Elna Si Gadis Desa Yang Malang

Elna Si Gadis Desa Yang Malang
Notes


__ADS_3

"Ya allah hambah mu ini bukan lah hambah mu yang taat. Mungkin hambah tidak pantas memohon pada mu sebagai seorang hambah. Tapi hambah mohon kepadamu sebagai seorang suami. Berikan lah kesembuhan kepada isteri hambah ya robb" batin Fahrizi.


Di genggam nya erat Jemari- jemari halus nan lembut itu di kecup nya penuh cinta. Berharap sang pemilik jemari akan merasa kan sentuhan penuh cinta itu.


Kerinduan mendalam akan sosok yang lemah lembut penuh kasih tidak pernah menguratkan kemarahan atau kebencian dalam hari - hari nya.


Kini sosok itu terbaring tidak berdaya karena sebuah penyakit yang mematikan sedang mengerogoti tubuh nya. Yaitu pembengkakan pada otak atau Cerebral edema. dimana penyakit ini menghambat darah kaya oksigen masuk ke otak.


Sekaligus menahan aliran darah keluar dari dalam tengkorak kepala.


Saat ini Fahrizi seperti anak kecil yang sedang menunggu ibu nya. Dia terdiam beruraian air mata.


Tiada henti nya dia memohon kepada sang khaliq. Berharap sang penguasa akan memberikan pertolongan ke pada isteri nya.


Mama Maryam masuk dan mendekati putra nya.


"Kak...! kakak harus tegar menghadapi semua ini. Kakak tidak boleh cengeng. Kakak tidak boleh meratap apalagi putus asa. Ingat allah akan selalu memberikan pertolongan untuk hambah nya yang berusaha dan berdo'a.


Kita sudah berusaha. Kakak harus berdo'a meminta ke pada allah setelah itu pasrah kan semua nya pada allah. Karena Dia maha tahu yang terbaik untuk hambahnya " ujar mama Maryam sambil mengelus pundak putra nya.


Fahrizi pun menyekah air mata nya. Kemudian Fahrizi memeluk mama tercinta seakan mencari kekuatan dari sang mama.


"Ma ma'af kan Fahrizi Ma. Karena seharusnya Fahrizi tidak lemah seperti ini. Tapi sungguh Fahrizi takut kehilangan Elna ma. Fahrizi takut terjadi apa-apa sama Elna." ujar Fahrizi


"Semoga semua nya akan baik-baik saja nak. Kita akan terus berusaha untuk kesembuhan isteri mu. Selebih nya kita serahkan pada yang maha kuasa " ujar mama Maryam.


"Iya ma. Kalau perlu kita bawa Elna berobat ke luar negeri" ujar Fahrizi.


"Iya. Kita tunggu dulu apa kata dokter " jawab mama lagi.


"Sebaik nya kakak pulang dulu nak mandi dan ganti pakaian. Biar mama yang menjaga kak Elna di rumah sakit " ujar mama.

__ADS_1


"Baik Ma. jawab Fahrizi


"Ma jangan pernah tinggal kan Elna sendirian. Fahrizi takut tiba - tiba Elna sadar dan merasa haus nggak ada yang mengambilkan nya air minum " ujar Fahrizi berkaca kaca.


"Iya nak. Mama akan selalu berada di dekat Kak Elna sampai kamu pulang lagi ke rumah sakit " jawab mama


"Terima kasih ma. Fahrizi pulang dulu. Assalammu'alaikum.. " ujar Fahrizi


"Wa'alaikumsalam..., hati-hati nak! ujar mama Maryam.


Fahrizi pulang ke rumah dengan perasaan tidak menentu. Sesampai nya di rumah Fahrizi langsung masuk ke kamar nya.


Untuk mandi dan ganti pakaian. Fahrizi meletak kan jam tangan nya di laci meja hias Elna. Tidak sengaja Fahrizi melihat notes berwarna pink.


Fahrizi mengambil nya dan membuka notes tersebut. Lembaran pertama bertuliskan


"For my husband. M. Fahrizi "


"Mas sebenar nya banyak sekali hal yang ingin Elna tanya kan pada mas. Tapi Elna ragu untuk bertanya karena Elna sendiri tidak yakin Elna siap menerima kebenaran dari pertanyaan Elna atau tidak.


Terkadang Elna pikir lebih baik Elna tidak tahu. Dari pada Elna tahu akan menyakiti hati Elna sendiri.


Kalau Elna tidak tahu Elna akan menganggap itu tidak pernah terjadi. Walaupun kenyataan nya lain.


Mas....


Elna harap suatu saat mas akan menceritakan kan semua nya pada Elna. Termasuk tentang chat beberapa hari yang lalu Elna lihat di layar ponsel mas.


Terkadang kejujuran itu memang menyakitkan mas...


Tapi perlu mas tahu kejujuran itu tidak bisa di nilai dengan mata uang. Karena kejujuran itu terlalu berharga amat sangat mahal mas...

__ADS_1


Tidak banyak orang yang sanggup untuk jujur. Pada hal kejujuran lah yang akan membawa kita ke pada kedamaian.


Mas....


Elna harap mas akan menjadi contoh yang baik untuk anak kita kelak


Palembang....., Desember 2005.


Fahrizi membuka halaman berikutnya namun semua kosong. hanya halaman putih saja.


Fahrizi turun ke bawah untuk mencari bi Wati. Kebetulan bi Wati sedang membersihkan debu di bingkai lukisan -lukisan di dinding.


"Bi apa isteri saya pernah cerita tentang sesuatu pada bibi? tanya Fahrizi


"Tidak pernah Pak. Ibu tidak pernah bercerita apa-apa pada bibi. Ibu orang nya selalu tersenyum dan tidak pernah marah. Hati ibu sungguh mulia " ujar bi Wati berkaca-kaca.


"Iya bi. Tapi kenapa orang baik seperti isteri saya harus di uji dengan penyakit yang berbahaya seperti itu" ujar Fahrizi sambil duduk di tangga.


"Banyak berdo'a saja Pak. Allah pasti akan menolong orang baik seperti ibu" ujar bi Wati.


"Iya. Semoga saja bi" jawab Fahrizi.


"Bi tolong siap kan keperluan ibu untuk selama di rumah sakit. " ujar Fahrizi.


"Baik Pak. " jawab bi Wati.


Fahrizi pun mandi. Sementara bi wati menyiapkan keperluan Elna. selama di rumah sakit.


Masuk kamar mandi membuat Fahrizi teringat kembali pada Elna. Terlalu banyak kenangan indah di kamar mandi itu.


"Dek cepat sembuh sayang. Mas nggak sanggup seperti ini terus " batin Fahrizi.

__ADS_1


__ADS_2