Gadis Pilihan Asisten Dingin

Gadis Pilihan Asisten Dingin
Tentang Kenangan


__ADS_3

Beberapa hari berlalu setelah pertemuan Della dan Maura, hubungan mereka semakin akrab seperti sebelumnya. Della juga tidak lagi canggung terhadap Maura. Kenangan demi kenangan berseliweran di kepala Maura. Bagaimana setianya, Della mendukungnya dalam segala keinginannya. Dan semangat Maura yang tak pernah surut untuk menjadi lebih baik.


Mereka menjalani hari-hari dengan suka dan duka sebagai anak perantau menuntut ilmu. Kadang menangis bersama dan juga tertawa tanpa alasan. Maura tak menyangka beberapa hari kemarin kembali bertemu dengan Della yang disangkanya telah tiada.


Ketika istirahat siang mereka berdua kerap kali makan siang bersama. Untuk sejenak Maura melupakan perasaannya pada Erik. Fokusnya hanya bekerja dengan baik dan berusaha membantu Della untuk mengingat kembali. Meski sudah tiga tahun lamanya, semoga saja alam dan Tuhan berpihak pada mereka hingga Della bisa mengingat kembali.


...----------------...


Waktu tanpa terasa bergulir dari detik ke menit, satu persatu pegawai kantor Jewelry Corporation sudah meninggalkan kantor. Begitu juga dengan Della dan Maura. Hari ini mereka berdua ada janji bersama dua laki-laki yang akan menemani mereka berkunjung ke kampus tempat  menimba ilmu beberapa tahun lalu.


Della bersabar menunggu Maura menyelesaikan pekerjaannya terlebih dulu.


"Selesai." Maura menghela nafas panjang. Ia senang karena pekerjaannya selesai tepat waktu.


"Kalian siap ? Erik sudah menunggu di bawah." Suara Dias mengalihkan perhatian Della dan Maura.


"Siap, Pak." Balas Della tersenyum. Ia sangat senang karena Maura begitu antusias membantunya untuk mengingat kembali.


Dias gelagapan merasakan jantungnya kembali berdetak lebih cepat.


"Kalau begitu a—ayo kita turun." Ucapnya melangkah lebih dulu, karena tidak ingin Della maupun Maura melihat kegugupannya.


Dias tak mengerti setelah pertemuannya dengan Della, ia begitu tersiksa dengan penyakit barunya yang berdebar tiba-tiba jika bersama Della. Dias semakin tak mengerti kenapa rasa itu tak dirasakannya lagi saat bersama Maura. Bukankah ? Dias menyukai wanita itu, perasaan apa selama ini yang ia pendam pada Maura?


Di depan kantor, Erik berdiri dan bersandar di mobilnya sembari memegang ponsel. Pria ini tak pernah mengenakan jas layaknya asisten kantoran. Erik hanya mengenakan kemeja berlengan panjang serta celana kain. Terkadang bagian lengannya di gulung hingga ke sikut.


Tampilan rambut di belah tengah membuat  poninya jatuh ke samping kiri dan kanannya. Gaya Erik seperti itu memberikan kesan imut padanya. Jantung Maura berdetak lebih cepat saat melihat sosok pria yang dicintainya itu berdiri di sisi mobil. Bibir yang kemerahan, kulit putih dan bersih sangat menambah pesona laki-laki ini.


"Kamu sudah lama menunggu ?" Pertanyaan Della untuk Erik membangunkan Maura dari lamunannya.


Erik mengangkat kepalanya. Tatapannya tertuju pada Maura yang berdiri sedikit jauh dari Dias dan Della. "Tidak juga, ayo masuk !" Ajaknya membuka pintu mobil dan mempersilahkan Della masuk.


Dias merasa tak rela saat Della masuk ke dalam mobil Erik. Ia berpaling menghadap Maura di belakangnya. Dias dapat melihat tatapan sendu dari netra Maura walau bibirnya tersenyum. Dias tak ingin gegabah, ia harus memastikan hatinya terlebih dulu. Ia tak ingin seperti benang kusut tak tahu ujung nya.


"Maura, Kamu ikut dengan ku." Seru Dias setelah security menyerahkan kunci mobilnya.


Maura menoleh pada Dias dan berkata


"Baiklah." Ia segera membuka pintu mobil sebelah Dias.


Dua buah mobil itu melaju bergabung dengan pengguna jalan lain nya. Musik genre ballad menemani empat anak manusia yang duduk di dalamnya. Mereka tak ada yang bicara, tenggelam dalam pemikiran nya masing - masing. Menempuh perjalanan selama empat puluh menit. Mereka memasuki halaman kampus yang memberikan banyak kenangan. Khususnya untuk Maura dan Della.


Erik menatap sendu, bangunan yang berdiri kokoh di hadapannya kini. Tak menyangka hari ini, ia menginjakkan kaki lagi ke sana. Bangku kuliah yang dulu sempat di dudukinya hanya satu tahun, tapi memberikannya kenangan yang tak terlupakan sampai saat ini.


