
Erik dan Della menyetujui permintaan Pak Andi. Mereka telah bersiap untuk pergi ke Desa. Ia tak mengeluh dalam hatinya merasa bahagia melihat senyum Della mengembang saat bercerita pada ibu Indah di ruang keluarga.
"Sudah siap?" Tanya pak Andi menghampiri istrinya di ruang keluarga.
"Sudah, Pa."
"Oleh-olehnya jangan sampai ketinggalan." Kata Pak Andi membantu Erik membawa barang bawaan mereka.
Jarak tempuh ke desa itu dengan kota keberadaan Della dan Erik saat ini hanya dua jam. Perjalanan mereka cukup santai karena Erik tidak buru-buru. Sesekali ia melirik Della yang terlelap di kursi belakang bersama ibu Indah. Hal itu tak lepas dari pengawasan pak Andi. Beliau sangat yakin jika pria di sampingnya ini memiliki perasaan khusus untuk keponakannya.
"Nak, Erik terimakasih atas semuanya."
Erik tersenyum tipis.
"Sama-sama paman, saya senang jika Della bisa bertemu dengan keluarganya lagi." Ucapnya sembari menoleh pada pak Andi.
Dua jam di perjalanan, mobil Erik memasuki pekarangan rumah milik Zevin di desa. Rencananya Ia akan mengajak pak Andi dan Istrinya beristirahat di rumah Zevin.
Ibu Weni tergopoh-gopoh ke luar saat mendengar suara mobil berhenti di halaman rumah tetangganya itu. Beliau melihat Erik keluar dari mobil dan melangkah ke rumahnya.
"Nak, Erik !" Sapanya tersenyum senang.
"Bu, Weni . Apa kabar?"
"Kabar ibu baik, Nak. Kamu datang sendiri?" Ibu Weni melihat ke arah mobil Erik.
"Bersama Della ah Feby dan paman serta bibi nya." Jawab Erik juga melihat ke arah mobilnya.
Raut wajah ibu Weni berubah sendu. Apakah waktunya Della berkumpul pada keluarganya lagi?
"Bawa mereka ke rumah ibu saja, Nak. Istirahat di sini..." suara ibu Weni terdengar sedih. Akankah wanita yang sudah seperti putrinya itu melupakannya nanti?
Erik memahami suasana hati ibu Weni lalu berkata. "Ibu tenang saja, dia akan tetap jadi putri ibu."
Ibu Weni melihat ke arah sepasang suami istri yang melangkah menghampirinya. Air mukanya berubah senang saat melihat sosok lain lagi yaitu Della. "Feby... Ibu merindukan mu, Nak !" Pekiknya berhamburan memeluk Della.
Della membalas pelukan ibu Weni.
__ADS_1
"Aku juga merindukan ayah dan ibu." Ucapnya lembut.
Pak Andi dan ibu Indah tersenyum melihat kasih sayang antara ibu Weni dan Della.
"Bu, perkenalkan saya Andi dan ini istri saya Indah." Pak Andi mengulurkan tangannya.
"Saya Weni. Ayo silahkan masuk ! Sebentar lagi suami saya juga pulang dari sawah." Ibu Weni membalas uluran tangan pak Andi dan ibu Indah.
"Terimakasih,Bu."
Mereka semua masuk ke dalam rumah ibu Weni. Della dan Erik baru selesai menurunkan barang-barang bawaan mereka dan membawanya masuk ke dalam rumah ibu Weni.
"Ibu ini oleh-oleh khas kota kami." Ibu Indah menyodorkan kardus berisi makanan.
"Terimakasih, Bu. Pak ! Harusnya tak perlu repot-repot." Ibu Weni menerima kardus itu.
"Ini tidak seberapa atas apa yang telah ibu bantu pada keponakan kami" ungkap Pak Andi
Ibu Weni terdiam ada sorot kesedihan di mata nya. "Dia sudah saya anggap sebagai putri saya." Ucapnya lemah.
Erik merasa tubuhnya lelah. Ia ingin beristirahat sejenak. "Paman, saya ke rumah sebelah dulu ya." Pamitnya.
"Nak, Erik jangan memasak atau makan di luar. Makan siang di sini saja." ibu Weni menyerahkan kunci rumah.
"Iya Bu saya permisi." Erik menerima kunci itu dan pergi ke rumah sebelah.
Keheningan kembali menyelimuti ruang tamu ibu Weni. Tak lama datanglah suami ibu Weni dari sawah.
"Ada tamu rupanya." U
"Iya, Yah. Mereka keluarga Feby dari kota." Jelas ibu Weni.
"Feby ? Di mana dia ? Ayah merindukannya." Suami ibu Weni mencari keberadaan Della.
"Di dapur, Yah. Sedang memasak makan siang. Mereka datang bersama, Nak Erik." Ibu Weni mengambil tempat bekal dari tangan suaminya.
