
"Umi apaan sih mi " ujar Rian
"Nggak usah malu. Kamu itu udah Dewasa ian saat nya kamu mencari pendamping " ujar Umi.
"Iya tapi nggak sama anak SMA juga kali mi" ujar Rian.
"Emang kenapa kalau SMA? udah mau lulus kan? tanya Umi
"Iya sih kayak nya. Lagi magang mi anak nya " jawab Rian.
"Iya udah kalau dia mau nggak apa-apa. Kuliah kan bisa setelah menikah " lanjut Umi.
"Ribet mi nanti. Punya baby terus mau kuliah. Aku nya kerja. Siapa yang urus baby nya" ujar Rian.
"Kan ada Umi. Oma nya yang akan urus " ujar Umi.
"Udah deh mi. Lagi pula belum tentu dia mau sama Rian " ujar Rian.
"Iya usaha dong biar dia mau "ujar Umi.
"Tahu deh mi. Lihat nanti aja " jawab Rian.
"Kalau seperti ini terus kamu itu akan lapukkan iaaan " ujar Umi.
"Umi. Rian keluar dulu ya cari angin " ujar Rian.
"Iya. tapi jangan terlalu malam pulang nya " ujar Umi.
"Oke mi. Assalammu'alaikum..., " ujar Rian
"Wa'alaikumsalam..., jawab Umi.
Rian melajukan mobil nya menuju sebuah caffe. Dia berniat untuk bersantai sejenak.
Di rumah sakit
"Dinda kok belum kembali ya Kak. udah malam ini "Ujar mama Maryam
"Mungkin bentar lagi Ma "ujar Fahrizi.
Tidak lama kemudian Dinda pun datang.
"Dek kemana aja sih. Mama khawatir tahu " ujar mama.
"Dinda ke supermarket Ma. Dinda cari camilan " jawab Dinda.
"Kak tebak tadi Dinda ketemu siapa di supermarket? ujar Dinda
"Ketemu siapa dek? tanya Elna penasaran.
"Dinda ketemu Aisyah kak " ujar Dinda.
"Oh ya " jawab Elna antusias
__ADS_1
"Iya Kak. Tadi Dinda tawarin main ke rumah Kak Elna. tapi kata Aish nanti kalau libur.
"Gitu ya "ujar Elna lemas.
"Kak ini Dinda beliin cemilan kesukaan kakak " ujar Dinda.
"Makasih ya dek " ujar Elna.
"Sama-sama kak" jawab Dinda.
Setelah ngobrol dan makan camilan nya Dinda dan Elna sama - sama tertidur. Dinda tertidur di samping Elna. Sementara Fahrizi di sofa. Mama lebih memilih mengelar kasur angin milik Dinda.
Ke Esokkan hari nya. Pagi-pagi sekali Elna sudah bangun. Elna sudah nggak sabar untuk pulang.
Dinda masih setia memeluk tady bear nya. Dingin nya cuaca subuh membuat siapa saja betah bersama selimut nya.
Elna turun perlahan dari ranjang nya. Elna ke kamar mandi karena dia ingin buang air kecil. Tapi dia sedikit kesusahan membawa tiang infus nya.
Tiba-tiba ada tangan yang menggenggam tangan nya yang memegang tiang infus. Elna menoleh ternyata itu tangan suami nya Fahrizi.
"Adek kenapa tidak membangun mas kalau mau ke kamar mandi " ujar Fahrizi.
"Elna nggak enak. Mas tidur nya pulas banget" jawab Elna.
"Sayang kenapa mesti nggak enak. Mas ini suami nya adek. Jadi sudah ke wajiban mas merawat adek " ujar Fahrizi.
"Iya mas. makasih ya " ujar Elna.
"Iya. jangan membuat mas khawatir sayang. Mas nggak mau terjadi apa-apa sama adek " ujar Fahrizi.
"Nggak perlu minta ma'af sayang. Ya udah yuk ke kamar mandi " ajak Fahrizi.
Mereka pun ke kamar mandi. Setelah dari kamar mandi Fahrizi membangunkan mama Maryam dan Dinda untuk melaksanakan sholat subuh berjama'ah.
Selesai sholat subuh Fahrizi mengajak Elna berjalan keluar kamar untuk mencari udara segar. Sementara mama dan Dinda mencari sarapan keluar rumah sakit.
