Elna Si Gadis Desa Yang Malang

Elna Si Gadis Desa Yang Malang
Rencana Pindah Kampus


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Elna sudah di dapur bersama bi Wati. Elna memasak nasi goreng kesukaan Dinda yaitu nasi goreng cumi - cumi. Elna juga membuatkan sarapan suami nya. Bubur ayam tapi kuah nya pakai sop iga.



Nasi goreng cumi



Bubur ayam



Sup iga.


Selesai memasak Elna naik ke atas untuk menyiapkan baju kerja Fahrizi. Sementara Fahrizi masih sibuk dengan benda pipih nya.


"Mas baju nya di atas tempat tidur ya. " ujar Elna.


"Iya sayang " jawab Fahrizi tanpa menoleh dan fokus pada benda pipih itu.


Elna ke kamar putra nya. Di lihat nya Axel masih tertidur pulas. Elna kembali turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan di meja makan. Bi Wati membantu Elna menyiapkan semua nya. Tidak lama kemudian Dinda keluar dari kamar menuju meja makan.


"Pagi Kak...! " ujar nya


"Pagi dek...! jawab Elna sambil tersenyum.


"Waaah cantik sekali adek kakak satu ini " ujar Elna.


"Makasih kak! "jawab Dinda lemas.


"Kok lemas si dek, kenapa? "tanya Elna.


"Kak..., Dinda khawatir! " jawab Dinda.


"Khawatir kenapa? "tanya Elna.


"Nanti orang -orang akan mengejek Dinda " jawab Dinda.


"Dinda nggak boleh takut. Dinda harus optimis nggak boleh pesimis. Lagi pula nggak semua orang tahu kok. Percaya sama kakak semua nya akan baik-baik saja. Apa lagi sekarang Dinda kuliah nya siang nggak malam lagi. Otomatis orang yang Dinda temui juga orang - orang yang berbeda " ujar Elna menyakin kan Dinda.


"Sudah sekarang Dinda sarapan dulu ya. kakak udah buat kan nasi goreng kesukaan Dinda yaitu nasi goreng cumi " ujar Elna.


"Makasih kak. Kakak memang is the best deh " ujar Dinda sambil tersenyum.


"Sama-sama " ujar Elna.


Mama Maryam dan Fahrizi pun datang ke meja makan.


"Enak semua nih " ujar Fahrizi.


"Mas ini Elna udah buat kan bubur ayam sama sup iga untuk mas. Biar segar dan semangat kerjanya " ujar Elna sembil mengambil kan semangkuk bubur.

__ADS_1


"Oh ya Ma. Mama mau apa? bubur atau nasi goreng? " tanya Elna.


"Seperti nya bubur ayam nya segar tu kak" ujar mama.


Elna pun mengambil kan semangkuk bubur ayam dan sup iga juga untuk mama mertua nya. Sementara bi Wati sibuk menyiapkan minuman.


"Bik duduk sekalian sarapan juga " ujar Fahrizi.


"Nggak usah pak biar bibi sarapan di belakang aja " jawab bi Wati.


"Kenapa harus di belakang si bik. Disini aja sama-sama " ujar Elna.


"Iya bik" sambung mama.


"Baik bu " jawab bi Wati.


Mereka pun sarapan bersama.


"Pantas aja bapak nggak mau makan masakan orang lain. Semua masakan ibu muda memang nikmat " batin bi Wati.


"Kenapa bik, nggak enak ya? tanya Elna pada bi Wati. Melihat bi Wati mengunyah pelan-pelan.


"Bukan nggak enak bu. Tapi bibi menikmati kenikmatan masakan ibu muda yang serba enak ini " ujar bi Wati.


"Bibi bisa aja" ujar Elna.


"Bibi harus banyak belajar bi dari kak Elna. Jadi jika kak Elna sedang sibuk atau berpergian kita tetap bisa makan enak " ujar mama Maryam.


"Masakan bibi juga enak kok Ma. " jawab Elna.


Dinda lebih banyak diam. di benak nya selalu terpikir tentang tangapan orang nanti tentang diri nya. Terkadang masih terpikir untuk tetap menundah kulia nya. Tapi jika dia tunda sampai kapan dia baru berani untuk memulai nya kembali.