"Baiklah, perkenalkan saya Joni."
__ADS_1
"Saya Andi dan ini istri saya Indah." Pak andi membalas menjabat tangan pak Joni.
Setelah berkenalan pak Joni membersihkan diri dulu dan menemui Della di dapur. Tak di pungkiri beliau juga merindukan putri angkat nya itu. Setelah memasak Della mengajak yang lainnya untuk makan siang. Tak lupa ia pergi ke rumah Erik untuk memanggil pria itu. Sejak bertemu dengan Della Erik mulai bersikap hangat dan banyak tersenyum.
Della mengetuk pintu rumah tetangganya itu. Namun, tidak ada sahutan dari dalam sana. Tanpa sengaja tangannya sedikit mendorong pintu rumah Erik. Della tersentak pintunya tidak terkunci.
Della memutuskan untuk masuk sembari memanggil nama Erik. "Erik... Erik....ayo makan siang" Panggilnya sembari melangkah masuk.
Langkah Della terhenti, saat melihat sosok yang tengah terlelap di atas sofa ruang tamu. Erik tertidur dengan jaket masih melekat di tubuhnya. Tak hanya itu sepatunya pun masih terpasang di kakinya. Della menatapnya sedih dan merasa bersalah. Demi dirinya Erik rela lelah seperti ini.
Della duduk mensejajarkan tubuhnya dengan sofa yang di tiduri Erik. Tangannya terangkat menyentuh poni-poni Erik yang berantakan. Nampak sekali pria ini sangat lelah.
"Kenapa kamu sampai sejauh ini membantu ku? Siapa kamu di masa laluku? Jujur saat pertama kali kamu memelukku hawa tubuh mu seperti tidak asing padaku. Aku merasa aman dan nyaman saat bersama mu. Aku pernah merasakan hal semacam ini tapi entah kapan dan dimana? Apa mungkin kamu juga yang memberikan rasa ini di masa laluku ? Maaf jika aku melupakan mu saat ini, tapi jauh dalam lubuk hatiku. Aku merasa senang selalu bersama mu. Tidurlah lepaskan lelah mu." Gumam Della pelan. Ia berdiri dan kembali ke rumah sebelah.
Erik membuka perlahan matanya. Ia mendengarkan semua perkataan Della. Erik bangun saat Della memanggil namanya, namun ia enggan untuk membuka mata.
Terimakasih walau kamu belum mengingat ku, tapi setidaknya ada perasaan yang membekas di lubuk hatimu. Della... Kamu wanita pertama yang mengerti aku selain kakak ku. Kamu wanita yang selalu mendukung ku dalam keadaan apa pun, dalam pertemuan satu tahun itu kamu banyak memberi ku kenangan yang manis. Aku yang selalu berada di depan mu saat orang lain mencoba mengganggu mu. Aku yang memeluk mu saat kamu bertengkar dengan teman satu kost mu
Di rumah ibu Weni mereka baru saja selesai makan siang. Pak Joni merasa senang dengan sikap hangat dan ramah dari pak Andi dan ibu Indah.
"Maaf merepotkan bapak dan ibu." Ujar ibu Indah.
"Jangan sungkan, Bu. Kita bukan orang lain ada Feby di tengah-tengah kita." ibu Weni tersenyum hangat.
"Ibu benar." Balas Ibu Indah membantu membersihkan meja makan.
"Nak, Erik ayo makan dulu." Ibu Weni meminta Della menyiapkan makan siang untuk Erik.
Jam terus berdetak hingga tanpa terasa sudah dua jam berlalu. Semua orang duduk di ruang tamu. Termasuk Erik dan Della yang duduk bersebelahan. Jika dilihat mereka seperti mau acara lamaran saja.
"Pak Joni, ibu Weni. Terimakasih karena sudah menolong dan menerima keponakan kami selama ini. Dalam tiga tahun terakhir kami dirudung kesedihan karena mengira Della benar-benar telah meninggal." Tutur pak Andi.
"Jadi nama aslinya Della? " Tanya pak Joni.
"Iya Pak. Namanya Della kami membawa semua berkas tentang dirinya." Sahut ibu Indah. Sembari mengeluarkan beberapa dokumen tentang Della.
"Kami sangat senang saat menemukan Della. Di hari itu kami kehilangan kontak dengan putri kami sampai saat ini. Kami tidak tahu keberadaannya." Cerita ibu Weni. Ia menitikkan air matanya saat mengingat sang putri yang entah di mana saat ini.
__ADS_1
Ibu Indah menyentuh punggung tangan ibu Weni dan berkata. "Kami turut sedih, Bu. Tentang hilangnya putri ibu. Tapi bisakah ? Bapak atau ibu menceritakan bagaimana bisa menemukan Della?"