
Rembulan bersinar dengan terang malam ini, semilir angin meniup lembut rambut panjang Maura yang tergerai indah. Hingga Aryan tak berkedip melihatnya. Sungguh cantik pikirnya. Andai dirinya memiliki banyak waktu, pasti sangat bahagia.
"Maura, di dalam penjara aku selalu memimpikan mu dan merindukan mu. Aku bahagia diwaktu yang sempit ini bisa bersama mu. Terimakasih..." Aryan tersenyum menatap Maura.
"Hiduplah dengan baik, Aryan. Kita bisa berteman mulai sekarang, semua manusia bisa melakukan dosa. Syukurlah kamu menyadarinya dengan cepat atas kesalahan mu itu." Maura meraih kaleng bir di atas meja. Kini mereka berdua duduk di atas rooftop Villa.
Aryan bersandar di kursi memandang langit malam. Hembusan angin begitu terasa dingin, hingga ia merasa mengantuk. "Maura, masuklah ! sudah malam, kamu sudah menghabiskan berapa kaleng bir." Serunya sambil terpejam.
"Kamu juga masuk, tidak baik tidur disini." Maura berdiri dan membuang kaleng kosong ketempat sampah.
...----------------...
__ADS_1
Erik kembali menginap di apartemen, ia baru saja selesai membersihkan tubuhnya, Erik pulang agak malam karena harus mencari tahu siapa di balik pembebasan Aryan. Kini ia tengah duduk berhadapan dengan laptopnya.
Sebelum naik ke lantai unitnya, Erik di panggil security . Pria paru baya itu memberikan sebuah amplop lagi. Erik teringat kemudian mengambil amplop itu di saku long coat blazer nya. Ia membuka selembaran kertas di dalamnya.
'Maura baik-baik saja. Dirinya juga sehat, makan dan minumnya normal. Sebentar lagi kalian akan berkumpul'
Erik mengusap wajahnya tertunduk memikirkan isi surat itu. Siapa laki-laki ini ? kenapa masih mau mengabari keadaan Maura, tanpa berniat mengantarkannya pulang.
"Benar kata Jo, pria itu tidak membawanya jauh." Gumam Erik merebahkan tubuhnya karena terasa lelah.
...----------------...
__ADS_1
"Selamat lagi,Tuan." Sapa Haris berdiri dari tempatnya duduk.
"Selamat pagi, kalian berdua masuklah." Zevin melangkah membuka pintu ruangannya dan mempersilahkan Erik dan Haris duduk di sofa. "Apa yang ingin kamu sampaikan?" Tanya Zevin serius dengan arah mata tertuju pada Erik.
"Aku menemukan orang itu." Papar Erik menghidupkan laptopnya. "Dengan sedikit gertakan, aku mendapatkan rekaman CCTV disana saat pembebasan Aryan. Dia adalah Wildan Renaldi yang pernah mengajak pak Reza bekerja sama. Hingga berakhir di penjara karena perencanaan pembunuhan terhadap kakak." Jelas Erik menyodorkan laptop agar Zevin melihat rekamannya.
"Wildan masih bekerja sama dengan cabang Jaya Group tuan, yang di pegang oleh papa Anda." Seru Haris membuka tabletnya
"Informasi dari koneksi kita, Aryan tidak ikut Wildan ke luar negeri. Mereka berpisah di bandara." Seru Erik menambahkan informasi.
"Undang Wildan untuk datang. Apa motifnya membantu Aryan ? apa dia tahu jika pria itu aku yang melaporkannya ? Kalau memang dia semata-semata hanya membantu tanpa niat lain maka berikan peringatan saja. Tapi jika memang dia ingin berperang makan hancurkan mereka. Saatnya menggunakan kekuasaan mu Erik !" Papar Zevin tegas.
__ADS_1
Erik mengangguk faham atas apa yang diperintahkan Zevin. Kini ia tahu lawannya tidak mudah, namun Erik belum tahu motif penculikan kekasihnya. Laki-laki ini menghembus nafas panjang merasakan pundi-pundi rindunya semakin banyak.
🌷 Menuju Ending 🌷