Elna Si Gadis Desa Yang Malang

Elna Si Gadis Desa Yang Malang
Amnesia


__ADS_3

Satu minggu berlalu. Akhir nya Fahrizi sadarkan diri. Mama sangat senang beliau langsung menelpon Elna untuk memberi tahukan kabar baik tersebut. Elna yang baru saja pulang ke rumah setelah semalam dia nginap di rumah sakit.


Akhir nya memutuskan untuk kembali kerumah sakit. Elna sudah tidak sabar ingin bertemu dengan suami nya.


Dirumah sakit.


"Fahri...! panggil mama.


"Mama " jawab Fahrizi.


"Alhamdulillah nak. Sekarang Fahri sudah sadar " ujar mama.


"Fahri kenapa Ma? tanya Fahrizi.


"Fahri nggak ingat apa yang terjadi? tanya mama balik.


Fahrizi mengeleng. Menanda kan dia tidak tahu apa - apa.


"Kamu ingat sama mama? tanya mama lagi.


"Iya ingat lah Ma. " ujar Fahrizi.


Tiba-tiba pintu terbuka.


"Mas.... " ujar Elna sambil berlari menuju Fahrizi yang masih berbaring.


Elna langsung memeluk Fahrizi. Fahrizi tidak memberikan respon sedikit pun.


"Mas..., Elna senang mas sudah sadar " ujar Elna.


Fahrizi tetap diam. Elna melepaskan pelukan nya merasa tidak ada respon dari suami nya. Elna menatap Fahrizi dengan penuh tanda tanya. Dan sebalik nya.


"Kamu siapa? tanya Fahrizi.


Mendengar pertanyaan itu Elna kaget bagai kan tersambar petir sekujur tubuh nya terasa lemas. Mama berdiri lalu berkata pada putra nya.


"Nak ini isteri mu nak Elna. Elna yang nyaris tidak tidur selama satu minggu ini menjaga kamu di sini " ujar mama.


"Kapan Fahri nikah Ma? tanya Fahrizi.


"Fahrizi udah lama nikah nak. Sekarang selain punya isteri kamu juga punya anak yang sangat lucu dan ganteng " ujar mama.


"Dimana putra ku Ma? tanya Fahrizi.


"Axel di rumah " jawab mama.


"Apa kamu sudah ingat dengan isteri mu? tanya mama.


Lagi-lagi Fahrizi hanya mengelengkan kepala nya.


"Sudah Ma. jangan paksa mas Fahri untuk ingat Elna " ujar Elna pada mama mertua nya.


"Elna pulang dulu ya Ma! " ujar Elna.

__ADS_1


"Elna nggak apa-apa mas? tanya mama Maryam.


"Nggak apa-apa ma " jawab Elna.


"Ya sudah hati-hati di jalan ya nak" ujar mama Maryam.


"Iya Ma. Makasih " ujar Elna lalu mencium punggung tangan mertua nya sambil mengucapkan kan


"Assalammu'alaikum... " ujar Elna.


"Wa'alaikumsalam..., jawab mama.


Elna berjalan keluar rumah sakit. Sesampai nya di depan Elna tidak langsung menyetop taxi. Dia juga tidak menelpon Robby yang selalu antar jemput nya selama beberapa hari ini.


Elna berjalan sambil menangis. ingin sekali rasa nya Elna menjerit sekuat tenaga untuk melepaskan beban yang terasa begitu berat bagi nya. Elna terus berjalan di trotoar. Dia tidak tahu mau kemana. Saat di lampu merah Elna menyeberang jalan begitu saja tanpa mempedulikan rambu-rambu lalu lintas. Sehingga diri nya nyaris tertabrak mobil. Untung saja ada seseorang yang menyelamatkan nya.


"Elna kenapa dek, apa yang Elna lakukan? tanya orang tersebut terdengar begitu khawatir.


Elna sangat kenal dengan suara dan aroma tubuh itu. Elna menoleh ke sumber suara. ternyata benar. Elna menangis sambil memeluk pria tersebut.


"Kak...! ujar nya.


"Iya. Ada apa dek? " tanya nya lagi sambil mengelus puncak kepala Elna.


"Elna binggung kak. Elna nggak tahu harus apa? ujar Elna.


"Ya udah sekarang kita cari tempat duduk. Elna cerita sama kakak apa yang terjadi " ujar Ari.