Hal sama juga di rasakan Maura, bola mata nya memerah dan berkaca. Saat mengingat awal dirinya melihat sesosok pria yang menjadikan dirinya harus berubah demi mendapatkannya. Namun, sesaat kemudian senyum pahit terukir di bibirnya. Pria yang di impikannya sejak lama, kini berada di hadapannya. Namun sayang tak dapat ia di rengkuh


Maura menengadahkan wajahnya ke langit berusaha membatalkan telaga air yang hampir saja tumpah di wajahnya. Dias berdiri di sisinya seakan mengerti perasaan Maura. Meski pun, ia tak tahu ceritanya. Namun Dias bisa menerka ada kesedihan, kebahagiaan serta kekecewaan yang tersimpan di balik kokohnya gerbang universitas ini. Melihat air muka Maura dan Erik nampak sekali jika semuanya begitu mempengaruhi mereka berdua.


Maura berhasil menekan perasaannya dan kembali tersenyum. Terlebih tepukan tangan Dias di pundaknya, seolah memberikannya dukungan untuk tetap kuat. Sakit memang saat perjuangan sekian lama gagal begitu saja. Cinta yang besar dimilikinya tak mampu membuat pria itu menjadi miliknya. Maura menyentuh dadanya sendiri ketika rasa sakit itu kembali datang tiba-tiba.

__ADS_1


Della yang belum mengingat apa-apa hanya diam memperhatikan reaksi Maura dan Erik. Tanpa mereka sadari Della merasakan perasaan yang aneh saat menginjakkan kakinya ke tempat itu. Ia juga berusaha mengingat kenangan apa saja yang dilupakannya .


Maura kembali mampu meredam perasaannya, senyum manis melengkung indah di bibirnya saat matanya tak sengaja terarah pada sebuah bangku yang tak jauh dari mereka.


"Della, bagaimana perasaan mu ?" Tanyanya lembut.


Della menarik nafas panjang sebelum menjawab. " Aku tidak mengingat apa pun. Hanya saja aku merasa tenang di sini." Ungkapnya pelan dan menunduk. Raut kesedihan terlihat di wajahnya.


Erik melangkah menghampiri Della dan berkata. "Jangan dipaksakan mengingatnya. Perlahan saja ya...andai pun kamu tidak bisa mengingatnya lagi, maka jangan bersedih."


Della mengangguk." Iya aku mengerti." Ucapnya sembari tersenyum semangat.


Maura tersenyum tipis mendengar kalimat lembut terlahir dari bibir Erik. Sesak rasanya, tapi apa boleh buat. Maura tak mau egois biarkan waktu yang menjawabnya. " Della kamu ingat bangku itu ? " Menunjuk kursi dan menggiring Della untuk duduk. "Di kursi ini aku dan kamu duduk menghadap gerbang masuk untuk melihat para mahasiswa baru berdatangan." Mata Maura menerawang ke arah pintu gerbang.


Della mengikuti arah pandang Maura begitu juga dengan Dias dan Erik. Mata Della lurus ke depan melihat kendaraan yang keluar masuk ke tempat itu. Karena masih ada mahasiswa yang masuk kelas. "Apa aku pernah duduk di sini?" Tanyanya lirih dengan bola matanya berkaca-kaca sedih.


Maura mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya" Ya, kita berdua." Ia menghela nafas panjang. " Di sini pula aku pertama kali melihat wajah yang membuat ku selalu bersemangat menjalani hari-hari ku. Ketika melihatnya pertama kali di saat itu juga aku bertekad merubah gaya hidup ku yang berantakan." Maura tersenyum mengingat kegilaannya waktu itu.


Erik melemparkan pandangannya pada Maura. Wajah cantik, hidung mancung tanpa polesan make up yang berlebihan. Namun, ada tatapan kesedihan yang mendalam dalam manik matanya. Erik juga melihat pada Della, wajah manis dan terkesan dewasa serta lembut. Tapi ada tatapan kehampaan di dalam bola matanya.


...----------------...


Kilas Balik.


Beberapa tahun lalu...


Della dan Maura baru saja lulus SMA, mereka masuk di universitas yang sama. Hanya berbeda jurusan. Pagi itu Maura dan Della datang bersamaan sangat pagi sekali takut terlambat mengikuti ospek. Sambil menunggu waktu dan teman-teman baru di kampus itu sebelum berpisah nantinya. Della dan Maura duduk di salah satu bangku menghadap ke arah gerbang


Maura merasakan debaran aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Wanita berbobot besar ini terkagum tak berkedip melihat mahkluk ciptaan Tuhan itu. Bibirnya tersenyum ketika pria itu  menyapa temannya yang lain.


"Dell, kamu lihat dia " tunjuk Maura pada laki-laki  itu dengan sorot matanya.


Della mengikuti arah pandang  Maura dan berkata." Dia mahasiswa baru juga, sepertinya satu jurusan dengan ku."


Maura menoleh pada Della.


"Benarkah ?!  Lihat, dia sangat tampan matanya begitu tajam. Nanti jika kamu sudah berkenalan dengannya, kenalkan aku juga ya..." Maura nampak senang dan berbinar.