Pukul 08.00 wib Pagi Dokter Anton kembali memeriksa Elna.
"Selamat pagi Semua "sapa dokter Anton.
"Pagi Dokter! jawab mereka kompak.
"Waah bu Elna makin kelihatan segar ya. Bagaimana apa ada keluhan? tanya Dokter Anton.
"Nggak ada dok " jawab Elna.
"Oke. Kalau begitu kita lepas infus nya ya. tapi jangan lupa 1 minggu sekali ibu harus melakukan terapi dan datang kembali ke sini " jelas dokter Anton.
"Baik dok. Terima kasih " ujar Elna
"Terima kasih banyak dokter telah merawat isteri saya " ujar Fahrizi.
"Sama-sama Pak, Bu. Ini sudah menjadi tugas saya " ujar dokter Anton.
__ADS_1
Mama yang sedang beres-beres ikut bicara.
"Tetap saja kami berterima kasih dokter. Karena dokter telah merawat nak Elna dengan baik dan sabar " ujar mama.
"Sama-sama Bu" jawab dokter Anton.
Di Rumah Sakit lain
"Ian kapan umi boleh pulang? Umi bosan di rumah sakit " ujar Umi.
"Kita tunggu apa kata dokter siang ini ya mi. Kalau kata dokter Umi boleh pulang baru kita pulang " jawab Rian.
"Ian nanti kalau Umi sudah sehat dan pulang ke rumah. Umi ingin kamu bawa Aisyah pada Umi " ujar Umi.
"Umi jangan aneh - aneh deh. Rian kan baru bertemu Aisyah satu kali. Gimana cara nya bawa Aisyah ke Umi " jawab Rian
"Umi nggak mau tahu. Pokok nya kamu harus bawa Aisyah pada Umi. Kalau nggak lebih baik Umi sakit terus aja " ujar Umi sambil cemberut.
"Umi jangan gitu dong. Kalau Umi sakit Rian sedih kepikiran Umi terus. Nanti makin cepat tua ni anak Umi " ujar Rian.
"Maka nya bawa Aisyah ke Umi " ujar Umi lagi.
"Iya nanti Rian usaha kan " jawab Rian.
"Gitu dong baru anak Umi " ujar Umi sambil tersenyum.
Di Kediaman Fahrizi dan Elna
Bibi Wati asisten rumah tangga Fahrizi dan Elna telah bersiap - siap untuk menyambut ke pulangan majikan nya.
Bi Wati memasak beberapa macam masakan dan juga membuatkan puding kesukaan Fahrizi. Ya walau pun tidak seenak buatan Elna.
Semua menyambut hangat ke pulangan Elna kerumah. Para tetangga dekat dan ibu RT pun ikut menyambut nya. Robby yang menjemput mereka di rumah sakit.
Sesampai nya di rumah Elna sudah di tunggu oleh semua orang. Mereka sangat senang Elna sudah pulih kembali. Dari pagi hingga malam hari tamu datang sili berganti. Mulai dari tetangga sampai rekan bisnis nya Fahrizi.
Malam hari nya saat mereka mau beristirahat tiba-tiba ponsel Fahrizi berdering. Fahrizi sempat cemas kalau itu Selly atau keluarga nya. Tapi ternyata bukan. Yang menelepon adalah Rian.
Rian : Assalammu'alaikum..., bro.
Fahrizi : Wa'alaikumsalam...., bro.
Rian :Ma'af bro gue belum bisa datang karena Umi juga masih di rumah sakit.
Fahrizi : Umi sakit apa bro? kok loh nggak ngasih tahu Umi masuk rumah sakit.
Rian : Biasa bro asam lambung Umi kambuh. Gue nggak enak bro. Karena isteri loh juga di rumah sakit.
Fahrizi : Ya semoga Umi cepat sembuh ya bro. salam buat Umi.
Rian : Oke bro. akan gue sampaikan ke Umi. Assalammu'alaikum...,
Fahrizi :Wa'alaikumsalam.
__ADS_1
"Kenapa Umi nya Rian mas? tanya Elna
"Umi nya Rian masuk rumah sakit dek. maka nya Rian belum bisa datang jenguk adek " ujar Fahrizi.