Elna mengangguk dan mengikuti Ari menuju mobil nya. Mereka pergi kesebuah Caffe.


Elna pun menceritakan semua yang terjadi. Ari benar - benar pendengar yang baik bagi Elna. Ari menyimak semua keluh kesah Elna. Ingin sekali rasa nya Ari mengantikan posisi Elna jika bisa. Karena jujur dari lubuk hati Ari yang terdalam dia masih mencintai dan menyayangi Elna.


"Kakak tahu Elna perempuan kuat. Elna pasti bisa melalui ini semua " ujar Ari.


"Elna nggak yakin kak. Elna nggak tahu bagaimana cara menghadapi semua ini " Ujar Elna sambil menunduk. Beberapa butiran bening jatuh begitu saja.


"Elna kakak nggak tahu apa yang harus kakak lakukan untuk menolong kamu terlepas dari semua penderitaan ini. " batin Ari.


"Sekarang menurut kakak sebaik nya Elna pulang. Kasihan sama baby mu dek jika Elna seperti ini" ujar Ari.


"Iya kak. Kakak benar kasihan Axel kalau Elna seperti ini. " jawab Elna.


"Kalau begitu kakak antar Elna pulang ya " tawar Ari.


"Nggak usah kak. Biar Elna telepon Kak Robby aja" ujar Elna.


"Oke kakak akan menemani Elna sampai jemputan nya datang " ujar Ari lagi.


"Makasih kak. Tapi jika kakak sibuk nggak usah nemani Elna. Elna bisa sendiri kok " ujar Elna.


"Nggak apa-apa. Kakak sedang nggak sibuk. Santai aja " jawab Ari.


"Sekali lagi makasih banyak kak" ujar Elna.

__ADS_1


"Iya sama - sama " ujar Ari sambil mengacak - acak rambut Elna.


Tidak lama kemudian Robby pun tiba.


"Kak jemputan nya udah datang. Elna pulang dulu ya. Terima kasih banyak " ujar Elna.


"Iya hati - hati " ujar Ari.


"Assalammu'alaikum..., " ujar Elna.


"Wa'alaikumsalam..., " jawab Ari.


"Silakan bu" ujar Robby.


"Terima kasih Kak " ujar Elna.


"Oh ya Kak. mulai sekarang Elna minta nggak usah terlalu formal sama Elna. Elna lebih suka jika kakak panggil nama aja sama Elna " ujar Elna.


"Ma'af bu. Saya tidak bisa melakukan nya. Biar bagai mana pun ibu isteri dari atasan saya. Tidak sopan kalau saya sebut nama sama ibu" jawab Robby.


"Terserah kakak kalau begitu " ujar Elna.


Mereka pun sampai di kediaman Elna dan Fahrizi. Elna turun dari mobil tanpa menunggu Robby membukakan pintu mobil.


"Terima kasih ya Kak. Elna masuk dulu " ujar Elna.


"Iya sama-sama bu. jika ada apa-apa kabari saya " ujar Robby.


" Baik. Assalammu'alaikum.... " ujar Elna.


"Wa'alaikumsalam..., jawab Robby.


Elna masuk kerumah. Elna langsung menuju kamar putra nya.


"Assalammu'alaikum... " ujar Elna.


"Wa'alaikumsalam.... bu" jawab bi Wati yang kebetulan berada di dalam kamar Axel.


"Apa Axel tidur bi? tanya Elna.


"Iya bu masih tidur " jawab bi Wati.


"Bagai mana keadaan bapak bu? tanya bi Wati.


"Bapak mengalami amnesia bi. Bapak tidak ingat sama ibu. Dia hanya ingat mama saja" jawab Elna mulai berkaca kaca.


"Apa bu agnesia, agnesia itu apa bu? tanya bi Wati.


" Bukan agnesia bik. Tapi amnesia. Amnesia itu hilang ingatan baik secara keseluruhan atau pun sebagaian saja. Ada jangka pendek ada juga jangka panjang " jelas Elna.


"Oh gitu ya bu" ujar bi Wati.


"Iya bik. Saya sangat takut jika bapak mengalami amnesia jangka panjang " ujar Elna lagi.

__ADS_1


"Kita berdo'a saja bu supaya bapak cepat sembuh dan ingat semua nya kembali " ujar bi Wati.


__ADS_2