"Iya, pasti akan ku kenalkan jika dia ramah. Kalau tidak aku juga takut mendekatinya  hanya untuk berkenalan. Lihat sorot matanya dingin sekali." Tutur Della.


Maura tiba-tiba menunduk lalu melihat bungkus cemilan di tangannya. Tak hanya itu ia juga melihat tubuhnya ke kiri dan ke kanan lalu melihat ke pada pria tadi. " Della, aku ingin cantik !" Serunya menatap serius pada Della.


Della tersentak atas keinginan tiba-tiba sahabatnya itu. "Kamu sudah cantik Maura..." Ujarnya jujur apa adanya.


Maura mendesah pelan." Aku ingin memiliki tubuh seperti mu. Lihat tubuhku sangat jelek sekali. Aku menyukai pria itu Dell, Kalau aku cantik pasti dia mau berteman dengan ku." Ucapnya malu-malu. Rona merah tercetak jelas di pipi Maura.


Della tertawa dan berkata. " Impian yang bagus, baiklah... Kita akan atur jadwal agar kamu mulai program diet, tapi kita harus konsultasi ke ahli gizi dulu sebelum memulainya. Agar tahu makanan apa saja yang bisa kamu konsumsi saat program diet nanti. Harus semangat ya..."


Maura memeluk Della dari samping. "Terimakasih... Baiklah setelah selesai kita ospek dan mulai aktif kuliah. Aku akan memberitahu mu kapan kita menemui ahli gizi untuk berkonsultasi." Ucapnya senang. Pandangannya tertuju kembali pada pria tadi.

__ADS_1


Kilas Balik Selesai


...----------------...


Dias dan Erik terdiam mendengar cerita Maura. Tentang dirinya yang ingin langsing hanya karena ingin dekat dengan seorang pria tampan.


"Memang nya berat badan mu berapa waktu itu ?" Tanya Dias penasaran.


Maura terkekeh pelan mengingat berat badannya kala itu " tujuh  puluh kilogram" ucapnya pelan.


Dias dan Erik sama-sama menoleh pada Maura menatap seakan tak percaya.


" Kamu yakin ?"Tanya Erik.


"Iya... Aku diet untuk menurunkan berat badan ku, sekarang tinggal empat puluh delapan kilogram" jawab Maura bangga.


Erik teringat kembali cerita Maura tentang pria yang memicunya untuk berubah." Ehm, siapa pria yang membuat mu ingin kurus dan berniat merubah pola hidup mu menjadi lebih baik itu ?" Tanyanya pelan


Maura menatap lekat netra Erik." Itu Rahasia tuan." Ia tersenyum karena Erik membuang pandangannya. Ia malu mengatakan nama pria itu.


Della mengamati lingkungan sekitar, berharap ada setitik ingatan yang hadir di memori nya. Namun sia-sia Della hanya bisa menghela nafas panjang.


"Sudah senja ayo kita pulang." Manik mata Dias tak sengaja melihat sehelai daun terselip di rambut Della. Tangannya terulur mengambil daun itu. Aksi Dias membuat rona merah di pipi Della.


Melihat hal itu Erik segera menarik tangan Della agar berdiri dari tempat nya duduk dan berkata. " Ayo kita pulang."


Perasaan Maura rasa di remas saat jari mungil Della berada di genggaman Erik. Ia kembali tersenyum tipis. "Sepertinya, aku naik taksi saja. Karena akan mampir ke supermarket dulu." Ucapnya mencoba menghindar dari situasi itu membawa kesedihan hatinya.


"Pulang dengan ku. Kemana saja kamu akan ku antar." Seru Dias juga menarik tangan Maura.


"Tapi rumah kita tak searah Dias, kamu bisa kemalaman sampai di rumah."


"Tidak masalah, ayo ! Erik hati-hati di jalan pastikan Della sampai ke apartemennya." Tak sengaja Dias menunjukkan perhatiannya.


"Sampai jumpa besok Della." Pamit Maura melambaikan tangan pada Della.


"Iya... Setelah dari supermarket langsung pulang ya..." Balas Della manis.


Mereka sama-sama meninggalkan tempat itu. Di dalam mobil Erik melirik sejenak pada Della. "Apa ada yang kamu rasakan ?" Tanyanya lembut.


Della menggeleng." Tidak ada, aku baik-baik saja."


"Jika merasakan sakit atau hal lainnya segera hubungi aku." Kata Erik di balas anggukan kecil dari Della.


Sementara di mobil Dias tidak ada pembicaraannya pada Maura. Kini Dias mengerti perasaan yang sempat singgah pada wanita ini bukan cinta melainkan rasa kagum pada sosok Maura.


Dias melirik dari sudut matanya terlihat Maura termenung dengan tatapan kosong terlempar di luar jendela.


Maura... Aku akan jadi penyembuh hati mu yang terluka, tapi bukan berperan sebagai kekasih mu. Aku akan ada dan menyembuhkan luka mu sebagai teman mu. Semoga cinta mu berlabuh pada orang yang tepat dan tidak berakhir dalam penantian dan perjuangan tak berbalas.

__ADS_1


Dias menoleh sekilas pada Maura yang terpaku menatap deretan bangunan pinggir jalan.


__ADS_2