
Robby baru sadar kalau dia sudah keceplosan.
"Mmm anu bu. Maksud saya kalau isteri saya nanti paket komplit seperti ibu saya akan menjadi suami yang setia untuk nya" ujar Robby gugup.
Elna tersenyum lalu menjawab
" Setia itu pilihan Kak. Kalau kakak bertekad untuk setia kakak akan mampu untuk setia.
Dan tidak akan pernah tergoda dengan apa pun, dimana pun dan kapan pun" ujar Elna.
Fahrizi tersedak mendengar ucapan Isteri nya.
"Mas pelan-pelan dong makan nya biar nggak kesedak" ujar Elna
Fahrizi hanya tersenyum hampa. sementara Robby menunduk tanpa berani menoleh pada atasan nya itu.
Mereka menikmati makan siang dengan penuh ketegangan.
Selesai makan siang Robby pamit pulang. Fahrizi dan Elna mengantar nya sampai depan.
Setelah Robby pulang Fahrizi langsung naik ke atas ke kamar mereka untuk beristirahat. Sementara Elna sibuk di dapur membuatkan puding kesukaan suami nya.
Fahrizi menunggu Elna. Namun yang di tunggu tidak kunjung datang. Akhir nya Fahrizi memutuskan untuk turun lagi ke bawah untuk melihat isteri nya.
Saat sampai di bawah Fahrizi tertegun melihat Elna sibuk dengan peralatan dapur. Elna memang bukan perempuan manja.
__ADS_1
Di usia kandungan nya yang tidak lagi kecil dia tetap melakukan pekerjaan dapur sendiri. Tidak seperti kebanyakan perempuan ke hamilan di jadi kan alasan untuk bermalas - malasan.
Fahrizi memperhatikan Elna dari kejauhan. Rasa bersalah kembali menyelimuti diri nya. Seharus di usia Elna sekarang usia dimana seorang gadis menikmati masa remaja nya.
Namun itu tidak pernah di rasakan oleh Elna. Di usia nya yang masih sangat mudah dia sudah menjadi seorang isteri.
Dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Sebagai suami Fahrizi pun merasa sangat bersalah. Karena dia telah merengut semua kebahagiaan Elna.
Kini dia kembali menoreh kan luka di hati gadis malang tersebut. Fahrizi telah menghianati nya dengan menikahi Selly. Fahrizi tidak sanggup membayangkan jika suatu saat Elna mengetahui kenyataan tersebut.
Walaupun saat ini Elna belum mengetahui nya tapi tidak menutup kemungkinan semua itu akan terjadi.
Sebagai isteri Elna sangat pengertian dia tidak pernah menuntut pada Fahrizi.
Bahkan dia tidak pernah menanyakan penghasilan atau gaji Fahrizi sebagai seorang direktur.
Uang belanja setiap bulan pun tidak pernah habis terpakai. Tapi semua kebutuhan sehari-hari terpenuhi.
Yang paling buat Fahrizi terkesan dan tidak pernah Fahrizi lupakan saat Elna menasehati nya tentang prihal tanggung jawab seorang anak laki-laki terhadap ibu nya.
Suatu malam Elna bertanya pada Fahrizi.
" Mas apa mas pernah memberikan gaji mas pada mama? tanya Elna.
Fahrizi awal nya kaget kenapa Elna bertanya seperti itu. lalu Fahrizi menjawab
__ADS_1
" Pernah dulu sebelum mas nikah sama Elna. " jawab Fahrizi
" Kenapa setelah mas nikah sama Elna nggak pernah ngasih ibu lagi? tanya Elna
" Karena mas sudah mempunyai tanggung jawab untuk menafkahi isteri mas " jawab Fahrizi.
"Mas penghasilan seorang anak laki-laki itu setengah dari penghasilan nya adalah hak ibu nya. Meski pun dia sudah menikah sekali pun " ujar Elna
Fahrizi terdiam dalam hati nya berkata.
" Tadi nya mas pikir kamu akan melarang mas untuk memberi uang ke mama dek. Ternyata kamu malah menganjurkan mas untuk memberi ke mama. Kamu memang lain dari kebanyakan perempuan yang biasa nya melarang suami nya untuk memberi kepada orang tua nya. Dengan bebagai macam alasan. Kamu manusia atau malaikat " ujar Fahrizi dalam hati
Kenangan itu kembali mampir dalam ingatan Fahrizi.
Saat Fahrizi sedang sibuk melamun tiba -tiba dia di kaget kan suara yang menyapa nya.
" Ma'af kan saya Pak. Karena saya membiarkan ibu sibuk di dapur. Tapi ini semua ke inginan ibu.
Ibu melarang saya untuk memasak. Kata ibu memasak biar lah ibu saja karena ibu ingin selalu bisa menyiapkan makanan untuk bapak. ujar bi Wati
" Tidak apa-apa bi. mungkin ibu bosan kalau hanya duduk saja. Tapi bibi harus awasin terus jangan sampai ibu kelemahan " jawab Fahrizi.
" Baik Pak" jawab bi wati
" Bapak sangat beruntung punya isteri seperti ibu. Walau pun masih muda pikiran dan tidak kan nya melebihi orang dewasa.
__ADS_1
Terlebih Ibu baik pada semua orang. ujar bi Wati.