Pikiran Dinda berkecabuk antara iya atau tidak. Elna tahu apa yang ada di pikiran adik ipar nya itu. Elna berusaha mengalihkan pikiran Dinda agar tidak terlalu memikirkan hal itu. tiba-tiba Elna kekikiran untuk memberi ide pada Dinda yaitu pindah Kampus.


"Dek gimana jika dedek kuliah di kampus nya Aisyah aja " ujar Elna.


"Haaa.., pindah kampus kak? tanya Dinda.


"Iya itu pun jika Dinda setujuh " ujar Elna.


"Seperti nya itu ide bagus Kak " ujar mama yang menyetujui ide Elna.


"Kakak pikir juga begitu " ujar Fahrizi.


"Gimana dek...? tanya Elna.


"Oke Dinda mau kak " ujar Dinda.


"Kalau begitu hari ini Dinda lihat-lihat aja dulu ke kampus tempat Aisyah. Jika cocok besok baru ke kampus lama untuk minta surat pindah " ujar Elna.


"Kak kalau ke kampus Aish. Dinda nggak perlu di antar biar Dinda bisa nyetir sendiri. Kakak ke kantor aja " ujar Dinda.

__ADS_1


"Yakin bisa sendiri " ujar Fahrizi.


"Iya " ujar Dinda sambil tersenyum.


"Baik. kalau begitu kakak langsung ke kantor ya" ujar Fahrizi.


"Dek..., Mas berangkat dulu ya " ujar Fahrizi pamit pada Elna.


"Ma.., Fahrizi duluan ya " pamit Fahrizi pada mama dan mencium punggung tangan mama nya.


Elna berdiri membawa kan tas kerja Fahrizi menuju halaman.


"Hati-hati ya mas " ujar Elna sambil mencium punggung tangan suami nya.


"Iya " jawab Fahrizi lalu mendaratkan kecupan di kening isteri kecil nya.


Setelah Fahrizi berangkat Elna kembali ke dalam rumah.


"Dek mama juga berangkat ya. Takut ke siangan. Semoga suka sama kampus nya " ujar mama.


"Iya Ma. Mama hati-hati ya " ujar Dinda sambil mencium punggung tangan mama nya.


"Kak mama berangkat ya" ujar mama.


"Iya Ma. " jawab Elna lalu mencium punggung tangan mertua nya.


Setelah mama dan Fahrizi berangkat hanya Dinda yang masih setia di meja makan. Walau pun sudah selesai sarapan Dinda masih nggan untuk berangkat. Melihat Dinda masih diam saja Elna mencoba mengajak Dinda kembali ngobrol.


"Dek masih ragu? tanya Elna.


Dinda mengangguk.


"Dek jika ragu jangan di lakukan. Mantapkan hati baru lalukan " ujar Elna.


"Kakak ke atas dulu ya mau lihat dedek Axel. Takut nya dia udah bangun " ujar Elna.


" Iya kak " jawab Dinda.


Sebenarnya Elna sangat memaklumi rasa takut Dinda. Tapi Elna juga sangat ingin Dinda segera bangkit dari keterpurukan nya. Elna ingin Dinda melawan segala rasa takut yang ada di pikiran nya. Memang itu tidak mudah. Tapi jika Dinda tidak berusaha selama nya akan seperti itu.


"Ayo Dinda bangkit lawan rasa takut mu ini " batin Dinda kepada diri nya sendiri.


Dinda berdiri lalu ke garasi untuk mengeluarkan mobil nya. Sudah lama sekali Dinda tidak nyetir sendiri. Sejak kejadian itu Dinda kemana - mana selalu di antar sama Robby asisten pribadi Fahri.


Di keluarkan mobil lalu di panaskan nya mesin mobil sambil bersih -bersih di dalam mobil nya. Dinda lalu masuk kerumah untuk pamit pada kakak ipar nya.


"Kak Dinda berangkat ya....! " ujar nya dari bawah karena malas naik ke atas.


Elna keluar dari kamar namun tidak turun dan menjawab.


"Iya hati-hati ya dek... " ujar Elna.

__ADS_1


"Iya kak...ujar Dinda.


Sebenar nya Author malas untuk melanjutkan cerita ini. Tapi Author kasihan sama pembaca setia Author yaitu ******Yunita dan Nurul Zarina. Thanks you so much untuk kalian berdua******. Karena nyaris tidak ada yang baca. walaupun ada yang baca susah banget untuk ninggalkan jejak. pada hal saat ini Author sangat membutuhkan bantuan kalian untuk menaikan level.


__ADS_2