Adek dan calon anak kita juga" ujar Fahrizi.
"Iya mas Elna nggak sedih kok" jawab Elna berbohong.
"Mas dah dulu ya. Elna mau manggil bibi dulu " ujar Elna
" Iya adek nggak usah turun nyari bibi telpon aja. jangan turun tangga " titah Fahrizi.
" Iya mas" jawab Elna
"Assalammu'alaikum... ujar Elna
"Wa'alaikumsalm....., jawab Fahrizi
Elna pun menelpon Asisten rumah tangga nya.
__ADS_1
Selama menyiapkan pakaian Fahrizi Elna lebih banyak diam.
Dia tidak tahu kenapa kepergian Fahrizi kali ini membuat nya sangat khawatir.
Bibi yang membantu Elna menyiapkan Pakaian Fahrizi binggung dengan sikap majikannya tersebut.
Karena majikannya hanya diam. bibi bertanya
" Ada apa bu? kok ibu melamun terus tanya nya.
" Nggak apa-apa bi. Elna hanya khawatir dengan keberangkat mas Fahrizi kali ini" jawab nya.
" Pikirkan yang baik - baik saja bu. semoga semua nya akan baik-baik saja" ujar si bibi
" Iya bi. Makasih " jawab Elna
Elna mempersiapkan semua keperluan Fahrizi semua nya sudah selesai di kemas ke dalam satu koper besar.
Pukul 15.00 wib Fahrizi sudah di rumah. tiket pesawat nya berangkat pukul 17.00 wib.
Fahrizi punya waktu 2 jam sebelum berangkat.
Fahrizi langsung masuk kerumah dan naik ke atas menemui isteri nya di kamar.
Semenjak usia kandungan nya masuk 6 bulan Elna dah jarang turun ke bawah karena Fahrizi melarang nya.
Fahrizi takut terjadi apa-apa pada Elna. Karena Elna hamil di usia yang masih terbilang dini.
Selain itu perut nya pun lumayan besar. Sehingga membuat Elna sedikit kewalahan kalau naik turun tangga.
" Assalammu'alaikum...., isteri dan anak ku" ujar Fahrizi.
" Wa'alaikumsalam...mas " jawab Elna.
" Adek lagi ngapin sayang? tanya Fahrizi
" Elna lagi nyulam mas di selimut si kecil.
Elna nyulam nama mas dan Elna" jawab Elna.
" Wah bagus banget sayang. ternyata isteri mas memang serba bisa ya " ujar Fahrizi.
" Mas bisa aja. makasih mas atas pujiannya " ujar Elna
" Iya sama-sama sayang " jawab Fahrizi
" Mas ganti baju dulu ya.
" Berangkat sekarang ya mas?
" Nggak kok jam lima nanti. Mas masih punya waktu untuk berdua sama isteri mas yang cantik ini " ujar Fahrizi sambil mencubit hidung Elna
Setelah selesai ganti pakaian dengan pakaian santai Fahrizi mengangkat tubuh mungil isteri nya membawa nya ke tempat tidur.
" Dek mas mau ya! ujar Fahrizi
Elna megangguk tanda mengiyakan.
Fahrizi pun memulai nya dengan sebuah do'a.
Mereka menghabiskan waktu 1 setengah jam untuk pertempuran nya.
Sampai akhirnya mereka mencapai nya bersamaan.
Setelah selesai Fahrizi mengendong Elna ke kamar mandi. Mereka pun mandi bareng.
Selesai mandi Fahrizi bersiap siap untuk berangkat.
" Dek tadi mas sudah telpon mama supaya mama nginap di rumah kita selama mas di luar kota" ujar Fahrizi
" Iya mas "jawab Elna sambil tersenyum.
tepat pukul 17.00 wib pesawat yang di tumpangi Fahrizi pun lepas landas.
Pukul 19.00 Wib belum juga ada kabar dari Fahrizi.
Pada hal penerbangan dari kota A ke kota B hanya memerlukan waktu 45 menit.
Itu arti nya Fahrizi sudah mendarat 1 jam lebih. Tapi tidak ada kabar dan hp nya pun tidak bisa di hubungi.
__ADS_1