
" Iya bi saya sangat beruntung. Sebuah keberuntungan bagi saya punya isteri seperti Elna.
Tapi ini musibah untuk Elna karena punya suami seperti saya " ujar Fahrizi.
Bi Wati tidak berani untuk bertanya. Beliau memilih pamit pada majikan laki-laki nya itu dan menemui majikan perempuan nya di dapur.
" Ada yang bisa bibi bantu bu? tanya bi Wati
" Terima kasih bi. sudah selesai kok bibi tolong beres kan semua yang kotor ini ya" pinta Elna.
" Baik bu" jawab bi Wati.
" Oh ya bi. Nanti puding ini antar kerumah mama satu ya dan yang satu nya lagi bibi antar kerumah bibi. Sekalian bilang sama mama kalau bapak sudah pulang " ujar Elna.
"Baik bu. akan bibi sampaikan dan terima kasih untuk puding nya " ujar bi Wati
"Sama-sama bi. " jawab Elna.
Semoga Allah memberikan umur yang panjang untuk orang sebaik ibu. batin bi Wati
Selesai beres - beres bi Wati pergi sesuai permintaan majikan nya.
Beliau mengantarkan puding kerumah mama Maryam terlebih dahulu.
Tok tok tok bi Wati mengetuk pintu. Mama Maryam kebetulan baru pulang dari mengajar kembali lagi ke pintu dan membuka nya.
" Bi Wati! Ada apa bi? tanya mama Maryam setelah membuka pintu.
"Ini bu, bibi di suruh bu Elna ngantar ini ke ibu" jawab bi Wati.
"Oh terima kasih bi. Seharus nya tidak usah di antar bi nantikan saya juga mau kesana "ujar mama Maryam
"Oh ya bu. Satu lagi pesan bu Elna kalau Bapak Fahrizi sudah pulang" ujar bi Wati
"Oh ya! Nanti bilang sama ibu kalau saya akan kesana nanti malam kalau Dinda pulang kerja" Ujar mama Maryam berbinar benar karena senang mendengar putra nya sudah pulang.
__ADS_1
" Baik bu. Kalau begitu saya permisi dulu" ujar bi Wati
" Iya bi. terima kasih. hati-hati " jawab mama Maryam.
Di rumah Fahrizi.
Melihat Elna sudah selesai dengan ke sibukan dapur Fahrizi kembali ke kamar dan pura-pura tidur.
Saat Elna masuk kekamar di lihat nya Fahrizi sedang terlelap. Elna mendekat pada suami nya memperhatikan wajah lelah suami nya.
"Kamu kelihatan nya lelah banget mas. Kamu lelah mencari nafkah untuk kita. Semoga lelah mu menjadi lilah dan ladang pahala untuk mu " ujar Elna sambil membelai lembut rambut suami nya.
Fahrizi yang hanya pura-pura tidur mendengar semua ucapan Elna dan merasakan kan ke lembutan belaian sang isteri.
Tidak ada henti nya Fahrizi merasakan ke kaguman terhadap isteri kecil nya.
"Sungguh surga dunia mempunyai isteri seperti mu dek.
Aku semakin merasa tidak pantas untuk mu. Aku bukan lah laki-laki yang baik. Kamu terlalu sempurna untuk ku. Aku bukan lah pendampingi yang pas untuk mu.
Tapi apa aku mampu untuk melepas mu dan membiarkan kamu bersama orang lain? Ku rasa mustahil bagi ku untuk bisa. batin Fahrizi berkecamuk.
Fahrizi tetap diam dengan posisi pura-pura tidur nya.
Sampai Elna selesai sholat dia tetap diam . Setelah sholat Elna membaca Alqur'an.
Suara nya sangat merdu menyejuk kan hati siapa saja yang mendengar nya.
Dalam diam Fahrizi menangis. Air mata nya sudah tidak bisa di bendung lagi.
Fahrizi bangun lalu duduk bersandar di kepala tempat tidur. Menyadari suami nya bangun Elna menyudahi mengaji nya.
Melihat Elna sudah selesai mengaji nya Fahrizi turun dari tempat tidur dan berjalan menuju Elna.
Fahrizi duduk menghadap isteri nya lalu memeluk Elna sambil menangis.
__ADS_1
" Ma'af kan mas dek. Mas bukan imam yang baik untuk Elna" ujar nya
Elna binggung dengan sikap suami nya. Dia melepaskan pelukan suami nya lalu menatap nya dalam.
" Mas kenapa mas bilang begitu? mas suami yang baik kok. Mas suami yang baik dan bertanggung jawab " ujar Elna
"Elna mencintai mas itu apa ada nya mas bukan karena apa -apa nya. Mas jangan pernah bilang seperti itu lagi ya " ujar Elna
"Mas bukan laki-laki yang sempurna dek. Mas bukan laki-laki yang baik bahkan sekedar menjadi imam sholat Elna saja mas.
Kata-kata Fahrizi terhenti karena Elna meletakkan jari telunjuk nya di bibir Fahrizi.
"Mas..., tidak ada mahkluk Allah itu yang sempurna. Bahkan malaikat saja mempunyai kekurangan. Apa lagi kita yang hanya manusia biasa. Jadi mas tidak boleh lagi bilang kalau mas itu tidak sempurna.
Mas...., Sempurna kok. Mas mempunyai apa yang orang lain belum tentu punya. " ujar Elna.
"Kamu benar dek. Mas mempunyai yang belum tentu orang lain punya. Yaitu isteri seperti adek " ujar nya sambil mengenggam dan mencium tangan Elna.
Elna tersenyum lalu memeluk suami nya.
"Mas kita jalan - jalan sore yuk. Dah lama kita nggak jalan-jalan berdua " ujar Elna.
" Iya sayang! Mas cuci muka dulu ya. Adek juga siap-siap dulu masak jalan-jalan nya dengan daster" ujar Fahrizi.
" Elna pun mencari baju yang pas untuk di kenakan nya. Dalam keadaan bebadan dua seperti sekarang dia agak kesulitan untuk mencari baju yang pas.
Akhirnya pilihan Elna jatuh pada sweter rajut warna putih susu dan celana kusus untuk ibu hamil pemberian Dinda beberapa hari yang lalu.
Rambut nya di ikat ekor kuda. Elna kelihatan begitu cantik walau pun sedang berbadan dua.
Fahrizi keluar dari kamar mandi menatap isteri nya tanpa berkedip.
"Mas kenapa bengong? tanya Elna
Pertanyaan Elna membuyarkan lamunan Fahrizi.
__ADS_1
Melihat leher jenjang isteri nya membuat jiwa lelaki Fahrizi bangun.
Jejak dong supaya author semangat