Elna Si Gadis Desa Yang Malang

Elna Si Gadis Desa Yang Malang
Bagaikan Tamparan


__ADS_3

Sambil menatap tuan nya yang sedang asyik sarapan.


"Kenapa bik melihat saya seperti itu? tanya Fahrizi karena merasa risih dengan tatapan asisten rumah tangga nya itu.


"Tidak apa-apa Pak " jawab bi Wati sambil menunduk.


Bi Wati berlari kedapur. Beliau takut terkenah masalah jika tetap berada di situ. Karena terlalu banyak pikiran Elna berjalan sambil melamun tiba-tiba Elna tertabrak sebuah mobil. Elna di lari kan kerumah sakit di mana Elna biasa di rawat.


Dokter Anton langsung menangani nya. Pulang kerja Fahrizi pulang ke rumah. Namun keadaan rumah sepi. Fahrizi bertanya pada bi Wati.


"Bik kok sepi kemana orang - orang tanya Fahrizi.


"Kerumah sakit Pak. Ibu muda tertabrak mobil saat berjalan pulang dari supermarket depan " jawab bi Wati.


"Tertabrak mobil kok bisa? tanya Fahrizi.


"Iya Pak. Kasihan ibu muda. Hidup nya selalu menderita. Baru bahagia sebentar ada aja yang terjadi. Seharus nya orang sebaik ibu muda itu selalu bahagia. " ujar bi Wati.


"Terlintas sedikit di ingatan Fahrizi tentang Elna. tepat nya saat Fahrizi bersama Elna.


"Apakah benar dia isteri ku " batin Fahrizi.

__ADS_1


"Bik sejak kapan bibi kerja di rumah ini? tanya Fahrizi.


"Sejak ibu muda hamil tuan kecil tuan. Maksud saya sejak ibu muda hamil tua kecil Axel" jawab bi Wati.


"Bik coba ceritakan semua yang bibi tahu tentang saya dan ibu muda bibi itu " ujar Fahrizi.


"Bapak itu sangat sayang sama ibu muda. Bibi berkerja di sini juga karena bapak sangat mengkhawatirkan ibu muda waktu hamil. Bapak tidak mau ibu muda terlalu capek dengan pekerjaan rumah.


Saat ibu muda hamil tua bapak sempat mengajak ibu pindah ke kamar bawah supaya ibu muda tidak capek naik turun tangga. Tapi ibu muda nggak mau dengan alasan beliau sekalian olahraga kalau naik turun tangga.


Biasa nya bapak juga nggak mau makan kalau bukan masakan ibu muda. Sampai ibu muda rela masak di dapur saat hamil tua dan masih dalam masa nifas.


"Tapi masakan bibi setiap hari sama saja sama masakan yang biasa saya makan sebelum nya " ujar Fahrizi


"Kasihan ibu Pak. Ibu muda selalu nangis setiap malam terlebih jika beliau selesai sholat. Ibu muda sering kali ketiduran di atas sajadah selesai sholat malam.


Ibu muda itu orang yang sangat baik. Beliau tidak pernah marah kepada siapa pun. Bahkan sama orang yang menyakiti nya sekali pun " ujar bi Wati mulai berkaca kaca.


"Ibu muda terlalu sering menderita. seharus nya orang sebaik beliau mendapatkan yang baik juga " ujar bi Wati tanpa sadar kata-kata itu mengalir begitu saja.


Kata - kata bi Wati barusan bagaikan tamparan bagi Fahrizi. Kini Fahrizi merasa kalau yang di katakan bi Wati itu benar. Perempuan sebaik Elna seharus nya mendapatkan laki - laki yang baik pula.

__ADS_1


Di rumah sakit


"Ma mana kak Fahri? tanya Dinda.


"Oh ya. Mama lupa nelpon kakak mu " ujar mama Maryam.


Mama Maryam mengeluarkan ponsel nya lalu menghubungi Fahrizi.


"Assalammu'alaikum nak.... " ujar mama.


"Wa'alaikumsalam Ma " jawab Fahrizi.


"Fahrizi Isteri mu kecelakaan nak " ujar mama.


"Di rawat di mana ma? tanya Fahrizi.


"Di rumah sakit yang biasa isteri mu di rawat " jawab mama.


"Ya udah Ma. Nanti Fahrizi ke sana " ujar Fahrizi.


"Baik. Mama tunggu ya. Assalammu'alaikum" ujar mama.

__ADS_1


"Iya Ma. Wa'alaikumsalam " jawab Fahrizi.


__ADS_2